A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

ONGHOKHAM




Nama :
ONGHOKHAM

Lahir :
Surabaya, 1 Mei 1933

Pendidikan :
-SD di Surabaya (1949)
-SMP di Surabaya (1955)
-SMA di Bandung (1958)
-FS UI (1968)
-Doktor di Universitas Yale, AS (1975)


Karir :
-Penulis di majalah Starweekly (1958)
-Peneliti di LRKN
-Dosen di FS UI (sejak 1965)
-Penulis di majalah Prisma
-Associate Editor di PT Sinar Kasih
-Kolumnis di majalah Tempo dan penerbitan lain


Kegiatan Lain :
-Salah seorang pendiri Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB), cikal bakal Bakom PKB

Karya :
Karya tulis penting:
Rakyat dan Negara, LP3ES-SH, 1983


Alamat Kantor :
Fakultas Sastra UI, Rawamangun, Jakarta Timur

 

ONGHOKHAM


Yang belum berubah pada Onghokham, ahli sejarah Jawa lulusan Universitas Yale (AS), adalah penampilannya yang tetap santai. Ke mana-mana, bahkan ketika menjalankan tugasnya sebagai dosen pada Fakultas Sastra UI, Ong masih selalu mengenakan sepatu sandal, kemeja yang lengannya dilinting ke siku, dan travelling bag tersampir di bahu.

Kecuali baju batik, pakaian resmi lain yang ia miliki hanya satu setel jas berwarna biru. "Ini satu-satunya, dipakai setahun sekali untuk menghadiri Dies Natalis UI," tutur Ong, setelah acara Dies UI ke-35, 1984, di Balai Sidang, Jakarta. Jika berbicara soal sejarah, ia selalu bersemangat dan lupa waktu.

Yang berubah pada penampilannya: sederet gigi emas, yang selama ini menyumpal bagian-bagian yang ompong, sudah tidak ada lagi. Konon, itu semua ia jual untuk menambah biaya pembangunan rumahnya yang berkontruksi kayu, berbau arsitektur Bali, di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Terletak di atas tanah 415 meter persegi, tempat tinggal yang serba terbuka dan tanpa plester ini menelan biaya Rp 8 juta -- di luar harga pintu dan perabot. "Saya puas dengan hasil rancangan Hendro Soemardjan ini," tutur Ong. Hendro adalah putra Prof. Selo Soemardjan.Ong tetap rajin menulis kolom dan esei di pelbagai media massa, kegiatan yang sudah ia rintis sejak pertengahan 1950-an. Pada 1958, Ong menjadi penulis tetap pada majalah Star Weekly. Pada awal 1960-an, bersama sembilan tokoh keturunan Tionghoa, ia mendirikan Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB), cikal bakal Bakom PKB.

Dalam berbagai tulisannya, lelaki botak berkaca mata tebal ini antara lain banyak mengupas soal-soal struktur (kekuasaan) sosial di masa lalu -- kadang dikaitkan dengan kenyataan mutakhir. Ong juga banyak menelaah soal-soal kepriayian, wong cilik, dan hubungan serta konflik antara keduanya. Disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor dari Universitas Yale, 1975, berkisar pada soal itu: The Residency of Madiun, Priyayi and Peasant During The Nineteenth Century.

Ketika pulang ke tanah air, oleh kawan-kawannya Ong tidak hanya dikenal sebagai ahli sejarah, tetapi juga jagoan masak. Keterampilan ini ia peroleh di AS, ketika tinggal bersama seorang mahasiswa dari Hong Kong yang pintar memasak.

Ibunya, Tan Siang Tjia, menikah dua kali. Ong anak pertama dari perkawinan kedua, sekaligus anak ketiga dari semua putra ibunya. Ong Than Hian (Hendra), ayahnya, sebelum meninggal terakhir bekerja sebagai agen asuransi.

Satu hal lain yang belum berubah pada Ong: ia masih bujangan.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


OEI BAN LIANG | OEMAR SENO ADJI | OETARJO DIRAN | OETOMO | OMAR ABDALLA | ONGHOKHAM | OSKAR SURYAATMADJA | OTTO SOEMARWOTO | Onghokham | Otto Soemarwoto | Okky Asokawati


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq