
Nama : Widjanarko Puspoyo
Lahir : Yogyakarta, 22 April 1949
Agama : Islam
Pendidikan : - SD di Jalan Bromantakan 56 Solo (1962)
- SMP Negeri XI Jakarta Selatan (1964)
- SMA Negeri VI Bulungan, Jakarta Selatan (1968)
- Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta (sarjana muda, 1973)
- New York University (master of arts in economics, 1979)
- Kursus komposisi paper/methodology, di American Language Institute, New York University N.Y (1976)
- Pendidikan Computer Programming di kantor pusat PBB di New York (1977)
- Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk Corporate Planning (1983)
- Institut Manajemen LPPM (1986)
Karir : - Pegawai/staf Departemen Ekonomi Bagian Statistik Perdagangan International pada kantor Pusat PBB di New York (1976-1978)
- Staf Menteri Muda Urusan Koperasi, Jakarta (1981-1982)
- Direktur Pemasaran PT Abbattoir Surya Jaya, Surabaya (1982-1983)
- Direktur Utama Induk Koperasi Unit Desa (1994-1985)
- Direktur Keuangan PT Cibadak Indah Sari Farmfeed Meal dan Breeding Farm, Tangerang (1983-1986)
- Direktur Utama Pabrik Tepung Ikan, Denpasar, Bali (1984-1985)
- Komisaris Utama/Pemimpin Perusahaan Harian Prioritas, Jakarta (1986-1987)
- Direktur Muda Bank Suma (1990-1991)
- Anggota MPR/DPR RI dari Fraksi Karya Pembangunan, Komisi VII (1989-1992; 1992-1997)
- Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI (1999-2001)
- Anggota Badan Pekerja MPR RI (1999-2001)
- Wakil Ketua Komisi III DPR RI (1999-2001)
- Penasihat Bank Bukopin (2001-sekarang)
- Kepala Bulog (2001€“sekarang)
Kegiatan Lain : - Sekretaris Delegasi Pelajar Pertama ke Malaysia dalam rangka studi perbandingan masalah persiapan Rancangan UU Pendidikan (1968)
- Sekjen KAPI Pusat (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), (1967-1968)
- Ketua Senat Mahasiswa Fak Ekonomi Universitas Trisakti (1970-1971)
- Asisten Sekretaris Bidang Spiritual dan Budaya Dewan Pimpinan Pusat Golongan Karya (1971-1973)
- Pengurus Organisasi Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) wilayah New York (1976-1978)
- Wakil Ketua KNPI Daerah Tk I Jakarta (1979-1982)
- Anggota Dewan Pimpinan Pusat AMPI (1980-1995)
- Ketua umum DPP AMPI (1989-1994)
- Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan DPP PDI Perjuangan (1998-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan H. Kamang 38, RT 005/07, Pondok Labu, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Gedung Bulog, Lt. 15, Jalan Gatot Subroto 49, Jakarta Selatan
Telepon 5207655
|
|
Widjanarko Puspoyo
Dari partai turun ke gudang beras. Itulah ungkapan yang layak bagi Widjanarko Puspoyo, Kepala Badan Logistik (Kabulog).
Lahir di Solo, 22 April 1949, bapak dari Winda, Rinaldi, dan Raditio itu lahir di kalangan birokrat. Kakeknya mantan bupati Wonogiri. Sedang ayahnya, Warsito Puspoyo adalah staf ahli Menteri Perdagangan saat masih dipegang Sumitro Djojohadikusumo. €œSetelah itu Ayah menjadi anggota parlemen mewakili Golkar selama 25 tahun, semenjak tahun 1971,€ terangnya. Tapi, bila ia kemudian juga menjadi birokrat, itu bukanlah karena warisan.
Pria berpembawaan tenang dan kalem itu memang pernah lama bermain dalam partai. Ia pernah mewakili partai Golkar, dan terakhir ia adalah wakil PDIP di DPR. Di lembaga itu ia bahkan pernah menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR, yang membidani pertanian, kehutanan, dan Bulog. Widjan, demikian ia biasa dipanggil, malah pernah mewakili Golkar selama 15 tahun di lembawa legislatif itu. Kemudian hari ia merasa tidak cocok secara aspiratif dengan kendaraan politik Orde Baru itu.
Sejatinya ia sudah lekat dengan dunia perkebunan dan pertanian sejak usia belia. Belitan ekonomi saat itu membuat ayahnya menitipkan dia kepada pamannya, yang bekerja di perkebunan tebu milik pabrik gula Colomadu, sebagai sinder atau mandor tebu. €œBapak pegawai negeri yang pendapatannya tidak cukup untuk membiayai saya dan adik-adik,€ kenangnya.
