
Nama : EDI KOWARA ADIWINATA
Lahir : Banten, Jawa Barat, 27 September 1919
Agama : Islam
Pendidikan : -HIS di Ardoena, Bandung
-MULO Javastraat di Bandung (1937)
-Sekolah Minyak Menengah, Cepu (1939)
Karir : -Pegawai BPM di Bandung (1939-1940)
-Asisten Inkoper di Artilerie Constructie Winkel
-Kepala Perusahaan Tambang Minyak Pemerintah Dai Nippon Sekyu Haikyu Jimusho, Daerah Priangan (1942-1945)
-Komandan Laskar Minyak Divisi III kemudian Siliwangi (1945- 1947)
-Inspektur Perusahaan Tambang Minyak Negara RI untuk daerah Jawa Tengah
-Direktur Tehnik Umum NV (1950-1968)
-Presdir Tehnik Umum (1968-sekarang)
-Presdir PT Asli di Bandung (1952-sekarang)
-Presdir PT Ispat Indo (1974-sekarang)
-Presdir PT Kusum Products (1975-sekarang)
-Preskom PT Iman Adi (1976-sekarang)
-Presdir PT Pamindo Tiga T
-Preskom PT Decorient di Jakarta
-Preskom PT Perkebunan Cikembang Raya
-Presdir Insurance Assester Sarwa Jala
-Preskom PT Bangun Tjipta Sarana
-Preskom PT Indoresma International
-Presdir Tirtalina Bottling Coy. di Surabaya
-Presdir Tirta Agung di Bandung
Kegiatan Lain : -Ketua Dewan Penasihat Komite Cina Kadin Indonesia
-Ketua Umum AKI
-Ketua Lions Club Jakarta
-Wakil Presiden IFAWPCA
Alamat Rumah : Jalan Darmawangsa Raya 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 777436
Alamat Kantor : Jalan Haryono M.T. Kapling 16, Jakarta Selatan Telp: 823208 (5 saluran) -- Teleks: 011.48118
|
|
EDI KOWARA ADIWINATA
Masa kecilnya prihatin. Usia satu bulan sudah piatu, lalu diasuh kakak dari neneknya di Bekasi, seorang pengusaha bahan bangunan. Edi ikut membantu usaha itu antara lain mencatat keluar-masuknya barang. Dalam usia delapan tahun, ia ikut memelihara sapi perah. "Enak juga jadi pengusaha," kata hatinya kala itu.
Cita-cita Edi menjadi pengusaha makin tumbuh setelah ia diasuh nenek kandungnya -- yang menjadi guru di Garut. Kemudian ketika saudaranya yang berjualan dodol dan wajik ganti merawatnya, semakin besar minat jadi pengusaha itu. Nyatanya, ia tidak langsung terjun sebagai pengusaha. Lulus Sekolah Minyak Menengah di Cepu, 1939, ia diterima sebagai pegawai staf pada perusahaan minyak Belanda, BPM. "Enak, gaji awalnya saja sudah 175 gulden, dapat mobil lagi. Tapi, begitu kerja begitu menderita," keluh Edi. Mengapa? "Karena kolega saya yang bangsa Belanda, walau pangkatnya sama, gajinya lebih tinggi 50 gulden," kenangnya.Masih ada yang menyakitkan hatinya. Ketika makan di kantin, ia juga mengalami diskriminasi, walau juga dilayani pelayan berkebangsaan Belanda. Ia tidak diberi sendok, garpu, dan serbet untuk makanan yang bayarannya sama, 10 sen. Edi jengkel, ia lalu pesan makanan seharga 25 sen, tetapi malah diberi nasi bungkus. "Nggak saya makan, saya kembalikan," ujarnya. Ia lalu pesan yang berharga 40 sen gulden. Lengkap memang, tetapi pakai piring seng. Tentu saja Edi kalap. "Saya ambil itu makanan, lalu saya tumplekkan ke muka pelayan," tuturnya. Akibatnya, ia ditangkap dan disel.
Sejak itu, pekerjaan dengan gaji besar itu ditinggalkannya. Mulai belajar jadi pemborong kecil-kecilan. Sampai akhirnya, kini, ia menjadi pengusaha konstruksi yang sukses. Selain PT Tehnik Umum, ia masih memiliki sepuluh perusahaan lagi. Di antaranya pembotolan Coca-Cola untuk Jawa Barat, makanan ternak, asuransi jiwa, suku cadang mesin tekstil, pabrik minyak kelapa, perkebunan karet, pabrik baja. PT Cipta Sarana juga miliknya.
PT Tehnik Umum didirikannya ketika ia berhenti dari BPM, 1940. Perusahaan ini sempat ditutupnya ketika Perang Dunia II pecah. Edi direkrut Jepang menjadi Kepala Perusahaan Tambang Minyak Dai Nippon Sekiyu Haikyu Jimusho, di daerah Priangan. Tetapi kemudian jabatan itu ia manfaatkan untuk menghidupkan Tehnik Umum. Semua pekerjaan pembangunan perusahaan minyak Jepang itu ditangani Tehnik Umum. Pada tahun 1945, perusahaan minyak itu malah diambil alih olehnya. "Balas dendam," tukasnya. Soalnya, ia pernah disel 20 hari oleh Jepang karena memukul seorang perwira Jepang.
Ayah sembilan orang anak, salah seorang anaknya, Indra Rukmana menikah dengan Tutut Hardijanti, putri Presiden Soeharto. Edi aktif dalam berbagai organisasi bisnis dan kegiatan sosial. Selain sebagai Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Edi Kowara juga menjabat Wakil Presiden Asosiasi Kontraktor Asia dan Pasifik Barat (IFAWPCA), sejak 1975. Ia gemar main golf.
|