
Nama : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Agama : Islam
Pendidikan : -SMA St. Josef, Solo
-Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada
-American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967)
Karir : -Pendiri/Pemimpin dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel Teater, Yogya (1967 -- sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia menghasilkan antara lain: -Sekda
-Perjuangan Suku Naga (drama)
-Ballada orang-orang tercinta (1957)
-Blues untuk Bonnie (1970)
-Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi)
-Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979
-State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop
-Oedipus Rex
-Khasidah Barzanji
-Perang Troya tidak akan Meletus
Kegiatan Lain : -Pemain Film. Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
-Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969)
-Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
Alamat Rumah : Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor
|
|
WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Dengan celana blue jeans, dengan ikat pinggang hitam, dengan kemeja lengan pendek yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, dengan tangan kanan teracung ke atas, dengan suara yang lantang menggelegar, ia masih gambaran seorang pemuda. Pemuda yang keras. Padahal, usianya kini telah setengah abad.
Namanya Willibrordus Surendra Broto Rendra, biasa disingkat menjadi W.S. Rendra. Sepuluh tahun sebelum merdeka, ia lahir dan menjadi pemeluk Katolik, sebelum kemudian beralih ke Islam. Fakultas Sastra UGM yang ditempuhnya hingga sarjana muda, dan American Academy of Dramatical Arts, makin mematangkan bakatnya pada sastra dan drama.
Rendra pada awal-awalnya sering menulis cerpen dan esei yang dimuat di berbagai majalah: Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Kemudian baru menulis drama dan puisi. Satu dramanya, Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954) mengantarkannya meraih hadiah dari Departemen P & K Yogya, waktu itu. Lalu kumpulan sajaknya, Ballada Orang-Orang Tercinta (1957) dan Empat Kumpulan Sajak (1960) adalah sajak-sajak yang paling laku dibaca pada periode 50-an.
Sepulang dari Amerika, Rendra makin menampakkan warnanya. Dalam nada terbuka, mudah dicerna, dan agak diwarnai urakan, ia menulis sajak-sajak seperti Rick dari Corona. Menghangatnya suasana kampus periode 70-an membawa Rendra masuk ke sana. Ia diundang membaca sajak di pojok-pojok kampus, yang selalu mengundang tepuk riuh dan yel-yel mahasiswa. "Kau tahu bahwa hampir semua puisiku memakai teknik oral. Dan yang sangat penting harus diketahui bahwa suara atau bunyi sebenarnya mempunyai kekuatan atau pengaruh yang sangat besar," ujarnya suatu saat, sambil menyebut nama Hitler dan Bung Karno.Sempat ia ditahan di sekitar aksi-aksi mahasiswa 1978, dan karyanya banyak terpengaruh suasana protes. Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) misalnya, lebih punya makna dibaca di hadapan massa bukan di dalam kamar. Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Pesan Pencopet Kepada Pacarnya adalah contoh puisi yang menyuarakan kehidupan kelas bawah, seperti yang biasa dilakukan mahasiswa waktu itu.
Aku tidak melihat alasan/kenapa harus diam tertekan dan termangu .
Begitu ia menulis dalam Pamflet Penyair. Sementara, lewat teater pun Rendra tidak kurang garang berteriak. Sekda di TIM, Jakarta, serta Mastodon dan Burung Kondor di Yogyakarta dilarang untuk dipentaskan. Malah pernah izin keluar untuk ke Australia tidak diberikan. Begitu seringnya Rendra berurusan dengan pihak berwajib, hingga ia pun heran ketika awal tahun 1985, ia dan panitia dibiarkan saja membacakan puisi di Ancol. Padahal, ia beranggapan bahwa puisi itu juga cukup keras.
Namun, banyak naskah lain yang telah dipentaskannya. Antara lain Bip-Bop, suatu teater mini kata, Oedipus Rex, Khasidah Barzanji, Perang Troya tidak Akan Meletus, dan beberapa lain. Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, sekembalinya dari Amerika 1967. Ia memimpinnya, menulis naskahnya, menyutradarai, dan memerankannya. Padahal, semula ia tidak suka pada teater. "Waktu saya diajak main teater, saya bilang mau, asal saja ceweknya si anu . he . he."
Ia memang pengagum wanita, dan juga dikagumi wanita. Sunarti yang pertama kali dikawininya. Kemudian Sitoresmi, dan terakhir Ken Zuraida, yang hingga kini masih mendampinginya. Sunarti dan Sito sudah diceraikan. Buah dari perkawinan itu adalah sebelas anak, yang sebagian besar ikut ibunya. Ia juga gemar memberi nama wayang pada anaknya. Kegemaran lain, main silat. Ia tercatat sebagai anggota persilatan PGB Bangau Putih.
|