A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

FARIDA FEISOL




Nama :
FARIDA FEISOL

Lahir :
Solo, 7 Juli 1939

Agama :
Islam

Pendidikan :
-Sekolah Ballet Fine Arts of Movement, Singapura (1947)
-Sekolah Ballet Royal Academy of Dance, Australia (1950-1954)
-Akademi Ballet Bolshoi Theatre, Moskow, Rusia (1961-1965)
-Studio Martha Graham, New York, AS (1973-1974)


Karir :
-Pendiri dan pemimpin Sekolah Balet Nritya Sundara (1959-1977)
-Pendiri dan pemimpin Sekolah Balet Sumber Cipta (1977- sekarang)
-Dosen dan Wakil Ketua Departemen Tari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ)
-Beberapa koreografinya: Sudut-sudut dalam Warna (1959)
-Gunung Agung
-Variasi Minang
-Carmina Burana
-Putih-putih (1976)
-Rama dan Sinta
-Daun Pulus


Alamat Rumah :
Jalan Cempaka 28, Tomang, Jakarta Barat

 

FARIDA FEISOL


Berwajah Indo, karena ibunya berdarah Belanda, pada usia 8 tahun ia sudah memperoleh pendidikan Fine Art Movement di Singapura. Kemudian, meneruskan Sekolah Tari di Moskow, Uni Soviet. Lalu, di Amerika Serikat ia belajar menari pada Merce Cunningham dan Martha Graham.

"Tari adalah hidup saya. Saya tidak bisa diubah lagi. Saya bersedia mati di atas panggung," ujar Farida. Lalu, apa alasannya begitu menggandrungi dunia tari, khususnya balet? Pada masa kecil, ia pernah nonton film berjudul The Red Shoes. Salah seorang pemainnya menari balet dalam sebuah adegan. "Saya kagum padanya. Kok bisa ya seorang berdiri pada ujung sepatunya? Tarian itu begitu indahnya," katanya.

Ayahnya, Oetoyo, pegawai Departemen Luar Negeri, mendukung keinginan putri sulungnya itu. Farida belajar menari di Singapura, karena ayahnya bertugas di sana. Begitu pula ketika ayahnya pindah ke Australia, Farida mendapat pendidikan balet di sana, sekitar 1950-1954. Sesudah itu ia ke Negeri Belanda.

Pulang ke Indonesia, bersama Yulianti Parani ia mendirikan sekolah balet Nritya Sundara, 1958. Tetapi, pada 1961-1964, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Uni Soviet, dan lulus dengan predikat Artist Ballet.

Selain mendirikan sekolah balet, Farida juga mengajar pada Departemen Tari Institut Kesenian Jakarta. Dalam berbagai ciptaannya, ia masih memimpikan punya sesuatu yang khas. Ia mengagumi penata tari Jerry Gillian, karena Jerry punya ciri khas atas ciptaannya. "Saya menginginkan yang semacam itu. Kadang-kadang saya merasakan belum mempunyai itu," katanya.

Sekolah balet yang didirikannya itu lahir dari jalan pikiran yang sederhana, "Saya hanya ingin mendidik dengan baik, sehingga dengan adanya pementasan-pementasan grup ini, tidak akan terjadi kekurangan tenaga," katanya.

Sekolah yang kini dipimpinnya, Sumber Cipta, mempunyai siswa lebih dari 200 orang. "Anak laki-laki biasanya cepat bosan," katanya menerangkan mengapa muridnya rata-rata wanita. Ia juga tidak setuju kalau dikatakan bahwa penari balet wanita sulit mendapatkan anak, sebab ia sendiri punya anak kandung dua orang.

Pernikahannya dengan sutradara film, Sjumandjaja (almarhum), di Moskow, ketika mereka sama-sama belajar, hanya bertahan hingga 1973. Pada 1973-1974 Farida, mendapat beasiswa belajar lagi di Amerika Serikat. Setahun kemudian, setelah pulang dari AS, ia bertemu Feisol Hashem, pria asal Malaysia, dan pasangan ini menikah.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


FAHMI IDRIS | FARID ANFASA MOELOEK | FARIDA FEISOL | FEISAL TANJUNG | FERMANTO SOEJATMAN | FERRY SONNEVILLE (FERDINAND ALEXANDER) | FIKRI JUFRI | FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO | FRANCISCUS XAVERIUS SEDA | FRANS DANUWINATA | FRANZ MAGNIS-SUSENO | FREDERIK HENDRIK AGUSTINUS HEHUWAT | FRIDOLIN UKUR | FRITS AUGUST KAKIAILATU | F.X. ARIF Adimoelja | F.X. SUSILO MURTI | F. Widayanto | Faisal H. Basri | Faruk H.T. | Fatchur Rochman


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq