A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Onghokham




Nama :
Onghokham

Lahir :
Surabaya, Jawa Barat, 1 Mei 1933

Pendidikan :
- ELS di Surabaya (1949)
- HBS di Surabaya (1955)
- SMA di Bandung (1958)
- FS UI (1968)
- Yale University, Amerika Serikat (Ph.D., 1975)


Karir :
- Penulis di majalah Starweekly (1958), penulis di majalah Prisma, Associate Editor di PT Sinar Kasih, kolumnis di majalah TEMPO dan penerbitan lain
- Dosen Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1964-1989)
- Profesor tamu pada The International Christian University, Tokyo, Jepang (1988)
- Profesor tamu pada The Australian National University, Canberra, Australia (1989)
- Dosen tamu pada Thamasat University, Bangkok, Thailand (1997)
- Dosen tamu pada Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (1997)
- Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (sekarang)


Kegiatan Lain :
- Salah seorang pendiri Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa, cikal bakal Bakom Pembina Kesatuan Bangsa
- Direktur Perguruan Budhi, Tangerang


Karya :
- Rakyat dan Negara (1983)
- Sukarno: Pemikir atau Politikus? (1985)


Keluarga :
Ibu : Tan Siang Tjia Ayah : Ong Than Hian

Alamat Rumah :
Kompleks Dinas Hukum, Blok D No. 11, Cipinang, Jakarta Telepon 8509472

 

Onghokham


Di kala terbaring karena stroke--sehingga harus rawat jalan seminggu tiga kali--sejarawan Onghokham tetap bersemangat berbicara tentang sejarah. Mengenai adanya pemutarbalikan sejarah, Ong berkata, dengan napas terengah-engah dan suara lirih, €œSaya mempelajari sejarah tidak untuk diputarbalikkan. Kalau ada yang seperti itu, itu urusan orang lain.€ Lalu ia menekankan, €œItu bukan pekerjaan yang bermartabat.€

Ketertarikannya pada sejarah tumbuh pada usia muda, ketika duduk di bangku HBS€”sekolah menengah pada masa penjajahan Belanda -- di Surabaya. Dari guru sejarah, Broeder Rosarius, ia mendapat pelajaran sejarah Belanda dan Eropa. €œSejarah yang diajarkan disajikan seperti kisah riwayat yang menarik,€ komentar Ong tentang gurunya. Untuk pelajaran sejarah, Ong sering memperoleh nilai 9, termasuk dalam laporan semester.

Akibatnya, dalam benaknya tak terlintas pikiran mengikuti jejak ayahnya. Sang ayah, Ong Than Hian, sebelum meninggal bekerja sebagai agen asuransi. Toh selepas SMA di Bandung, 1958, Ong muda sempat dua tahun kuliah di Fakultas Hukum UI, untuk menyenangkan orangtuanya yang menginginkan dia masuk fakultas hukum atau fakultas kedokteran. Tapi kecintaan pada sejarah membuatnya pindah ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI. Setelah menggondol gelar kesarjanaan, karir sejarawan dimulainya sebagai dosen sejarah di almamaternya.

Namun karirnya yang lain, penulis kolom, telah dimulainya semasih ia mahasiwa. Ong pernah menjadi penulis untuk majalah Starweekly, kemudian majalah Prisma, TEMPO, dan beberapa media lain. Dalam berbagai tulisannya, lelaki botak berkaca mata tebal ini antara lain banyak mengupas soal-soal struktur (kekuasaan) sosial di masa lalu, kadang-kadang dikaitkan dengan kenyataan mutakhir. Ia juga banyak menelaah soal-soal kepriyayian, wong cilik, dan hubungan serta konflik di antara keduanya. Disertasinya, untuk mendapatkan gelar doktor di Universitas Yale, AS, 1975, berkisar soal itu: The Residency of Madiun, Priyayi and Peasant During the Nineteenth Century.€

Hari-hari sebelum sakit, ia ke mana-mana suka mengenakan sepatu sandal sambil menenteng traveling bag dan kemeja yang lengannya digulung sampai ke siku. Penampilan seperti ini termasuk ketika ia mengajar di Fakultas Pascasarjana UI. Ong juga dikenal punya hobi memasak -- yang ia pelajari di Amerika Serikat dari seorang mahasiswa asal Hong Kong yang tinggal bersamanya. €œSaya suka masak, masak ikan bandeng. Karena saya suka ikan bandeng,€ ujarnya.

Dalam masa sakitnya, kegiatan menulis masih ia teruskan, dengan diketikkan oleh sekretarisnya. Tapi, Ong sudah tidak lagi menulis buku. Terakhir, ia menulis buku, Sukarno: Pemikir atau Politikus? (1985). €œSaya menulis buku dua judul dalam empat tahun dan mendapat duit dua juta rupiah; siapa yang bisa hidup dengan dua juta?€ katanya dengan rasa kecewa atas tiadanya penghargaan layak buat penulis buku.

Di rumahnya, yang merupakan perpaduan arsitektur klasik Bali dan Barat modern hasil rancangan Hendro Soemardjan, di Cipinang Muara, Jakarta Timur, Ong hidup bersendiri. Ong yang masih membujang hanya ditemani dua asistennya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


OEI BAN LIANG | OEMAR SENO ADJI | OETARJO DIRAN | OETOMO | OMAR ABDALLA | ONGHOKHAM | OSKAR SURYAATMADJA | OTTO SOEMARWOTO | Onghokham | Otto Soemarwoto | Okky Asokawati


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq