
Nama : Garin Nugroho Riyanto
Lahir : Yogyakarta, 6 Juni 1961
Agama : Islam
Pendidikan : - SMA Loyola, Semarang
- Fakultas Sinematografi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), (1985)
- Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1991)
Karir : - Pengurus Yayasan SET (1999-sekarang)
- Pengurus Yayasan Kelir (2000-sekarang)
- Staf Pengajar di Fakultas Film dan TV, IKJ (1998)
- Sutradara (1983-sekarang)
Karya : Buku :
- Kekuasaan & Hiburan, Penerbit Bintang, Yogyakarta (1995);
- Arts, Culture & Maecenas, Penerbit Kigyo Mecenant Kogiakai (1995)
- Peranan Badan Sensor Film dalam Penegakan Hukum, UI (1992)
- Berpikir Integratif dalam Penyutradaraan, IKJ (1986)
Penghargaan : - Peraih FIPRESCI pada Festival Film Internasional Berlin 1996 untuk film Bulan Tertusuk Ilalang (1995)
- Peraih Silver Leopard Video pada Festival Film Internasional Locarno 2000 untuk film Puisi Tak Terkuburkan (2000)
- Nominee Silver Screen Award untuk kategori Best Asian Feature Film pada Festival Film Internasional Singapore 2001 untuk film Puisi Tak Terkuburkan (2000)
- Nominee Silver Screen Award kategori Best Asian Feature Film pada Festival Film Internasional Singapore 1999 untuk film Daun di Atas Bantal (1998)
- Pemenang Special Jury Prize pada Festival Film Internasional Tokyo 1998 untuk film Daun di Atas Bantal (1998)
- Pemenang Gold Award pada Festival Film Internasional Tokyo 1994 untuk film Surat untuk Bidadari (1994)
- Sutradara muda terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik 1992 di Korea Selatan
- Penghargaan khusus sebagai Film Pendidikan Terbaik pada FFI 1986 untuk film Tepuk Tangan
- Penghargaan khusus untuk film Menyuling Masa Depan pada Festival Film dan Video Industri di Tokyo, 1988
- Film Dokumenter Terbaik Mengenai Lingkungan Hidup, 1989, untuk film Tantangan
- Penghargaan promosi dalam International Ecological Film Festival di Freiburg, Jerman, 1992, untuk film dokumenter Air dan Romi
- Meraih lima penghargaan pada FFI 1991 untuk film Cinta dalam Sepotong Roti kategori Film, Artistik, Editing, Musik, dan Fotografi Terbaik. Film ini juga meraih Piala H. Antemas karena masuk dalam film unggulan terlaris sepanjang 1991-1992
- Penghargaan tertinggi Cariddi d'Oro dalam Festival Film Taormina, Italia, 1994, untuk film Surat untuk Bidadari
- Penghargaan utama, Apsara Emas, pada Festival Film Asia Tenggara 1997 di Kamboja untuk film Bulan Tertusuk Ilalang
- Penghargaan Berliner Zeitung Prize dalam Forum Des Jungen Folms, forum penting untuk film alternatif di Festival Film Berlin (1994), untuk film Surat untuk Bidadari
- Network for the Promotional of Asian Cinema (NETPAC) Award kepada Bulan Tertusuk Ilalang pada Festival Film Internasional Berlin (1996)
Keluarga : Ayah : Sutjipto Amien
Ibu : Mariah Amien
Istri : Riani Ikawati
Anak : 1. Kamila Andinisari
2. Gibran Pagari
3. Adinda Hanamiji
Alamat Rumah : Komplek Karang Tengah Permai TW 3/7, Ciledug, Tangerang
Telepon (021) 5855755
Alamat Kantor : IKJ, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat
|
|
Garin Nugroho
KALAU film-film karya Garin Nugroho mendapat banyak penghargaan internasional, itu tak berarti ia meraihnya dengan mudah. Memulai dengan membuat film dokumenter, ia mengaku cukup sulit menjajakan karya-karyanya. Untuk menjual ide film tentang anak seribu pulau, misalnya, ia membutuhkan waktu tiga tahun. Setelah ternyata film itu, Anak Seribu Pulau meledak di bioskop-bioskop, dan mendapat penghargaan, karya dokumenter ini menjadi bahan riset sejumlah universitas.
Dimulai dengan Anak Seribu Pulau, karya-karya dokumenter Garin berikutnya satu demi satu tergilir dihargai. Tepuk Tangan, misalnya, yang terpilih sebagai Film Pendidikan Terbaik pada Festival Film Indonesia 1986. Lalu pada ajang yang sama, Komodo Bermata Purba membuahkan gelar penata produksi terbaik. Sedang Catatan Kecil Bumiharjo mendominasi FFI 1987. Tanah Tantangan menang di FFI 1989. Beberapa film dokumenternya yang lain memperoleh penghargaan di luar negeri. Sebut misalnya Menyuling Masa Depan (1988) dan Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan dihargai di Jepang, serta Air dan Romi dan Walter Spies di Jerman.
Adalah lewat film cerita nama Garin Nugroho melambung: Cinta dalam Sepotong Roti, Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, serta Daun di Atas Bantal. Penghargaan tidak hanya diraih di dalam negeri, tapi ia juga menyabet awards di festival internasional. Saking seringnya ikut festival dan menang, citra Garin sebagai sineas spesialis festival pun melekat.
Namun tak dengan mudah. Saat mula menembus festival internasional, ia betul-betul seperti pedagang keliling yang ngider dari rumah ke rumah. Tidak ada distributor yang mau mengedarkannya. Ia pun melakukannya sendiri, termasuk membuat pamflet. Kalau perlu ia mendatangi juri di hotel, memasukkan contoh karya di bawah pintu.
Dalam membuat film, Garin kadang bersikap "kejam". Pada film Bulan Tertusuk Ilalang (1996), ada adegan bercinta yang berdarah. "Kejam"nya itu, ia tidak mau memakai trick. "Harus ada darah yang mengalir, dan pemain merasakan kepedihannya," kata ayah tiga anak itu dalam sebuah acara diskusi di Yogyakarta, Maret 2001.
Ketika syuting film Surat untuk Bidadari (1994) di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ada adegan pemerkosaan. Bagi orang Sumba, adegan seperti itu tabu. Karena Garin bersiteguh, areal pembuatannya pun ditutupi dengan kain hitam. Tapi, ternyata, banyak warga setempat ingin menyaksikan pengambilan adegan "tabu" itu -- mereka mengintip dengan memanjat pohon.
Pria kelahiran Yogyakarta ini menyelesaikan SMA di Semarang. Ayahnya, Sutjipto Amien, penerjemah buku yang pernah menjadi Kepala Kantor Pos Magelang. Ibunya, Mariah Amien, pernah menjabat Wakil Kepala Kantor Pos Yogyakarta. Selepas SMA, Garin mendaftar ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Fakultas Antropologi Universitas Indonesia. Tapi, akhirnya Garin lebih memilih Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Fakultas Sosiologi Hukum Universitas Indonesia, yang masing-masing diselesaikannya pada 1985 dan 1991.
Selain mengajar di almamaternya (IKJ), Garin menekuni menulis dan membuat klip musik -- yang ia andalkan untuk mengisi kantung pribadi. Yang masih ia cita-citakan, membuat miniseri untuk televisi dan membuat film sensual yang bernilai estetika tinggi.
|