
Nama : ERIC F.H. SAMOLA
Lahir : Minahasa, Sulawesi Utara, 26 Agustus 1936
Agama : Protestan
Pendidikan : -ALS, Airmadidi, Minahasa, Sulawesi Utara (1950)
-SMPN, Airmadidi, Minahasa, Sulawesi Utara (1953)
-SMAN, Tomohon, Minahasa (1956)
-FHIPK UI, Jakarta (1964)
Karir : -Pegawai Departemen Perdagangan RI (1964-1966)
-Staf PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1966-1974)
-Wakil Direktur PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1974-1977)
-Direktur PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1977-sekarang)
-Dirut PT Grafiti Pers (1974-sekarang) merangkap Pemimpin Umum MBM TEMPO (1974-sekarang), Pemimpin Umum Majalah Zaman (1979- 1985), Direktur Harian Jawa Pos (1982-sekarang), Wakil Pemimpin Umum Majalah Swasembada (1985-sekarang)
Kegiatan Lain : -Sekretaris Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (1972-1974)
-Ketua Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (1974-1977)
-Ketua Kehormatan Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (1977-sekarang)
-Ketua Kompartemen Jasa Perbankan, Keuangan, Asuransi, Kadin Indonesia (1982-1985)
-Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Kadin Indonesia (1985-1988)
-Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta, Dewan Pimpinan Pusat Golkar (1983-1988)
Alamat Rumah : Jl. Kemanggisan Jaya 6, Jakarta Barat Telp: 544059
Alamat Kantor : Jaya Building, Jalan Thamrin 12, Jakarta Pusat Telp: 327508
|
|
ERIC F.H. SAMOLA
Awal 1971, Eric Samola masih di Bagian Hubungan Masyarakat PT Pembangunan Jaya, ketika direktur utamanya, Ciputra, memintanya memikirkan sejumlah wartawan yang keluar dari majalah Ekspres. "Wah, mengurusi wartawan repot," katanya, kendati tugas itu diterimanya juga. Ternyata, ia bukan saja mampu membesarkan majalah TEMPO, tetapi juga mengembangkan Medika dan Swasembada, serta harian Jawa Pos di Surabaya.
Sibuk di perusahaan pers tidak membuatnya menelantarkan tugas awalnya di Jaya Group. Memulai sebagai pegawai biasa, dari keberhasilannya merebut satu-satunya lowongan tenaga sarjana hukum di antara 26 SH yang melamar, ia kini salah seorang direktur PT Pembangunan Jaya. "Saya tidak bisa bekerja setengah-setengah," tulis Samola dalam Suplemen 15 Tahun TEMPO, Maret 1986, seperti hendak menjelaskan kunci keberhasilannya.
Di waktu kecil, ia ingin menjadi polisi. "Pekerjaan itu kelihatan berwibawa sekali," kata Eric, yang yatim ketika berusia satu tahun, sedangkan satu-satunya adiknya masih dalam kandungan ibunya yang tetap menjanda. Perjuangan sang ibu yang membiayai sekolah mereka dengan gaji seorang guru SD melecutnya rajin belajar. Tamat SMA, ia merantau ke Jawa, dan untuk memenuhi cita-cita masa kecilnya, Eric melamar -- dan diterima -- di sekolah polisi di Sukabumi.
Tiba-tiba cita-citanya beralih ingin menjadi hakim. Ia lalu mendaftarkan dan diterima di Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat UI, rampung 1964. Melamar kerja di Departemen Kehakiman, lowongan hakim yang tersedia hanya di Timor, padahal Eric ingin ditempatkan di Jakarta atau Bandung. Sebenarnya keinginannya itu bisa terpenuhi, bila ia sudi "mengeluarkan biaya".
Semasa mahasiswa, Eric aktif di organisasi mahasiswa Kristen GMKI. "Sejak SMP saya memang sudah senang berorganisasi," tutur Direktur Utama PT Grafiti Pers, yang menjadi penerbit TEMPO itu. Maka, tidak heran, di tengah-tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia. Di DPP Golkar, Eric menjadi Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta.
Pada usia 50 tahun (1986), dengan tinggi 175 cm, berat badannya "berlebih" 5 kg. "Karena itu, kalau malam saya jarang makan nasi," kata Samola, yang suka main golf dan jalan kaki pagi. Dulu, 1968-1972, ia menyenangi reli mobil, dan Eric muda pernah menjadi juara keempat dan ketiga Rally Jawa-Bali I dan II.
Penggemar film James Bond dan musik Idris Sardi ini menikah dengan Dorothea Sara Luntungan, anak pendeta yang dulu sama- sama aktif di GMKI. Mereka dikaruniai dua anak
|