JIL Edisi Indonesia

Menuju Negara (Islam) Multikultural

Oleh Ariyanto

Belakangan ini banyak bermunculan peraturan yang bersumber dari teks suci keagamaan (baca: ‘’kebijakan syariah/hukum Islam’’). Umumnya, peraturan itu lebih menitikberatkan kepada perempuan sebagai objek hukum daripada subjek hukum. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebut ada 16 produk kebijakan yang membatasi ruang gerak, cara berpakaian dan perilaku perempuan dalam rangka kesusilaan dan moralitas.

19/06/2006 | Kolom | Komentar (7) #

Gus Dur, Al-Quran, dan Pornografi

Oleh M. Guntur Romli

Saat ini, kisah yang menimpa Gus Dur mirip cerita Abu Nawas. Tersiar desas-desus, Gus Dur mengatakan Al-Quran adalah kitab suci porno. Menurut kabar angin itu pula, pernyataan Gus Dur tersebut diucapkan sewaktu acara ”Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita -Radio (KBR) 68H, Jakarta, yang mengudara saban Sabtu. Kebetulan saya salah seorang pembawa acara tersebut. Karena tuduhan itu, Gus Dur diteror oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta (23 Mei 2006).

19/06/2006 | Kolom | Komentar (22) #

Premanisme dan NKRI

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Setiap kali melakukan aksi, mereka juga memekikkan “allahu akbar” dengan volume suara yang memantul. Mereka dengan sengaja menggunakan simbol-simbol agama untuk mengaburkan identitas bahwa dirinya bukan preman melainkan para pejuang agama.

15/06/2006 | Editorial | Komentar (19) #

Diskusi di Jember Khazanah Klasik Saja Tak Cukup

Oleh Andiono Putra

Al-Qur’an yang selalu mengandung pelbagai makna penafsiran, harus dipahami dengan mengetahui langgam atau lagu ayat-ayatnya. Misalnya ayat la ikraha fi ad-dini, apakah ayat ini bernada keras ataukah biasa saja. Kalau bernada keras, maka ayat ini setegasnya melarang kebebasan beragama.

13/06/2006 | Diskusi | Komentar (3) #

NKRI Sudah Final

Oleh Luthfi Assyaukanie

Biasanya saya kurang suka dengan fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya karena fatwa-fatwa itu cenderung punya dampak negatif bagi tatanan kehidupan bermasyarakat ketimbang memberikan sebuah solusi yang tepat (misalnya fatwa soal Ahmadiyah). Tapi, saya merasa senang mendengar fatwa terbaru MUI tentang bentuk negara RI, yakni NKRI, sebagai sesuatu yang sudah final.

11/06/2006 | Editorial | Komentar (27) #

Tuhan Pasca Musibah

Oleh Slamet Thohari

Krisis ternyata bukan sekadar kerugian, tetapi sekaligus “berkah” bila kita dapat menyikapinya secara jernih dan menjadikannya sumber inspirasi. Ya, kepedihan memang sedang melanda. Dan tepat di situlah agama sangat dibutuhkan untuk ketentraman. Namun menyikapi krisis secara berlebihan dan meletakkannya dalam kerangka agama semata, tanpa sikap yang kritis, merupakan sikap fatalis yang tidak berarti.

11/06/2006 | Kolom | Komentar (4) #

Slamet Gundono: Toleransi Akan Lestari Kalau Tak Ada Politisasi

Hubungan Islam dengan budaya lokal akan tetap mesra bila tingkat kearifan dan toleransi beragama tetap lestari dan terjaga di tengah masyarakat. Benturan-benturan baru muncul ketika adanya politisasi agama. Demikian pengalaman dalang Wayang Suket ternama, Slamet Gundono, sebagaimana yang ia tutukan pada Novriantoni dan Anick Hamim Tohari dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (1/6) lalu.

11/06/2006 | Wawancara | Komentar (1) #

Diskusi di UIN Jakarta Mencari Islam Indonesia

Oleh Aniqotul Ummah

Arus radikalisme Islam di Indonesia menurutnya tak bisa dibiarkan begitu saja. Karena ia bukan saja mengancam kehidupan beragama ala Indonesia. Tetapi juga mengancam keutuhan bangsa Indonesia, karena ingin mengganti Pancasila dengan syariah Islam dan khilafah.

08/06/2006 | Diskusi | Komentar (19) #

Gempa dan Teologi Apokaliptik

Oleh Luthfi Assyaukanie

Gempa bumi adalah fenomena alam lainnya yang jika terjadi secara dahsyat akan memunculkan bencana besar (disaster). Sama seperti pertistiwa “bintang jatuh,” gempa bumi memiliki aspek teologis yang bersifat apokaliptik dan juga memiliki aspek ilmiah yang bersifat alami.

05/06/2006 | Editorial | Komentar (3) #

Iman untuk Toleransi

Oleh Sukidi

Situasi intoleransi keagamaan di negeri kita akhir-akhir ini, mengingatkan saya pada filsuf John Locke (1632-1704). Di masanya, Locke benar-benar dicekam suasana intoleransi keagamaan dan tahun-tahun penuh konflik berdarah di Inggris. Dari kota pengungsian Amsterdam di Belanda abad ke-17, Locke menulis surat terbuka berbahasa Latin, Epistola de Tolerantia, yang diterjemahkan Popple ke bahasa Inggris menjadi A Letter Concerning Toleration (1689). Surat yang sangat terkenal itu menyerukan pentingnya toleransi dalam kerangka kebebasan agama dan sipil.

05/06/2006 | Kolom | Komentar (7) #
Halaman: 25 dari 109 « First  <  23 24 25 26 27 >  Last »

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq