Kolom Amien Rais

Arsip per tahun: 2000 | 2001 | 2002

BERITA | MEMBERS |FREE E-MAIL | KOMUNITAS | CHAT | i-GUIDE
| Cover | Laporan Utama | Laporan Khusus | Kolom Amien Rais | Adilan Adilun |
Kamis, 08/11/2001
 

Kita Memang Lemah

Adil - Sampai sekarang sebagian masyarakat tetap saja tidak dapat memahami reaksi Indonesia terhadap pemboman Amerika Serikat di Afganistan. Reaksi itu dianggap lembek, tidak bertulang, tidak mencerminkan kebesaran bangsa kita, dan sedikit banyak terasa kurang mencuatkan kebebasan dan kedaulatan Indonesia untuk tetap mengendalikan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Juga sebelum itu, bahkan banyak demo yang mengkritik beberapa tokoh nasional yang diharapkan dapat melabrak Amerika dan menghujat semua politik luar negeri negara adidaya itu yang tidak cocok dengan aspirasi kita. Namun marilah kita berpikir agak jernih, agar kita tidak terbawa oleh emosi kita semata-mata.

Pertama-tama memang harus kita sepakati bahwa pembomam Amerika di Afganistan itu tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun juga. Pemboman itu terasa bukan saja arogan dan melanggar hukum internasional serta moral dan etika masyarakat internasional modern. Tetapi juga telah nyata-nyata melanggar hak asasi manusia atau HAM yang digembar-gemborkan oleh Amerika sendiri.

Bahwa kita mengutuk tindakan Amerika Serikat, merupakan sebuah keharusan. Akan tetapi setelah itu, kita juga harus mengingat kepentingan nasional kita sendiri dalam jangka panjang, setelah kita memenuhi kewajiban mengutuk pemboman Amerika di Afganistan itu. Maksud saya, dalam pandangan agama maupun cara berpikir yang rasional, kita tidak boleh mengorbankan kepentingan bangsa kita yang lebih besar dan dalam jangka panjang karena suatu tindakan sebuah negara yang kita kutuk dan tidak dapat kita benarkan.

Hubungan kita vis a vis Amerika Serikat memang sangat tidak seimbang. Kita dalam posisi tangan di bawah, sedangkan Amerika dalam posisi tangan di atas. Ketergantungan kita kepada Bank Dunia dan IMF, yang kedua-duanya dikendalikan Amerika Serikat, serta ketergantungan pada peralatan militer dan suku cadang berbagai pesawat Amerika di Indonesia, tentu tidak usah diragukan lagi.

Seorang teman mengatakan, kalau kita melabrak Amerika dengan memutuskan hubungan diplomasi dengan Washington, serta memboikot semua produk Amerika memang sekelebatan benar dan cukup heroik dan romantik. Namun kalau kita analisis secara sedikit lebih jauh, segera akan terasa bahwa langkah kita akan punya dampak yang panjang dan bisa merepotkan kita sendiri.

Kita bisa menghitung dengan angka-angka bagaimana volume impor Indonesia dari Amerika, yang menyangkut berbagai macam komoditas dari yang canggih seperti mesin-mesin IBM sampai bahan baku tempe dan tahu yang bernama kedelai. Seandainya Amerika juga ganti memboikot seluruh ekspor kita ke Amerika, kita bisa membayangkan dengan gampang berapa ratus ribu penganggur baru yang akan menambah berjubelnya barisan penganggur yang sudah sangat sumpek sekarang ini. Dan, bukan saja kita tidak bisa makan tahu dan tempe kembali seperti kebiasaan kita sehari-hari, tapi juga akan ada boikot internasional terhadap Indonesia. Amerika merupakan imam bagi kaum investor asing di kawasan Eropa dan Asia Pasifik, dan hal tersebut tentu tidak dapat diremehkan.

