
Nama : YUWONO KOLOPAKING
Lahir : Banjarnegara, Jawa Tengah, 12 Februari 1935
Agama : Islam
Pendidikan : -SDN, Banjarnegara (1948)
-SMP III, Yogyakarta (1952)
-SMAN-4, Yogyakarta (1955)
-ITB, Bandung (1960, lulus)
-SESPPUTL Angkatan VII, Departemen PUTL, Jakarta (1976)
Karir : -Jawatan Jalan-Jalan & Jembatan, Bagian Butas, Bandung (1957-1960)
-Direktur Niaga Perusahaan Aspal Negara, Bandung (1960-1965)
-Kepala PU UNTEA, Irian Barat (1962-1963)
-Kepala PU Kementerian PU, Irian Barat (1963-1965)
-Dirut PT Perusahaan Aspal Negara, Jakarta (1965-1978)
-Dirut PT Jasa Marga (1978-sekarang)
Kegiatan Lain : Pengurus Perbakin (1974-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Radio V No. 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 774566
Alamat Kantor : PT Jasa Marga Toll Plaza Taman Mini Indonesia Indah, Jalan Jagorawi, Jakarta Timur Telp: 800301
|
|
YUWONO KOLOPAKING
Untuk petugas di gerbang-gerbang jalan dan jembatan tol, PT Jasa Marga juga merekrut gadis-gadis. Syaratnya belum menikah, tinggi minimal 155 cm, berbadan sehat, dan . manis. "Cewek cakep 'kan cepat menikah," gurau Yuwono Kolopaking. "Itu berarti, saya menciptakan lapangan kerja baru bagi gadis-gadis cakep lainnya."
Didirikan pada 1978, PT Jasa Marga (persero) bertugas membangun dan mengelola sekitar 10 jalan dan jembatan tol di seluruh Indonesia, antara lain: Citarum, Tallo Lama, Wonokromo, Kapuas, dan Jagorawi. Yuwono menjadi dirut perusahaan tersebut sejak awal berdirinya.
Pak Joe -- begitu panggilan akrab ahli jalan raya lulusan ITB itu -- berperawakan tinggi besar. Ayahnya, yang berputra delapan, adalah pegawai biasa pengadilan di Banjarnegara, Jawa Tengah, tempat Joe, si anak kedua, dilahirkan. Nama Kolopaking, menurut dia, merupakan pemberian Sultan Agung kepada leluhurnya. Orang bilang, "kolopaking" berasal dari kata kolopo (kelapa) dan aking (kering). Biasanya kelapa kering banyak santannya -- maksudnya: banyak ilmunya.Menghimpunkan 1.611 karyawan, PT Jasa Marga pada Januari s/d Juni 1984 mencapai omset Rp 7.3 milyar. Yuwono mengaku, tidak ada pengaruh resesi ekonomi terhadap pendapatan perusahaannya. Ini bisa dilihat dari laba bersih per 1982 sebesar Rp 1,5 milyar yang melesat menjadi Rp 4,7 milyar pada 1983, sedangkan paruh pertama 1984 (Januari sampai Juni) mencapai Rp 2 milyar. Tetapi, kata Yuwono, yang rajin turun ke lapangan ini, "Tol 'kan prasarana sosial, jadi jangan terlalu dilihat dari aspek untung-ruginya." Walaupun tarif jalan tol dinaikkan, Yuwono masih menganggap memakai jalan bebas hambatan relatif lebih menguntungkan dibandingkan jalan umum yang macet. Ini dilihat dari segala sudut: biaya (nilai susut kendaraan dan bensin), waktu, bahkan segi keamanan. Ia berpendapat, tarif tol di Singapura, Jepang, dan negeri-negeri Eropa masih jauh lebih tinggi. Soalnya, memang, "Pendapatan per kapita kita masih rendah."
Menikah dengan Taty Fatmah, bekas Dirut Perusahaan Aspal Negara itu dianugerahi empat anak. Ia menggemari golf, senam, menembak -- dan turut memimpin organisasi menembak Perbakin. Ia juga sering memuaskan kegemarannya memancing dengan mengajak sejumlah anak buahnya.
|