
Nama : LIUS PONGOH
Lahir : Jakarta, 3 Desember 1960
Agama : Katolik
Pendidikan : -SD Yasporbi, Jakarta (1974)
-SLP Yasporbi, Jakarta (1977)
-SMA 17 Agustus 1945, Jakarta (1980)
-Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya, Jakarta (tidak tamat)
Karir : Pemain bulu tangkis: Juara I Tunggal Danish Open, Denmark (1980)
-Juara I Tunggal Swedish Open, Swedia (1980)
-Runner Up Tunggal Japan Open, Jepang (1981)
-Juara I Ganda Japan Open, Jepang (1981)
-Juara I Tunggal Indonesia Open, Jakarta (1984)
Kegiatan Lain : Pegawai Bank Bumi Daya (sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Kudus Gang Lasam 2 A, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Bank Bumi Daya Jalan Imam Bonjol 61, Jakarta Pusat Telp: 333721
|
|
LIUS PONGOH
Dua tahun ia menghilang dari peredaran antara lain oleh cedera di tulang punggungnya. Orang pun mengira, karier anak sulung dari empat bersaudara ini habis sudah. Tetapi, pada Kejuaraan Indonesia Terbuka 1984, Lius kembali tampil dengan gemilang. Pada perempat final, ia mengalahkan Liem Swie King. Lalu, Morten Frost Hansen ia tundukkan pada semifinal, dan di final ia menaklukkan Hastomo Arbi -- 15-5, 10-15, dan 15-13.
"Kejuaraan itu seperti rahmat bagi saya. Saya tak menyangka akan menang," katanya. Bayangkan, sementara ia meregang otot di arena, ibunya, Kartin, tergeletak sakit di ICU RS Cipto Mangunkusumo. Tiga bulan kemudian, sang ibu meninggal. Praktis Nyonyong, nama akrab Lius, tidak bisa beristirahat: seusai bertanding, ia langsung ke ibunya, sampai larut malam. Paginya bertanding lagi. "Pada setiap tahap kemenangan saya menangis, lantaran ingat Ibu.
Dalam upaya tampil kembali itu, Lius tidak bisa melupakan jasa orang-orang di dekatnya. Bisa disebutkan, misalnya, Justian Suhandinata, Ketua Umum PB Bimantara Tangkas -- klub tempat si Nyong bergabung. Lalu, Pater Bententua, asal Flores, yang sering memimpin doa bersama di tengah keluarga Lius, terutama pada saat ibunya berbaring di rumah sakit.Lius berlatih bulu tangkis ketika masih berusia delapan tahun. Digembleng ayahnya sendiri, Darius Pongoh, seorang pembina bulu tangkis yang cukup dikenal di Jakarta. Pada usia 12 tahun, ia masuk klub Bimantara Tangkas, setelah sebelumnya menjadi anggota PB Anggara dan klub Garuda Jaya, semua di Jakarta. Berada di klub mana pun ia, ayahnya tetap tidak sedikit pun mengendurkan bimbingannya.
Arena pertandingan pertama yang ia ikuti adalah kejuaraan anak-anak se-DKI, 1968. Si Nyong mendapat medali perunggu, dan pingsan saat itu juga. Pasalnya, begitu dipanggil wasit untuk tampil menerima medali, ia segera bangkit kegirangan di tribun. "Karena hati senang itulah, saya melompat langsung dari bangku keempat menuju bangku pertama. Eh, kaki saya rupanya tersangkut. Saya jatuh terpelanting, dan pingsan," kata si Nyong, beberapa tahun kemudian.
Karena bulu tangkis, kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Jakarta, yang sudah berjalan satu tahun, ia tingggalkan. "Otak saya tak sanggup, ngantuk melulu," kata si Nyong dengan santai, tanpa rasa sesal. Ia menikah dengan Agnes Theresia, 25 November 1984. Sampai awal 1985, mereka belum mendapat anak. Dan masih tinggal di sebuah rumah kontrakan, pada sebuah gang di Jalan Kudus, Jakarta Pusat.
|