Sementara itu banyak orang memuji sikap PM Mahathir Mohammad yang dengan gagah dan penuh martabat pernah menolak IMF dan juga mengutuk secara keras pemboman Amerika terhadap Afganistan. Namun harus diingat bahwa Malaysia bukanlah Indonesia. Malaysia justru semakin sehat setelah "mengusir" IMF. Malaysia tidak punya ketergantungan militer, finansial dan ekonomi kepada Amerika seperti halnya Indonesia.

Membayangkan Megawati Soekarnoputri atau Hamzah Haz bisa berlaku seperti Mahathir, tentu merupakan suatu harapan yang tidak pernah akan bisa jadi kenyataan. Karena itu, kalau kita telusuri lebih jauh, mengapa kita telah kehilangan semacam kebebasan untuk mengambil sikap yang mandiri di panggung internasional, bahkan juga kebebasan untuk mengatur diri kita sendiri di bidang ekonomi, semua itu semata-mata karena kelemahan kita sendiri.

Kelemahan memang merupakan sebuah keadaan bagi seorang individu maupun sebuah bangsa yang selalu merepotkan. Kelemahan selalu mengundang intervensi. Kelemahan selalu mengundang cemooh dan cibiran dari luar. Kelemahan kadang-kadang, lebih gawat lagi, juga menghilangkan rasa percaya diri dari bangsa bersangkutan.

Bagaimana cara mengatasi posisi Indonesia yang sering kali menjadi bulan-bulanan di dunia internasional? Tentu secara normatif, itu bisa diatasi hanya dengan menghilngkan berbagai kelemahan kita itu. Kalau kita menjadi bangsa yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan, tentu kita akan menjadi bangsa yang dihormati di panggung percaturan bangsa-bangsa di muka bumi. Tentu semua ini dalam perspektif jangka panjang.

Sedangkan dalam jangka pendek, untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut tidak mungkin. Tetapi paling tidak, harus ada formulasi kebijakan politik luar negeri yang betul-betul bermartabat, tidak menunjukkan kita sebagai bangsa yang gampang ditekuk-tekuk dan harus membungkuk-bungkuk di hadapan bangsa yang lain termasuk Amerika sekalipun.

Memang benar apa yang dikatakan Al-Quran bahwa kaum beriman harus menghimpun kekuatan multidimensional agar tidak mudah terteror oleh lawan-lawannya. Memang benar juga apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah lebih mencintai orang-orang beriman yang kuat daripada kaum beriman yang lemah. Betul juga yang dikatakan Nabi kita, bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.

Semua itu menyadarkan kita, bahwa tidak lain kalau kita ingin menjadi bangsa yang terhormat di muka bumi ini, maka para pemimpinnya harus mempunyai visi dan langkah-langkah yang mantap ke depan untuk mengeluarkan bangsa ini pelan-pelan dari berbagai titik kelemahannya.
Wallahu a'lam.

comments powered by Disqus

Masalah Utama Tahun 2001 | Otda, Sebuah Taruhan | Kita Memang Lemah | Jangan Kehilangan Harapan | Belajar dari Kejatuhan Estrada | Tragedi Abdurrahman Wahid | Jangan Memperumit Proses Politik | Gambaran yang Makin Suram | Tragedi Sampit dan Keputusasaan Masyarakat | Rahasia Sukses Pemimpin | Menanti Lahirnya Memorandum II | Aceh Bukti Kegagalan Gus Dur | Memorandum dan Kompromi Politik | Bahaya Politisasi Agama | Perlukah Pertemuan Empat Tokoh? | Menegakkan Moral Demokrasi | Yang Kita Kelola adalah Negara | Ujian Berat Megawati | Mempertahankan Kredibilitas | Dana Hibah yang Menghebohkan | Hikmah di Balik Pemboman New York dan Washington | Kita Semua Prihatin | Terpulang kepada Kita Sendiri | Benarkah Kita Mengumpulkan Kepentingan Bangsa?

Arsip Kolom Amien Rais ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq