A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Eddie Widiono Suwondho




Nama :
Eddie Widiono Suwondho

Lahir :
Malang, Jawa Timur, 15 Mei 1953

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD, SMP, SMA di Jakarta
- Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (S1, 1976)- University of London, Inggris, (M.Sc. dalam bidang sistem kontrol, 1989)
- Sekolah Tinggi Menajemen Prasetya Mulya (MBA, 1994)


Karir :
- Staf pengujian pada proyek induk pembangkit termal PLN, kepala bagian konstruksi, kepala bagian perencanaan (1977-1987)
- Kepala Subdivisi Logistik dan Operasi Jaringan PT PLN (kantor pusat, 1990-1995)
- Direktur Usaha dan Pengembangan PT PLN PJB I (1995-1998)
- Direktur Marketing dan Distribusi PT PLN (Persero, 1998-2001)
- Direktur Utama PT PLN (Persero, 2001€“sekarang)


Keluarga :
Ayah : Suwondho Ibu : Etni Kustiyah Istri : Myra Widiono Anak : 1. Emery Fadjar 2. Melita Mutia

 

Eddie Widiono Suwondho


AYAH Eddie berpendidikan dokter hewan, tapi memilih masuk militer. Suwondho, demikian nama sang ayah, bahkan pernah menjadi Pangdam Brawijaya. Toh ayah tujuh anak itu selalu mewanti-wanti Eddie dan saudara-saudaranya agar tidak menjadi tentara. Dan si bungsu pun tak bercita-cita masuk militer.

Waktu kecil, ia sempat juara nasional junior tenis. Tapi, setelah menginjak remaja, €œkarir€ tenisnya tak diteruskan. Lulus SMA, walau ibunya, Etni Kustiyah, menghendaki si bungsu dari tujuh bersaudara ini masuk kedokteran Universitas Indonesia, namun Eddie malah bersikeras memilih ITB. Ketika mendaftar ia memilih jurusan elektro komunikasi, tapi setelah menjadi asisten, ia pindah ke sistem tenaga kelistrikan. Andaikata ia mengambil telekomunikasi dan berkarir di perusahaan komunikasi, Eddie tidak tahu apakah ia bisa menjadi eksekutif puncak.

Lelaki yang kini direktur Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1976. Ia sempat diterima bekerja di Union Oil di Balikpapan, Kalimantan Timur. Saking gembiranya dengan tawaran gaji yang sangat gede, ia segera memberitahu ayahbundanya.

Akan tetapi orangtua dan pamannya justru kecewa. Sang paman€” yang pernah mendapat penghargaan atas pengabdiannya di bidang kelistrikan selama 50 tahun€”menginginkan Eddie bekerja di PLN. Karena rasa hormat kepada sang paman, dan menuruti saran ibunya, bungsu dari tujuh bersaudara ini akhirnya dengan berat hati memutuskan untuk bekerja di PLN, Februari 1977. €œLama-lama saya jatuh cinta dengan budaya dan tantangannya,€ ujarnya.

Maka, digelutilah €œmedan listrik€ itu, yang diawali dari pengujian peralatan mesin pada proyek induk pembangkit termal. €œTugas saya pertama adalah menguji peralatan Pusat Listrik Tenaga Gas di Tanjung Priok,€ kenang Eddie. Masih di lingkungan pembangkit itu, karirnya menanjak: jadi kepala bagian konstruksi, lalu kepala bagian perencanaan. Setelah sepuluh tahun di lapangan, ia ingin tantangan baru. Atas biaya perusahaan, ia studi S2 di University of London di London, Inggris, mengambil jurusan sistem kendali yang merupakan campuran matematika dan komputer.

Setelah menggondol gelar M.Sc., 1989, ia kembali ke Tanah Air dan ditempatkan di pusat pelayanan mesin. €œDi sini terbuka kesempatan untuk tetap mendalami bidang keteknikan atau memilih mengembangkan manajemen,€ papar Eddie. €œAlhamdulillah, saya pindah menjadi staf kepala dinas di PLN Pusat, tetapi masih bidang teknis operasi jaringan,€ ujarnya lagi. Selanjutnya, lima tahun ia menjabat Kepala Bagian Operasi dan Logistik.

Keinginannya untuk belajar manajemen tak pernah pupus. Atas biaya sendiri Eddie belajar manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulia. €œSaya sadar ternyata banyak cara menyelesaikan masalah perusahaan yang sebenarnya merupakan titik tolak kemampuan eksekutif memandang persoalan,€ begitu kata Eddie setelah belajar manajemen dan bertemu dengan para eksekutif di sekolah tersebut.

Sebelum diangkat menjadi Dirut PLN menggantikan Kuntoro Mangkusubroto, pada Maret 2001, Eddie pernah menjabat direktur Usaha dan Pengembangan PT PLN PJB I, direktur Pemasaran dan Distribusi PT PLN (Persero). Kini beban berat ada di pundaknya: soal restrukturisasi keuangan PLN yang belum juga membaik, utang jangka pendek PLN mencapai Rp 90 triliun dan jangka panjang Rp 40 triliun. Belum lagi persoalan dengan Overseas Private Insurance Corporation dan kontrak listrik swasta yang baru 50 persen terselesaikan.

Itu semua tantangan bagi pria yang memang suka tantangan ini. €œMasalah tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang. Itulah sikap mental yang sekarang saya bangun,€ ujar Eddie. Dan yang membuatnya bahagia selama berkarir kalau kelistrikan membaik.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


ED ZOELVERDI | EDDIE LEMBONG | EDDIE MARJUKI NALAPRAYA | EDHY HANDOKO | EDI KOWARA ADIWINATA | EDI SEDYAWATI | EDUARD KAREL MARKUS MASINAMBOW | EKA DARMAPUTERA ALIAS THE OEN HIEN | ELFA SECIORIA HASBULLAH | ELFIRA Rosa Nasution | ELLIAS PICAL | ELLISA MERIAM BELLINA MARIA BAMBOE | ELLY CHANDRA H.O.K TANZIL | ELVI SUKAESIH | EMHA AINUN NAJIB | EMIL SALIM | EMMA TAHAPARY | ENDANG ADI NUSANTARA SAIFUDDIN ANSHARI | ENDANG WIJAYA | ENGKIN ZAINAL MUTTAQIEN | ERIC F.H. SAMOLA | ERNA ANASTASIA WITOELAR | EUIS DARLIAH | EVA ARNAZ (Evayanthi Arnaz) | Eddie Widiono Suwondho | Edi Sedyawati | Edi Subekti | Eko Budihardjo | Elvyn G. Masassya | Emil Salim | Emmy Hafild | Endriartono Sutarto


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq