
Nama : GOENAWAN PARTOWIDIGDO
Lahir : Nganjuk, Jawa Timur, 1 Maret 1909
Agama : Islam
Pendidikan : -ELS, Bojonegoro (1923)
-MULO, Surabaya (1926)
-AMS, Yogyakarta (1929)
-Geneeskundige Hogeschool, Jakarta (1938)
Karir : -Dokter Pasukan Peta (1942)
-Anggota BKR (1945)
-Pemimpin Sanatorium Cisarua (1950-sekarang)
Alamat Rumah : Kompleks Sanatorium Cisarua Bogor, PO Box 88
Alamat Kantor : Sanatorium Cisarua Bogor, PO Box 88
|
|
GOENAWAN PARTOWIDIGDO
Pertengahan tahun 70-an, nama Goenawan dikenal karena upayanya menyembuhkan penyakit kanker dengan singkong gendruwo (mendioca sao pedro petro). Ia dianggap menggunakan cara inkonvensional. "Singkong itu mengandung glucoside amygdalin dan enzyme emulsin," ujarnya. Menurut dia, enzyme emulsin dapat mengeluarkan HCN dari glucoside amygdalin bila ditumbuk halus dan dibasahi. "HCN itulah yang merupakan racun paling ganas yang dapat menghentikan pernapasan sel kanker," ia menambahkan.
Dengan penemuannya itu ia kemudian mendapat undangan mengikuti seminar penyembuhan kanker, di dalam dan di luar negeri. Dan meskipun tidak lagi mengobati kanker, ia masih mendapat undangan dari Cancer Control Society untuk pertemuan di Los Angeles, Maret 1985. Sayang, ia tidak berangkat karena tidak punya uang.Sejak tahun 1950, Goenawan memimpin Sanatorium Cisarua, rumah sakit untuk para penderita penyakit TBC. Di kompleks itu pula sampai hari tuanya ia tinggal. Rumahnya dinamakan Lembah Damai, dan bila pintu pagar rumahnya terbuka, itu pertanda orang boleh datang bertamu padanya.
Di zaman Jepang, ia menjadi dokter Peta. Dan tahun 1945 ia bergabung dalam BKR. Walau pensiun sebagai dokter Sanatorium Cisarua tahun 1975, ia masih aktif di sana. "Tenaga dokternya masih kurang, sehingga harus dibantu," katanya. Di luar kegiatan itu, ia membantu istrinya, Soetjiati berkebun. Wanita tua ini dinikahinya justru setelah Goenawan pensiun, 14 Juli 1978. Sebagai pelengkap mereka angkat seorang anak lelaki, yang sedang berangkat remaja.
Soetjiati tidak punya pembantu untuk mengurus kebunnya seluas 2.000 meter persegi itu, selain penduduk sekitar yang kadang ikut membantunya. Umumnya mereka adalah yang pernah dibantu Goenawan, bila mereka sakit. "Sekarang, mereka datang kepada saya bukan untuk berobat fisik, tetapi berobat jiwa," tutur Goenawan.
Yang dikecewakan Goenawan, penemuannya tidak digubris para ahli di Indonesia. "Mereka justru lebih memperhatikan penemuan ahli-ahli luar negeri. Padahal, pendapat saya lebih didengar oleh ahli-ahli di luar negeri," tuturnya.
|