A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

LIEM KHIEM YANG




Nama :
LIEM KHIEM YANG

Lahir :
Semarang, 30 Agustus 1933

Agama :
Protestan

Pendidikan :
-SD di Semarang
-SMP, Semarang (1950)
-STT di Jakarta (1950-1956)
-Memperoleh Sarjana Muda
-Rheinische Friedrich Wilhelm Universitas Bonn, di Jerman Barat (Doktor, 1964)


Karir :
-Penerjemah Alkitab (Perjanjian Baru) Lembaga Alkitab Indonesia di Bogor (1964-1966)
-Sekretaris Studi Proyek Khusus dalam kerja sama dengan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (1966-1967)
-Dosen tetap STT Jakarta (1967) ; Guru Besar STT di Jakarta (1973)
-Rektor STT Jakarta (1977-1984)
-Dosen Agama Kristen di Fakultas Hukum dan FISIP UI (sekarang)
-Pendeta Gereja Isa Almasih Semarang (1956)


Kegiatan Lain :
-Komisi Dewan Gereja-Gereja Indonesia
-Kepengurusan Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologia di Indonesia dan Asia Tenggara
-Kepengurusan Badan Penerbit Kristen
-Anggota Theological Education Fund (1972-1977)
-Pendeta Mahasiswa dan Sekretaris II Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia


Alamat Rumah :
Jalan Kapten Tendean 24, Jakarta Selatan Telp: 790752

Alamat Kantor :
Sekolah Tinggi Teologia Jakarta Jalan Proklamasi 27, Jakarta Pusat Telp: 882517

 

LIEM KHIEM YANG


Sejak di SLTA, di Semarang, ia tidak menyukai pelajaran eksakta. "Kebetulan, cara mengajar guru agama di sekolah itu paling menawan," ujar Liem Khiem Yang. Guru ini pulalah yang menganjurkan ia meneruskan studi ke Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta (STT-J).

Kebetulan, guru agama itu kenal baik dengan Rektor STT (dulu Hoogere Theologische School), yang dijabat seorang Belanda. Bagaimana sikap orangtuanya? "Mereka sih terserah pada keputusan anak," kata Khiem, yang berayahkan seorang pegawai perusahaan minyak milik Belanda, BPM.

Sebagai calon pendeta, di STT-J ia harus mendalami Alkitab, dan untuk itu dituntut menguasai paling sedikit tiga bahasa: Ibrani, Yunani, dan Latin. Lelaki kelahiran Semarang ini juga fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman.

Lima tahun di STT-J, pada 1956 Khiem Yang kembali ke Semarang, dan ditahbiskan menjadi Pendeta Gereja Isa Almasih. Dalam usia 23 tahun saat itu, jemaah yang dihadapinya, rata- rata di atas usianya.Dua tahun kemudian, ia ditugaskan belajar di Rheinische Friedriech Wilhelm Universitap4t, Bonn, Jerman Barat. Pilihan jatuh kepada Khiem Yang, karena ia menguasai bahasa Alkitab. Dengan disertasi Der Philemonbrief im Zusammenhang mit dem Theologishen Denken des Apostels Paulus, ia meraih gelar doktor, 1964.

STT-J, yang dipimpinnya sejak 1977, mempunyai 200-an mahasiswa, dengan 13 pengajar tetap dan 6 pengajar tidak tetap (akhir 1984). Di sana dijalankan tiga program pendidikan kependetaan. Di samping untuk meraih gelar Sarjana Theologi (S.Th.), ada program pasca-sarjana untuk gelar Master Theologi (M.Th.), dan Doktor Theologi (D.Th.).

Dari pengamatannya bertahun-tahun, Khiem Yang menyimpulkan, minat terhadap STT-J terus meningkat. "Saya tidak tahu motivasi mereka. Apakah karena panggilan jiwa, atau sekadar mencari kesibukan," ujarnya. Soalnya, terbukti tidak semua lulusan STT-J menjadi pendeta.

Pada 1960, sejumlah mahasiswa Indonesia, terutama anggota GMKI, berkumpul di Swiss. Ikut pula seorang gadis asal Manado, Eugeneie Nelwan, yang menetap di Negeri Belanda bersama orangtuanya. Berkenalan dan bergaul lebih akrab, pada 1962 mereka sepakat menikah. Yang kemudian membingungkan Khiem Yang: siapa yang akan menjadi walinya? Untung atase militer KBRI di Bonn, D.I. Panjaitan, yang kemudian gugur sebagai Pahlawan Revolusi, bersedia menjadi wali. Pasangan ini dianugerahi seorang anak perempuan.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


LASIYAH SUTANTO | LELY SAMPOERNO | LEO IMAM SUKARNO (LEO KRISTI) | LEO SOEKOTO S.J. | LEONARDUS BENYAMIN MOERDANI | LIE TEK TJENG | LIEM KHIEM YANG | LIEM SWIE KING | LINUS SURYADI AGUSTINUS | LIUS PONGOH | LUGITO HAYADI | LUKMAN HARUN | LUKMAN NIODE | LYDIA RUTH ELIZABETH KANDOU | Laksamana Sukardi | Landung Simatupang | Lily Koeshartini Somadikarta | Lola Amaria | Luhut Manihot Parulian Pangaribuan | Luluk Purwanto


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq