
Nama : LEO IMAM SUKARNO (LEO KRISTI)
Lahir : Surabaya, 8 Agustus 1949
Agama : Islam
Pendidikan : -SD Kristen, Surabaya (1961)
-SMP IV, Surabaya (1964)
-SMA I, Surabaya (1967)
-Fakultas Teknik Institut Teknologi Surabaya (tidak selesai, 1971)
-Kursus Musik Dasar Tino Kerdijk
-Kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Oei Siok Gwan
Karir : -Penjual buku Groliers American Books
-Karyawan pabrik cat Texmura
-Penyanyi di restoran China Oriental dan Chez Rose (1974-1975)
-Menyanyi di LIA dan Goethe Institut. Albumnya antara lain, Nyanyian Fajar (1975)
-Nyanyian Malam (1976)
-Nyanyian Tanah Merdeka (1977)
-Nyanyian Cinta (1978)
-Lintasan Biru Emas dan Potret Kecil Citra Negeriku (1984)
-Biru Emas Bintang Tani (1985)
Alamat Rumah : Jalan Maret 6, Surabaya
|
|
LEO IMAM SUKARNO (LEO KRISTI)
Di masa kecilnya, hampir tiap pagi menjelang subuh Leo terbiasa dibuai irama musik. Ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, pensiunan pegawai negeri, kebetulan pemain musik. Di pagi yang dingin itu, dari kamar ayah dan ibunya, selalu terdengar musik lembut. "Rasanya, indah sekali dan menimbulkan goresan mendalam di sanubari saya," Leo mengenang.
Anak kedua dari empat bersaudara ini sejak di SD aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja, bagian dari kegiatan sekolahnya yang Kristen -- padahal ia sendiri Islam. Ia pernah mengatakan, "Saya menerima musik sebagai sahabat, menyambut nyanyian sebagai kecintaan." Di SMP pula ia mendapat sebuah gitar dari ayahnya. Lalu, ia masuk kursus Tony Kardijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Untuk menyanyi ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Topan. "Itulah sekolah formal saya di bidang musik," tuturnya.Di SMA I Surabaya, ia tidak lepas dari kewajiban berbaris dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan -- atas ketentuan kepala sekolah yang patriotismenya menggebu-gebu. "Tiap minggu bisa tiga sampai empat kali," tutur Leo.
Musik Leo, yang lahir atas nama grup Konser Rakyat Leo Kristi -- semula bersama Naniel, Mung, dan penyanyi Tatiek dan Yayuk, lantas mengubah barisan dengan anggota Ote, Komang, Cok Bagus, dan penyanyi kakak beradik Yana dan Nana van Derkley, selain Mung yang masih tetap -- menyenandungkan balada, semangat cinta bangsa, dan kisah-kisah rakyat. Lebih banyak dalam irama folk, country, dan didukung dengan lirik-lirik yang puitis. "Ibulah sumber magnet, yang menggebrak saya dalam kesungguhan. Suatu hari beliau berkata, jadilah musikus yang patriotik," kata Leo.
Hampir tak pernah absen dalam beberapa kali pementasan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus di TIM Jakarta, grup Leo juga menelurkan beberapa album. Di antaranya Nyanyian Fajar, Nyanyian Malam, Nyanyian Tanah Merdeka, Nyanyian Cinta, Biru Emas Bintang Tani, dan Lintasan Hijau Hitam. Bagi grup Leo, rekaman, konon, lebih merupakan paket dokumentasi perkembangan musik mereka.
|