Ternyata, lingkungan pabrik gula yang administratif itu membentuk kepribadiannya kemudian hari. Bayangkan saja, selama tinggal bersama pamannya itu pergaulannya ditata. Sampai tidur siang, bangun sore, dan pulang sekolah diatur. Semuanya berjalan dengan tertib dan sangat disiplin. Toh Widjanarko masih menikmati bermain di lori atau lorong-lorong perkebunan tebu.
Saban Sabtu atau hari libur, pamannya itu kerap mengajaknya mengontrol kebun tebu. Sampai suatu saat, di belakang rumah pamannya itu ia menemukan butiran-butiran putih yang mirip gula. Dasar anak kecil, kress! ditelannya butiran-butiran itu. Rasa getir bercampur pahit menyerang lidahnya. €œTernyata itu pupuk ZA yang mirip gula bentuknya,€ kenangnya sembari tergelak.
Kehidupan dengan tradisi tradisional yang ketat dan penuh disiplin, terutama aturan kekeluargaan dan pelajaran budi pekerti itu berakhir saat ia lulus sekolah dasar dan pindah ke Jakarta, pada 1962. Di SMP Gambir 32 -- bekas sekolah Belanda -- Jakarta Selatan, ia menemukan kebebasan. Toh itu malah membuatnya terisolir. €œBagaimana tidak, budayanya enggak ketemu,€ terangnya.
Ia memang sosok yang berani mengambil sikap. Misalnya, pada Januari 1990, ketika duduk sebagai ketua umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Dalam pidato renungan awal tahun, ia sempat meminta Soeharto untuk tidak mencalonkan diri kembali sebagai presiden. Kontan, ia dianggap sebagai orang yang €œanti-Cendana.€ Sejak itu karier politiknya dihambat. Dan ketika reformasi bergulir, ia memilih untuk bergabung dengan PDI-P pimpinan Megawati Soekarnoputri. €œPak Harto itu harus menyadari bahwa semakin lama dia membiarkan dirinya menjadi satu-satunya orang paling berkuasa, tanpa ada regenerasi yang tertata dengan baik, maka dia meninggalkan bom waktu,€ tegasnya.
Tak ada rasa takut di hatinya saat itu. Ia berprinsip orang sehat pasti menerima usulan yang konstruktif. Tapi apa boleh buat, orang-orang di Golkar menganggapnya anti-Cendana. Karir politiknya di Golkar pun terhambat. Malah jabatan struktural untuknya di Departemen Koperasi dihambat pula.
Ketika duduk sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI, pada 2000, ia sempat ditunjuk sebagai Ketua Tim Investigasi Penyimpangan Dana Non-Budgeter Bulog. Pada 2001, dengan sebuah Keppres, ia diangkat oleh presiden waktu itu, Abdurrahman Wahid. €œSaya diangkat oleh Gus Dur, bukan oleh Ibu Mega,€ ujar sulung dari empat bersaudara ini. €œMungkin Gus Dur menganggap saya cocok dengan kebutuhan pada waktu itu,€ tambahnya ketika ditanyai bagaimana ia bisa terpilih menjadi Kabulog.
Widjanarko kecil bercita-cita menjadi, guru mengikuti jejak ayahnya. Peraih gelar Master of Arts in Economics dari New York University ini mengaku, hidup di AS adalah bagian dari masa-masa terberat dalam hidupnya. Agar dapat membiayai istri dan seorang anak perempuannya ketika itu, ia harus bekerja pagi hari, sebagai clerk pada kantor statistik PBB, dan baru pada sore harinya masuk kelas hingga pukul setengah sembilan malam.
Di tangannya, mulai 1 Januari 2003, Bulog yang lembaga non-departemen itu akan berubah menjadi perusahaan umum. Instansi Depot Logistik (Dolog) akan ia hapus. Gantinya ia akan mendirikan sembilan cabang Bulog. Dengan itu ia akan membuat Bulog bebas dari kepentingan penguasa maupun parpol. €œIni Bulog yang direformasi, orang-orangnya yang bermasalah di masa lalu sudah mendapat ganjaran, sudah dihukum,€ ujarnya.
Menurutnya, ayahnya sangat berperan dalam karirnya. Ia ingat sewaktu akan berangkat ke Amerika, ayahnya sampai menjual mobil VW-nya. Dan ada petuah yang selalu ia ingat dari ayahnya itu: tidak ada sesuatu yang harus dikejar habis-habisan dan tidak ada sesuatu yang harus dihindari habis-habisan. Sebab, begitu yang dikejar tercapai, kekecewaan akan muncul, karena pada saat yang sama keinginan baru muncul.
|