
Nama : Wynne Prakusya
Lahir : Solo, 26 April 1981
Agama : Protestan
Pendidikan : - SD Kristen Kalam, Kudus
- SMP Ragunan, Jakarta
- SMA Ragunan, Jakarta
- Universitas Tarumanegara (belum selesai)
Karir : Atlet tenis nasional
Penghargaan : - Atlet Harapan Nasional (1999)
- Atlet Terbaik Jateng 1999, 2000
Keluarga : Ayah : Pawana Jata Prakusya
Ibu : Jiliana Gunawan
Alamat Rumah : Jalan Raya T.B. Simatupang 1, Perumahan Pondok Pinang Center, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : PB Pelti H. Pintu I Senayan, Jakarta Selatan
Telepon (021) 5749650
|
|
Wynne Prakusya
OLEH seniornya, Wynne Prakusya dijuluki €œpetitat€. Artinya: kecil kayak cabai tapi galak. Wynne memang terlahir dari keluarga atlet. Ibu dan ayahnya pemain tenis. Adik ibunya pernah satu tim dengannya di Pekan Olahraga Nasional. Tapi, dorongan pertama buat Wynne ketika masih kanak-kanak untuk tekun bermain tenis adalah ingin masuk TV. Maka, ayahnya menasihati: kalau mau tampil di layar TV, Wynne harus giat berlatih tenis.
Wynne terjun ke turnamen profesional tahun 1998, sejak menjadi finalis yunior di Australia Terbuka. Karirnya menanjak, turnamen kecil sampai pertandingan WTA dan grand slam sudah ia ikuti. Setelah sepuluh tahun menggeluti tenis, di tingkat nasional Wynne masuk urutan pertama, sedangkan di tingkat dunia ia ada di urutan ke-88.
Untuk itu semua, belia kelahiran Solo 26 April 1981 ini rela meninggalkan dunia remajanya, bahkan kuliahnya di Universitas Tarumanegara ia tinggalkan untuk sementara.
Mungkin karena mirip petenis Jepang Kimiko Date, Wynne sering dikerubuti banyak penggemar Kimiko. Mereka minta tanda tangannya. Lantas, €œSaya harus menjelaskan bahwa saya bukan Kimiko, tapi Wynne dari Indonesia,€ ujar Wynne. Tapi, penggemarnya mana peduli, pokoknya mendapat tanda tangan.
Pengagum Monica Sales ini sangat senang ketika bisa mengalahkan idolanya sendiri. Lalu ia pun bisa mengobrol dengan sang idola itu. Jurus favorit Wynne: santai tapi mematikan, membunuh dari belakang. Persiapannya sebelum bertanding adalah berdoa dulu, menenangkan diri. Karena, katanya, €œSemakin dipikirkan, semakin deg-degan dan ingin ke belakang terus.€ Hobinya, jalan-jalan dan membaca.
Konsekuensi sebagai pemain profesional, dan menjadi sering masuk tv seperti yang dicita-citakannya dulu, adalah meningkatkan peringkat yang sudah dicapainya atau minimal menjaganya. Untuk itu ia harus sering mengikuti turnamen. €œSetiap minggu mesti pindah hotel, pindah negara, dan jauh dari keluarga,€ ujar Wynne. Saking seringnya ke belbagai negara tempat diselenggarakannya suatu turnamen tenis, ia mengaku kadang-kadang bosan naik pesawat.
|