
Nama : LEONARDUS BENYAMIN MOERDANI
Lahir : Cepu, Jawa Tengah, 2 Oktober 1932
Agama : Katolik
Pendidikan : -SMP
-SMA, Solo (1950)
-Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat, Bandung (1951-1952)
-Pendidikan Perwira Komando, AS (1960)
Karir : -Pelatih Korps Komando AD (1952)
-Pelatih Sekolah Kader Infanteri, Bandung (1952-1954)
-Pelatih Sekolah Komando, Batujajar (1954-1955)
-Kepala Pelatih Sekolah Komando, Batujajar (1955-1956)
-Komandan Kompi RPKAD (1956-1957)
-Komandan Batalyon 530/Para, Kostrad (1962-1963)
-Komandan Batalyon I/RPKAD (1963-1964)
-Perwira Operasi RPKAD (1964)
-Perwira Staf Operasi Kostrad (1965)
-Asisten I Kopur, Kostrad (1965)
-Liaison Officer, Kuala Lumpur (1967-1971)
-Konsul Jenderal RI di Seoul (1971-1974)
-Pimpinan Satuan Tugas Inteligen Kopkamtib (1974)
Asisten Inteligen Hankam (1974-1983)
Kepala Pusat Inteligen Strategis kemudian Badan Inteligen Strategis (1977-sekarang)
Panglima Angkatan Bersenjata RI/Panglima Kopkamtib (1983- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Terusan Hang Lekir IV, Simpruk, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Merdeka Barat 13, Jakarta Pusat
|
|
LEONARDUS BENYAMIN MOERDANI
Di mata umum, L.B. Moerdani terkesan angker dan tertutup. Dan ia, memang, jarang tersenyum. "Saya ini lahir di bawah tanda Barat, Libra. Orang Libra itu diam, tidak menunjukkan emosi," katanya di depan peserta diskusi merayakan 15 tahun majalah TEMPO, Maret 1986. "Kalau menangis tidak berteriak, cuma keluar air mata. Kalau marah, tidak terlihat di muka, tapi di dalam hati. Maka, banyak sekali orang Libra yang menderita .."
Jarang, memang, Pangab-Pangkopkamtib ini berbicara seterbuka dan sejenaka itu. "Dan kalau dari tahun Cina," ujar Jenderal Moerdani, "saya lahir di bawah tanda monyet. Monyet itu, merengut atau tertawa rupanya sama." Peserta diskusi, yang sebagian besar wartawan, tertawa.
Tak kurang menariknya ketika tokoh nomor satu di jajaran ABRI itu mengatakan telah memberikan keterbukaan maksimum kepada pers. "Falsafah yang dianut Kopkamtib, sebagai penanggung jawab keamanan, adalah memperlebar sedikit demi sedikit koridor, di mana pers boleh berkiprah. Di mana orang boleh mengeluarkan pendapat .," ujar Jenderal Benny, pada kesempatan yang sama.
Penampilannya yang "angker" seperti yang tampak di mata khalayak itu mungkin "sikap bawaan"nya dari masa ketika ia menjadi komandan Satgas Intel Kopkamtib, sejak 1974. Benny -- demikian ia dipanggil -- masih harus memegang dua jabatan keintelan, yaitu Asisten Inteligen Hankam dan Wakil Kepala Bakin, sebelum menjadi Pangab-Kopkamtib.
Namun, hanya beberapa minggu setelah tragedi berdarah Peristiwa Tanjungpriok (12 September 1984), Benny berhasil menjalin hubungan penuh pengertian dengan tokoh-tokoh masyarakat, khususnya alim ulama. "Saya ingin menegaskan, umat Islam Indonesia tidak dipojokkan. Dan tidak akan pernah dipojokkan," katanya di depan 800 ulama di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ini disusul dengan kunjungan bersilaturahmi dengan para santri Pesantren Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Lawatan serupa juga dilakukan ke Jawa Barat, Sumatera, dan Sulawesi Tengah. Dalam berbagai kunjungan itu, Benny dengan fasih mengucapkan assalammualaikum.
Sebagai penganut Katolik yang taat, Benny juga rajin mengunjungi gereja. Tahun 1984, ia bernatal bersama prajurit di Jayapura, Irian Jaya, dan tahun sebelumnya bersama umat Nasrani Timor Timur.
Pada masa kepemimpinan Moerdani, ABRI mengadakan reorganisasi dan regenerasi. Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dibubarkan, Komando Daerah Militer (Kodam) diciutkan. Pada 1986, ketiga Angkatan dan Polri mulai dipimpin perwira muda yang bukan dari Angkatan '45. "Apabila ada yang beranggapan seolah-olah apa yang dilakukan ABRI dewasa ini (reorganisasi) adalah pengurangan personel, saya tegaskan bahwa hal tersebut tidak benar," kata Pangab berulang kali.
Dibesarkan di Solo, Jawa Tengah, Benny anak pegawai jawatan kereta api bernama R.G. Moerdani Sosrodirdjo. Ibunya, Rochmaria Jeane, berdarah Indo-Jerman. Sejak usia 13 tahun, Moerdani bergabung dalam Peleton I Seksi III Kompi II Detasemen II Brigade 17, Tentara Republik Indonesia Pelajar, yang populer dengan singkatan TRIP.
Pada 1950, ia memasuki Pusat Pendidikan Perwira AD (P3AD) di Bandung. Dari 80 lulusan P3AD itu, 30 di antaranya diterima di Sekolah Pendidikan Infanteri, termasuk Benny. Lalu, dengan pangkat pembantu letnan, ia menjadi pelatih di Korps Komando AD (KKAD), embrio RPKAD yang kini bernama Kopassus. Ketika kemudian ia menjadi komandan kompi RPKAD, Benny ikut menumpas DI/TII, PRRI, dan Permesta. Pada 1960, ia dikirim ke AS untuk mengikuti pendidikan pasukan komando.
Saat Orde Baru lahir, Benny menjadi perwira termuda yang berpangkat letjen. Ia kemudian beberapa tahun bertugas di KBRI Kuala Lumpur, lalu menjadi konsul jenderal RI di Seoul, Korea Selatan, sampai dipanggil pulang untuk menjalani tugas keintelan.
Di samping sejumlah bintang dan tanda penghargaan yang sudah dimilikinya selama ini, L.B. Moerdani menerima dua bintang dari Serawak dan Johor, Malaysia, Juli 1986. Yang pertama bernama "Bintang Panglima Tantra Gagah Berani" dan yang satunya lagi, "Bintang Kenyalang Sarawak".
Menikah dengan T. Hartini, ia dikaruniai seorang putri.
|