
Nama : Luluk Purwanto
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 25 Juni 1959
Agama : Islam
Pendidikan : - The Sydney Conservatorium of Music, Australia (1977)
- Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1987)
Karir : - Musisi jazz, telah menelurkan album antara lain Ojo Ngono (1983), Born Free (1996); mengadakan konser jazz keliling Eropa, Australia, dan Amerika
Keluarga : Ayah : Julian Purwanto
Ibu : Aysha Gani
Suami : Rene van Helsdingen
Alamat Rumah : Amsterdam, Nederland
Website : www.luluk.com
|
|
Luluk Purwanto
Penampilan musisi jazz ini khas: berikat kepala dari kain batik atau lurik. Yang lebih khas lagi, bersama The Helsdingen Trio-- Marcello Pelitteri (drum), Essiet Okon Essiet (bass), dan Rene van Helsdingen (piano)--ia menggunakan panggung bus ketika mengelilingkan pementasannya. Awalnya, bus itu ia buat bersama pelukis Marcus di Belanda, kemudian mereka bawa keliling ke Eropa, Australia, dan Indonesia. Dengan bus itu pula, menurut rencana, ia akan mengadakan tur konser panjang Amerika, dari 27 Juni sampai 15 Oktober 2002.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini--kelahiran Solo dibesarkan di Yogya--memang terbentuk dalam keluarga musik. Ibunya, Aysha Gani, vokalis musik klasik yang mengepalai sebuah sekolah musik. Julian Purwanto, ayahnya, juga seorang penyanyi klasik. €œTapi, mereka membebaskan saya bermain musik jazz,€ ujarnya. Di samping dari kedua orangtuanya, sebagai dasar, ia juga belajar musik klasik pada Karnaji Kristanto dan Nicolay Varfolomeye. Tatkala mendapat beasiswa untuk kuliah The Sydney Conservatorium of Music, Australia, ia selalu memainkan biola. Karena itulah, ia memilih spesialisasi di jenis alat musik gesek ini. Ia kemudian memperdalamnya lagi di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, selesai 1987.
Perkenalannya dengan Rene van Helsdingen, musisi asal Belanda pada 1984 dan berlanjut ke jenjang pernikahan pada 1987, semakin membenamkan Luluk dalam kehidupan bermusik. €œMusik untuk saya dan saya untuk musik. Dan itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri,€ ungkapnya. Sejak tinggal di Amsterdam, Belanda, bersama suaminya, hingga kini, ia telah muncul di lebih 350 festival kesenian di kota-kota di seluruh Eropa dan Australia. Malang melintang di gedung konser dan klup jazz di banyak negara. Luluk pernah tampil antara lain bersama musisi Billy Cobham, Nippy dan Shanna Noya, serta Buby Chen.
Dari pengalamannya itu, Luluk bisa membandingkan betapa apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik jazz, dalam banyak hal, belum memuaskan. Berbeda dengan di Eropa, kata Luluk, di Belanda ada 60 kota yang siap menerima musisi jazz, di Jerman ada 200 kota. €œKita punya potensi musisi jazz andal, tapi kelemahannya kita jarang mengadakan pertunjukan,€ ujarnya.
Setelah malang melintang di berbagai negara, ia punya cita-cita sederhana: pulang ke kampungnya di Yogya dan membuat pondok musik di Pulowatu, Desa Pakem, Yogyakarta, dekat daerah wisata Kaliurang. Selain hobi orek-orek alias menggambar apa saja, wanita yang belum punya anak ini gemar memasak. Olahraganya push up 25 kali selama tiga kali dalam sehari. €œSaya menyarankan agar setiap seniman melakukan push up, karena akan memperlancar aliran darah,€ katanya.
|