A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO




Nama :
FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO

Lahir :
Ambarawa, Jawa Timur, 13 Desember 1932

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1945)
-SMP Negeri I, Magelang (1948)
-SMA Seminari, Malang (1951)
-Seminari Tinggi, Malang (1959)
-Pendidikan Spesialisasi Teologi, Roma (1960-1961)
-Pendidikan Spesialisasi Kitab Suci, Roma Yerusalem (1961- 1964)
-Pendidikan Spesialisasi Kitab Suci Tingkat Doktoral, Roma (1965)


Karir :
-Dosen Seminari Tinggi (1965-1970)
-Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (1970-1973)
-Provinsial Ordo Karmel (1970-1973)
-Uskup Keuskupan Malang (1973 -- sekarang)
-Ketua Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI) (1979-1985)


Alamat Rumah :
Jalan Guntur 2, Malang, Jawa Timur Telp: 22524

Alamat Kantor :
Jalan Guntur 2, Malang, Jawa Timur Telp: 22524

 

FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO


Putra R.P. Djojosoemarto, kepala sekolah di Ambarawa, Jawa Tengah, ini memang bercita-cita menjadi "romo", sebutan buat seorang pastor. Cita-cita itu terlaksana ketika ia ditahbiskan pada usia 27 tahun.

"Pastor dan rohaniwan tidak boleh berpolitik praktis," tuturnya. "Jabatan itu tidak digaji."

Dalam usia yang masih muda, Romo Hadi lantas mendapat tugas belajar di Roma, Italia, di Yerusalem, dan di Bonn, Jerman Barat. Di sana, ia studi spesialisasi teologi dan ilmu Kitab Suci. Tingkat doktoral diraihnya pada 1965.

Kembali di tanah air, Romo Hadi menjadi dosen di Seminari Tinggi, hingga 1970. Sebagai dosen Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) di Malang, sejak 1973, ia merangkap jabatan provinsial pada Provinsialat Ordo Karmel. Tiga tahun kemudian, ia diangkat sebagai Uskup Malang. Keuskupan ini meliputi bekas Keresidenan Malang, Besuki, dan Madura, dengan lebih dari 5.000 jemaat. Pada 1979, sarjana teologi dan ilmu Kitab Suci ini terpilih menjadi ketua Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI).Tinggal dan berkantor di kompleks Ketedral, Jalan Guntur No. 2, Malang, di kompleks itu tidak terlihat ruang rapat atau kesibukan para pembantu. Suasananya tenang, perabotan yang sederhana ditata rapi, menimbulkan kesan lugu dan berwibawa. Ruang kerja uskup berukuran lima kali enam meter.

Bekas teman sekelas kolumnis dan Pastor Y.B. Mangunwijaya ini tampak tidak terlalu mementingkan penampilan. Kalung salibnya bukan dari emas, dan jubah putihnya hanya kain katun. Rambutnya disisir ke belakang, hingga dahinya menonjol agak lebar. Tubuhnya, yang termasuk pendek, berkulit sawo matang.

Selama ini, selain kegiatan rutin, ia juga menulis buku. Di antara 16 judul yang sudah diterbitkan ialah: Sila Ketuhanan sebagai Ungkapan dan Jaminan Toleransi Agama (1966), Hubungan Gereja dengan Masalah Politik dan Sosial (1978), Katolik dan Negara Republik Indonesia (1982), dan Warga Gereja dan Negara (1984).

Mengenai Pancasila sebagai ideologi negara dan bangsa, ia menyatakan, "Gereja Katolik menerimanya secara utuh, tidak sekadar move politik atau terpaksa karena situasi dan kondisi." Lalu katanya. "Titik temu Pancasila dan Gereja yakni dalam hal mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Namun, Gereja bukanlah institusi politik, dan tidak berpolitik praktis."

Walaupun menggemari olah raga senam, voli, dan mendaki gunung, ia kini hanya melakukan jogging, atau berjalan kaki.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


FAHMI IDRIS | FARID ANFASA MOELOEK | FARIDA FEISOL | FEISAL TANJUNG | FERMANTO SOEJATMAN | FERRY SONNEVILLE (FERDINAND ALEXANDER) | FIKRI JUFRI | FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO | FRANCISCUS XAVERIUS SEDA | FRANS DANUWINATA | FRANZ MAGNIS-SUSENO | FREDERIK HENDRIK AGUSTINUS HEHUWAT | FRIDOLIN UKUR | FRITS AUGUST KAKIAILATU | F.X. ARIF Adimoelja | F.X. SUSILO MURTI | F. Widayanto | Faisal H. Basri | Faruk H.T. | Fatchur Rochman


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq