
Nama : EDUARD KAREL MARKUS MASINAMBOW
Lahir : Minahasa, Sulawesi Utara, 26 Maret 1931
Agama : Protestan
Pendidikan : -ELS di Banjarmasin (1945) ; MULO-B di Minahasa (1949)
-AMS-B/SMA-B di Jakarta 1952
-Fakultas Sastra UI Jurusan Inggris di Jakarta (1958) lulus
-Graduate School Yale University di AS (M.A., 1965)
-Fakultas Sastra UI (Doktor, 1976)
Karir : -Asisten Sekretaris Umum, Panitia Persiapan Pembentukan MIPI di Jakarta (1954-1956)
-Pengajar tidak tetap, Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI (sejak 1965)
-Dosen Luar Biasa, Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, Manado (1966-1969)
-Anggota Redaksi Majalah Masyarakat Indonesia, LIPI, (sejak 1978)
-Anggota Panitia Promotor Fakultas Sastra UI (sejak 1978)
-Anggota Executive Committee Southeast Asia Studies Program, Singapore (sejak 1979)
-Anggota Executive Committee Asean Studies (sejak 1984)
-Pengajar Luar Biasa, Jurusan Antropologi FISIP UI (sekarang)
-Pengajar Luar Biasa Fakultas Pascasarjana FISIP UI (sekarang)
-Asisten Direktur Urusan Ilmiah Ahli Peneliti Leknas-LIPI
Kegiatan Lain : Ketua Komisi Organisasi Asosiasi Antropologi Indonesia (1985)
Karya : -Halmahera dan Raja Ampat Konsep dan Strategi Penelitian, Leknas-LIPI (1980)
-Halmahera dan Raja Ampat Sebagai Kesatuan Majemuk, Leknas- LIPI
-Bahasa dan Sukubangsa di Indonesia, Leknas-LIPI
Alamat Rumah : Jalan Widya Chandra I/G I, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional Jalan Gatot Subroto, Gedung Widya Graha-LIPI, Lantai IX Telp: 511542 pesawat 366
|
|
EDUARD KAREL MARKUS MASINAMBOW
Ketika meneliti di pedalaman Halmahera, Maluku, ia dinasihati agar tidak meminum sembarang air pemberian orang. "Berbahaya," Masinambow menirukan ucapan si penasihat. Ia tidak percaya. "Lalu saya jatuh sakit, demam tinggi. Katanya, saya dikerjain orang atau makhluk halus." Berlayar ke Tidore lima hari, ia disuntik mantri, dan sembuh.
Pada 1973, Eddy -- panggilan akrab E.K.M. Masinambow -- ditugasi oleh LIPI meneliti di Filipina, dengan biaya Ford Foundation. Sasarannya tiga tempat: Pampanga (Manila Utara), Bikol (Luzon Selatan), dan Manila, dengan topik: Komunikasi Antarsuku Bangsa di Filipina. Di sana, peraturan untuk peneliti asing belum sebaik di Indonesia. "Saya dipanggil polisi dan ditanya macam-macam. Untung, ada rekomendasi dari Universitas Filipina," tutur si anak Desa Kakas, Minahasa, itu.
Pengalaman tersebut tinggal sebagai kenangan manis bagi peneliti yang menjabat Asisten Direktur Urusan Ilmiah Leknas- LIPI ini. Yang tampaknya disayangkannya, hasil penelitiannya belum dibukukan, padahal sudah tersimpan 10 tahun lebih di lemari arsip.
Bersaudara tiga orang, Eddy anak sulung bekas kepala kantor pos dan telegraf di Banjarmasin. Di AMS Tomohon dan SMA-B Jakarta, ia penggemar pelajaran kimia. Karena tidak ada laboratorium, reaksi unsur kimia dihafalnya saja dari buku. "Padahal, saya ingin melihat reaksinya di dalam praktek," katanya. Akhirnya, lelaki jangkung -- 1,75 meter dengan berat 70 kg -- ini mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris di FS UI. Gelar Master ia raih di Universitas Yale, New Haven, AS, 1965. Sedangkan gelar doktor bidang antropologi diperolehnya di UI, 1976, dengan disertasi berjudul Konvergensi Etnolinguistik di Halmahera Tengah.
Berbicara tentang pengaruh bahasa asing, terutama Inggris, terhadap bahasa Indonesia, ia tidak terlalu ketat. "Yang cocok akan terserap ke dalam bahasa Indonesia, yang tidak sesuai akan hilang sendiri," kata dosen tidak tetap FS UI itu.
Yang menarik, dalam penelitiannya di Halmahera, bujangan ini menemukan kelompok yang menggunakan bahasa yang tidak berkaitan antara satu dan lainnya. Yaitu bahasa-bahasa Tobelo, Ternate, Galela, Tidore, Modole, Sahu, dan Loloda. Bahasa-bahasa bagian utara Halmahera termasuk rumpun bahasa Non-Austronesia, sedangkan bagian selatannya terbilang rumpun Austronesia. "Persentuhan keduanya berlangsung di Halmahera Tengah. Bagaimana mereka berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, itulah yang menarik."
Eddy penggemar jogging dan memanjat gunung. Pada 1980, Leknas-LIPI menerbitkan bukunya, Halmahera dan Raja Ampat; Konsep dan Strategi Penelitian. Pada 1985 menyusul buku Bahasa dan Suku Bangsa di Indonesia.
|