A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

OEI BAN LIANG




Nama :
OEI BAN LIANG

Lahir :
Sanan Kulon, Blitar, Jawa Timur, 31 Agustus 1930

Agama :
Protestan

Pendidikan :
-HIS, Blitar
-SMP, Malang
-SMA Negeri II, Malang (1951)
-FIPIA UI, Bandung (1957)
-Universitas Kentucky, AS (Doktor, 1963)


Karir :
-Ketua Laboratorium Kimia Organik ITB (1964-1967 dan 1970-1972)
-Kepala Dinas Kimia Biologi Pusat Reaktor Atom Bandung (1965- 1972)
-Ketua Departemen Kimia ITB (1967-1970)
-Ketua Tim Nuklir ITB (1969-1972)
-Guru Besar ITB (1972 -- sekarang)
-Guru Besar Tamu Universitas Kebangsaan Malaysia (1972-1974)
-Sekretaris Badan Pengembangan ITB (1974-1977)
-Pengelola Program S-3 ITB (1977-1985)
-Penasihat Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) LIPI (1974 -- sekarang)
-Ketua Asean Working Group on Food Waste Materials (1980 -- sekarang)
-Ketua Asean Adhoc Working Group on Biotechnology (1985 -- sekarang)
-Sekretaris Senat Fakultas Pasca-Sarjana ITB (1985 -- sekarang)


Alamat Rumah :
Jalan Sumur Bandung 6, Bandung Telp: 82780

Alamat Kantor :
Kampus ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung Telp: 83659

 

OEI BAN LIANG


Hati-hati minum tonikum, sebab obat kuat itu ternyata mengandung racun tikus. Itu kata Oei Ban Liang, ahli kimia organik ITB. "Semua tonikum mengandung racun tikus, seperti halnya bumbu masak yang dibuat dari mono-sodium glutamat (MSG), yang dapat menyebabkan kanker. Sebab, tidak ada hasil persenyawaan kimia yang tidak menimbulkan efek samping," ujar guru besar itu. Tetapi jangan khawatir. "Dalam jumlah kecil, racun tikus dan MSG tidak berbahaya," kata Oei.

Menjadi ahli kimia sebenarnya bukan cita-cita Oei. Tetapi, "sejak di SMP saya menyenangi mata pelajaran ilmu alam," tuturnya. Di sekolahnya, SMP Negeri kemudian SMA Negeri II -- keduanya di Malang, ia selalu meraih angka tertinggi untuk mata pelajaran ilmu pasti dan alam.

Prestasi itu diraihnya berkat ketekunan belajar. "Saya tinggal di Blitar, tetapi bersekolah di Malang, yang jaraknya 80 km. Tiap hari saya bangun pukul 03.00 untuk mengejar kereta api yang berangkat pukul 04.00, supaya tidak terlambat masuk sekolah," tuturnya. Dalam perjalanan tiga jam di atas kereta api itulah, anak kedua dari tiga bersaudara keluarga Sugeng Santoso -- pedagang asal Blitar -- itu tekun belajar.Menyelesaikan SMA di Malang, 1951, lelaki bertubuh agak gemuk pendek itu melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Alam (FIPIA) UI, Bandung. Gelar sarjana kimia diraihnya tahun 1957.

Seolah tidak puas, Oei mengikuti program doktor di bidang kimia organik pada Universitas Kentucky, AS, yang diselesaikannya tahun 1963. Disertasinya berjudul The Synthesis of Acridine Azo Dyes Related to Butter Yellow.

Kembali ke tanah air setahun kemudian, penggemar bilyar dan musik itu diangkat menjadi ketua laboratorium kimia organik ITB, sampai 1972. Pernah pula menjabat Ketua Tim Nuklir ITB, guru besar tamu Universitas Kebangsaan Malaysia, Sekretaris Badan Pengembangan ITB, Pengelola Program S3 dan sejak 1985 menjabat Sekretaris Senat Fakultas Pasca-Sarjana ITB.

Sebagai ahli kimia organik, lelaki berkaca mata minus lima itu di tahun 1960-an menerima tanda penghargaan dari komandan Peralatan Angkatan Darat (Palad), Bandung. Oei berhasil menjinakkan tabung-tabung eter -- senyawa kimia -- yang dikhawatirkan meledak jika terbanting, karena terlalu lama disimpan dan sudah mengering. Dengan pengalamannya sebagai ahli kimia organik, eter itu dicampur dengan alkohol kemudian dibakar untuk meredam ledakan.

Aktif mengikuti berbagai seminar tentang kimia organik di dalam dan luar negeri, Oei sampai sekarang masih membujang.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


OEI BAN LIANG | OEMAR SENO ADJI | OETARJO DIRAN | OETOMO | OMAR ABDALLA | ONGHOKHAM | OSKAR SURYAATMADJA | OTTO SOEMARWOTO | Onghokham | Otto Soemarwoto | Okky Asokawati


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq