A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

GEORGE ADRIAAN DE NEVE




Nama :
GEORGE ADRIAAN DE NEVE

Lahir :
Banjarmasin, 1916

Agama :
Protestan

Pendidikan :
-MULO, Banjarmasin
-HBS Kwitang, Jakarta (1934)
-Jurusan Arsitektur Technische Hogeschool, Bandung (tidak selesai)
-Universitas Leiden, Negeri Belanda (1940)


Karir :
-Asisten Laboratorium Perusahaan Minyak Delft, Belanda (1940)
-Pegawai Pertambangan Batu Bara di Delft, Belanda
-Sukarelawan Perang Dunia II di Brisbane Australia (1944)
-Bekerja di Laboratorium Paleontologi & Museum Geologi Vulkanologisch -Onderzoek, sekarang Direktorat Vulkanologi (1950-1981), Bandung
-Guru Besar Universitas Andalas, Padang (1957)
-Dosen Universitas Sumatera Utara, Medan (1959)
-Guru Besar Geologi Unpad, Bandung (1961-1968)
-Membantu Direktorat Vulkanologi (1981-sekarang)


Alamat Rumah :
Jalan Taman Cibeunying Selatan, Bandung

Alamat Kantor :
Direktorat Vulkanologi, Bandung

 

GEORGE ADRIAAN DE NEVE


Sejak 1952 George de Neve sudah meramalkan, Gunung Colo di Sulawesi Tengah akan meletus hebat. Dan benar terjadi, seperti terbukti pada akhir Juni 1983. Setelah itu, ia dengan penuh keyakinan meramalkan, Gunung Krakatau di Selat Sunda -- yang meletus dahsyat pada 1883 -- akan meletus kembali pada 1990. "Meskipun tidak sedahsyat seabad yang lalu," katanya.

De Neve, "Belanda totok" yang lahir di Banjarmasin, boleh dikatakan spesialis Krakatau. Gunung yang diselidikinya sejak 1950 itu merupakan bagian terpenting dari seluruh telaahnya tentang gunung berapi. Sekitar 8.000 artikel tentang Krakatau ada dalam koleksinya. "Sayang, saya baru membaca dan memahami kira-kira 7.000 artikel saja, karena kesulitan bahasa," ujarnya. Dalam simposium untuk memperingati seabad Krakatau, Agustus 1983, ia membacakan artikel panjang tentang gunung berapi itu.

Ayahnya, Edward Adriaan, adalah bekas arsitek yang pernah bekerja di PU Banjarmasin. Sejak kecil George akrab dengan gunung dan hutan Kalimantan. Begitu merampungkan MULO di Banjarmasin, ia bertekad menjadi ahli gunung berapi. Melanjutkan di HBS Jakarta, tamat pada 1934, terbuka peluang baginya untuk belajar geologi di Negeri Belanda. "Tetapi keadaan belum memungkinkan waktu itu," kata De Neve. Itu sebabnya ia lalu mendaftar pada jurusan arsitektur Technische Hogeschool (THS) -- sekarang ITB -- di Bandung.

Dua tahun kemudian, kesempatan ke Negeri Belanda terbuka. Ia tinggalkan THS. Pada tahun pertama, ia menjadi "tukang angkat" barang dan batuan hasil penelitian para seniornya. Baru pada tahun kedua, tugas penelitian gunung diberikan kepadanya. Karena sasaran tugasnya juga di negeri-negeri Jerman, Italia, Prancis, dan Spanyol, ia diharuskan lebih dahulu menguasai keempat bahasa negeri tersebut. "Kalau tidak berhasil, jangan harap bisa praktek lapangan," ujar De Neve, yang juga mahir berbahasa Inggris dan Belanda.De Neve balik ke Indonesia pada 1944. Waktu itu, sebagai sukarelawan Perang Dunia II, ia dikirim ke Brisbane, Australia, dengan kapal penuh amunisi. Menjelang Australia, masih di tengah laut, datang pengumuman bahwa Perang telah usai. "Dan kapalnya mendarat di Jakarta. Akhirnya saya bertekad tidak akan kembali ke Belanda," tutur De Neve.

Sarjana geologi Belanda itu memutuskan kembali ke Bandung. Saat itu, 1945, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, dan De Neve memilih kewarganegaraan RI pada kesempatan pertama. "Saya lahir di Indonesia. Wajar kalau saya memilih menjadi warga negara Indonesia," katanya. Pada 1950, ia menggantikan kedudukan W.A. Petroeschevsky, berkebangsaan Belanda, yang dipensiunkan dari Vulkanologisch Onderzoek. De Neve warga negara Indonesia pertama yang memimpin lembaga yang kemudian disebut Dinas Gunung Berapi (DGB).

Saat itu DGB masih kekurangan sarana untuk membuat peta gunung berapi di Indonesia, termasuk sarana pembuatan foto dari udara. Kebetulan Alex Kawilarang, yang sedang menjabat Panglima Divisi Siliwangi, adalah teman akrabnya di HBS. Dengan surat Kawilarang ia memperoleh fasilitas pesawat terbang untuk survei udara. Pada 4 Agustus 1950, ia melakukan "civil mission pertama bagi angkatan udara, dan juga penelitian udara pertama bagi DGB" terhadap Krakatau.

Resmi berhenti mengajar dari Unpad, 1968, ia kembali aktif pada DGB yang berganti nama menjadi Direktorat Vulkanologi. Pensiun pada 1981, ia kemudian masih membantu di sana.

Dari perkawinannya dengan Dolly Coldenhoff, gadis Belanda kelahiran Pontianak yang ia pacari sejak di THS, De Neve dianugerahi tiga anak. Ia menggemari gudeg dan rendang. Ke kantor yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, ia berjalan kaki. "Saya tidak punya kendaraan pribadi," katanya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


GANDHI | GATOT Achmad Safari Amrih | GATOT SOEHERMAN | GEDE PUDJA | GEDONG BAGOES OKA | GEORGE ADRIAAN DE NEVE | GERARDUS MAYELA SUDARTA | GHEA SUKASAH | GOENAWAN PARTOWIDIGDO | GOENAWAN SUSATYO MOHAMAD | GOPE T. SAMTANI | GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO | GREGORIUS SUGIHARTO | GUFRAN DWIPAYANA | GUNAWAN SIMON | GUNO SAMEKTO | GUSTAAF HENDRIK MANTIK | Garin Nugroho | Gede Bayu Suparta | Graito Usodo | Gusnaldi


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq