
Nama : YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA
Lahir : Ambarawa, Jawa Tengah, 6 Mei 1929
Agama : Katolik
Pendidikan : -SD, Magelang (1943)
-SMP, Yogyakarta (1947)
-SMA, Malang (1951)
-Filsafat Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta (1959) ; Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat (1966)
-Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978)
Karir : -Tentara Pelajar, Semarang (1945-1951)
-Dosen luar biasa UGM, Yogyakarta (1967-sekarang)
-Arsitek bangunan Keuskupan Agung Semarang
-Kolumnis Indonesia Raya dan Kompas (sejak 1972)
-Novelis (sejak 1980)
-Pastor
Karya : Karya tulis penting:
-Ragawidya
-Fisika Bangunan
-Puntung-Puntung Roro Mendut, Gramedia
-Romo Rahadi, novel Pustaka Jaya
-Burung-Burung Manyar, novel, Jambatan
-Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa
Alamat Rumah : Jalan A.M. Sangaji 12, Yogyakarta Telp: 2142
Alamat Kantor : Wisma Salam, Magelang, Jawa Tengah
|
|
YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA
"Rumah saya seperti rumah dukun. Banyak orang berdatangan, untuk mengeluh atau minta saran," kata Romo Y.B. Mangunwijaya. Mereka yang berdatangan adalah para mahasiswa, dosen, atau para tetangga. Kediaman Romo Mangun berupa sebuah rumah panggung, berdinding gedek, terletak di lembah yang berhimpitan dengan jembatan Gondolayu, Yogyakarta.
Berdekatan dengan rumahnya terdapat sederetan rumah serupa, yang dihuni tunawisma, pemungut sampah, abang becak, dan anak- anak penyemir sepatu. Tempat tinggal "orang buangan" yang tertata rapi itu adalah hasil rancangan Romo Mangun -- arsitek lulusan Rheinisch -- Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat.
"Yang paling dibutuhkan oleh orang miskin adalah harga diri," katanya. "Untuk itu saya 'kan tidak perlu harus miskin. Saya tidak miskin, paling tidak dalam intelektual." Secara materi, ia juga tidak kurang: sebagai pastor, hidupnya tentu terjamin. Lebih dari itu, Romo Mangun anak sulung dari 12 bersaudara itu rajin menulis esei, artikel, dan novel. Karya novelnya antara lain: Burung-burung Manyar, Romo Rahadi, Roro Mendut, dan Ikan Ikan Hiu, Ido, Homa. Tentara Pelajar di zaman Kemerdekaan ini pernah menjadi pengantar makanan untuk Mayor Soeharto (kini Presiden RI) di front Mranggen, Semarang. Dan sebagai arsitek, ia pernah mendapat pesanan merancang Markas Kowilhan II. Sebelumnya, ia merancang bangunan gereja dan rumah. "Tapi tak lebih dari lima buah," katanya.
Pada 1951, Mas Isman almarhum, komandannya di TP, masuk Kota Yogya dan dielu-elukan. Romo, bersama beberapa pemuda lainnya, termasuk di deretan depan penyambut. Dalam pidatonya, Mas Isman mengatakan, "Jangan mengelu-elukan saya. Lebih baik perhatikan anak-anak muda ini, yang bisa berguna nantinya." Yang dimaksud adalah Bilyarta alias Romo Mangun muda bersama kawan-kawannya.
"Karena pidato itu, malamnya saya tidak bisa tidur," tutur Romo Mangun. Ia ingin berguna. Lalu, karena dia Katolik, dia memilih menjadi pastor. Ia memasuki pendidikan Filsafat Theologi Sancti Pauli Yogya. Kesempatannya mendalami bidang arsitektur ia dapatkan setelah menjadi pastor.
|