A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

FRANZ MAGNIS-SUSENO




Nama :
FRANZ MAGNIS-SUSENO

Lahir :
Silesia, Jerman, 26 Mei 1936

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD (1946)
-SLP di Jerman
-SLA Humanistische Gymnasium di Jerman (1955)
-Philosophische Hochschule Pullach di Jerman (1960)
-Institut Filsafat Teologi di Yogyakarta (1968)
-Universitas Muenchen di Jerman (doktor, 1973)
-Ilmu Kerohanian di Jerman (1955-1957)


Karir :
-Dosen Tetap, Sekretaris Akademis di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (1969-sekarang)
-Dosen Tidak Tetap di Fakultas Sastra UI (1976-sekarang)
-Dosen Tidak Tetap di Fakultas Psikologi UI (1978-sekarang)


Karya :
-Kita dan Wayang
-Etika Umum, Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral
-Etika Jawa dalam Tantangan
-Etika Jawa, sebuah Analisa Filsafat tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa


Alamat Rumah :
-Jalan Percetakan Negara, Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta Pusat Tromolpos 397, Jakarta Telp: 412377-417129

Alamat Kantor :
-Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jalan Percetakan Negara, Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta Pusat

 

FRANZ MAGNIS-SUSENO


"Saya memang orang Jerman, tetapi sudah tidak punya kampung halaman lagi," kata Franz Graf von Magnis. Setelah menjadi warga negara Indonesia, namanya menjadi Franz Magnis- Suseno. Ayahnya, Dr. Ferdinand Graf von Magnis, seorang bangsawan pemilik hutan di kawasan tempat Franz dilahirkan. Dahulu, daerah itu masuk wilayah yang kemudian menjadi Jerman Timur. Tetapi, setelah Perang Dunia II, tempat itu malah dimasukkan sebagai wilayah Polandia.

Karena perang pula, selama empat tahun (1945-1949), keluarganya, setelah kehilangan harta, mengungsi dan setiap malam tidur dalam keadaan lapar. "Waktu itu, setiap hari praktis saya hanya memikirkan makanan," tutur Franz.

Maka, orangtuanya kaget ketika Franz memutuskan jadi biarawan. Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, ia diharapkan bisa membangun kembali keluarga Magnis. Lebih membingungkan lagi, ketika mereka tahu Franz hendak ke Indonesia, sebuah negeri yang, bagi keluarganya, tidak jelas entah di mana.

Hanya Franz seorang yang tahu. "Sebelumnya, saya sudah senang membaca buku-buku tentang Indonesia," katanya. Keputusan ini memang tidak lepas dari statusnya sebagai warga Serikat Yesuit, yang juga memiliki tradisi mengaryakan rohaniwannya di pelbagai negeri jauh.

Franz, yang gemar makan bakmi goreng dan udang, masuk Indonesia pada awal 1960-an. Mengajukan diri untuk menjadi warga negara pada 1970, baru tujuh tahun kemudian ia resmi menjadi orang sini. "Karena saya sudah memutuskan tinggal dan mengabdi di Indonesia, tidak masuk akal kalau saya tetap warga negara Jerman," katanya.

Meskipun ia mengamati banyak hal tentang negeri baru tempat ia mengabdi, orang lebih mengenalnya sebagai ahli soal Jawa dan wayang. "Saya melihat, cerita wayang mempunyai persamaan dengan mitologi Jerman kuno," katanya. Di negeri asalnya, ada cerita yang berakhir dalam perang habis-habisan, seperti Bharatayuda. Ia memandang wayang sebagai unsur yang sangat hakiki dalam kebudayaan Jawa. Lewat wayang pula, katanya, "Saya bisa merasa masuk ke dalam cara orang Jawa melihat realitas."

Bahasa Jawa-nya, juga kromo inggil, sudah fasih. Pernah ia, ketika tinggal di Yogya, pada 1960-an dahulu, kedodoran melafalkan huruf "r", karena masih dipengaruhi logat Jerman. Di asrama ia siang malam berlatih melempangkan lafal "r" supaya pas seperti orang Jawa bicara. Usaha ini berhasil. Buktinya, ketika orangtuanya datang menjenguknya, mereka keheranan dan bertanya, "Franz, apa yang terjadi dengan bahasa Jerman-mu?"

Senang menikmati musik Beethoven dan Johan Sebastian Bach, Franz juga setia menjalankan lari santai. Franz menyandang gelar doktor ilmu filsafat dari Universitas Muenchen. Disertasinya berjudul Normative Voraussetzungen in Denken des Jungen Marx (1843-1848 -- Fungsi Premis-Premis Normatif dalam Pemikiran Marx Muden).

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


FAHMI IDRIS | FARID ANFASA MOELOEK | FARIDA FEISOL | FEISAL TANJUNG | FERMANTO SOEJATMAN | FERRY SONNEVILLE (FERDINAND ALEXANDER) | FIKRI JUFRI | FRANCISCUS XAVERIUS HADISUMARTO | FRANCISCUS XAVERIUS SEDA | FRANS DANUWINATA | FRANZ MAGNIS-SUSENO | FREDERIK HENDRIK AGUSTINUS HEHUWAT | FRIDOLIN UKUR | FRITS AUGUST KAKIAILATU | F.X. ARIF Adimoelja | F.X. SUSILO MURTI | F. Widayanto | Faisal H. Basri | Faruk H.T. | Fatchur Rochman


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq