A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

GERARDUS MAYELA SUDARTA




Nama :
GERARDUS MAYELA SUDARTA

Lahir :
Klaten, Jawa Tengah, 20 Februari 1948

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD, Klaten (1959)
-SMP, Klaten (1962)
-SMA, Klaten (1965)
-Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (sampai tingkat II, 1967)


Karir :
-Kartunis majalah Merah Putih di Jakarta (1966)
-Desainer museum sejarah Monas, Jakarta (1966)
-Anggota tim desainer Dasa Ika Karya (untuk monumen Pahlawan Ravolusi Lubang Buaya, Jakarta (1967)
-Karikaturis/anggota redaksi harian Kompas, Jakarta (1967 -- sekarang)


Karya :
-Smiles in Indonesia, bersama O.G. Roeder, Gunung Agung 1974
-Senilukis Bali dalam Tiga Generasi, Kompas, 1975
-Indonesia 1967-1980, (kumpulan kartun), Gramedia, 1980


Alamat Rumah :
Jalan G. No. 50 Rt 013 Rw 01, Kebon Jeruk, Palmerah, Jakarta Barat

Alamat Kantor :
Harian Kompas Palmerah Selatan 26-28, Jakarta Pusat 10270 Telp: 5483008

 

GERARDUS MAYELA SUDARTA


Meja kerja G.M. Sudarta di kantor redaksi Kompas dipenuhi buku karikatur dan kartun luar negeri. Diramaikan lagi dengan barang seni berbagai daerah Indonesia, termasuk patung Asmat dari Irian Jaya. Di atas rak terpajang fotonya sedang menodongkan pistol ke jidat sendiri, ala film The Deer Hunter. "Saya memang terkesan oleh film itu," ujar sang karikaturis.

Dengan todongan di keningnya, karikaturis yang dikenal lewat Oom Pasikom dalam harian Kompas itu seperti berjanji kepada diri sendiri. "Kalau oleh suatu sebab saya tidak bisa lagi membuat karikatur, saya akan bunuh diri," katanya, serius. "Camkan kata-kata saya ini!"

Jebolan Sekolah Tinggi Seni Rupa, Asri, Yogyakarta, itu mula- mula bergabung dengan sanggar Almarhum Sri Harto. Di SMA, Sudarta membuat komik dan gambar untuk Pos Minggu dan Suluh Indonesia di Jakarta, serta Penyebar Semangat, Surabaya. Bersama Pramono dan Sapto Hadi, ia kemudian terpilih mendesain diaroma Museum Nasional, Jakarta. Sudarta turut mendesain Monumen Pahlawan Revolusi, Lubang Buaya. Lewat info wartawan Jasso Winarto, ia melamar lowongan karikaturis di Kompas, 1967.

Sebagai karikaturis, kadang-kadang, ia memperoleh hambatan dari luar. Kita ini orang Timur, kata pengagum kartunis David Levine dan Oliphan dari Washington Post, serta A. Sibarani, itu. "Tidak usah pejabat, kita pun kalau dikritik sering marah." Karena itu, walaupun misinya untuk memperbaiki, "Dengan karikatur saya tidak ingin mengubah pendapat seseorang," katanya. Sudarta menamakannya sebagai "Karikatur Tepo Seliro," karikatur tenggang rasa.

Popularitas Oom Pasikom sempat dimanfaatkan oleh sebuah perusahaan sebagai merk produk selai kacang. Ini mendorong Sudarta memperkarakannya lewat penasihat hukum, awal 1985.

Anak Klaten, Jawa Tengah, yang meraih Hadiah Adinegoro 1983 dan 1984, dan penghargaan Kalam Kencana dari Dewan Pers, itu beberapa kali berpameran, di dalam dan luar negeri. Ia mengumpulkan karya kartunnya dalam Duillee, 1973, Smiles in Indonesia (bersama O.G. Roeder), 1974, Indonesia 1967-1980, 1980, dan Anti Depressant (terbitan berkala tentang humor dokter), 1982-1984.

G.M. Sudarta menikahi wanita asal Ambon, Rosita Souhoka.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


GANDHI | GATOT Achmad Safari Amrih | GATOT SOEHERMAN | GEDE PUDJA | GEDONG BAGOES OKA | GEORGE ADRIAAN DE NEVE | GERARDUS MAYELA SUDARTA | GHEA SUKASAH | GOENAWAN PARTOWIDIGDO | GOENAWAN SUSATYO MOHAMAD | GOPE T. SAMTANI | GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO | GREGORIUS SUGIHARTO | GUFRAN DWIPAYANA | GUNAWAN SIMON | GUNO SAMEKTO | GUSTAAF HENDRIK MANTIK | Garin Nugroho | Gede Bayu Suparta | Graito Usodo | Gusnaldi


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq