
Nama : ENGKIN ZAINAL MUTTAQIEN
Lahir : Desa Linggawangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, 4 Juli 1925
Agama : Islam
Pendidikan : -SD (1936)
-Madrasah Tsanawiyah NU, Tasikmalaya (1940)
-Pesantren Cipasung dan pesantren Sukabumi (1944)
-Kursus Mubalig Muhammadiyah, Bandung dan Yogyakarta (1945)
-Institut Ilmu Quran, Jakarta (Doktor Honoris Causa, 1982)
Karir : -Guru Sekolah Rakyat, Bandung (1944)
-Guru SMP, Tasikmalaya (1946)
-Guru SMP, SGA, SGHA, Bandung (1949-1952)
-Kepala Bagian Penyelenggara Kantor Inspeksi Pendidikan Agama Provinsi Jawa Barat (1951)
-Ketua DPRDS Kota Madya Bandung (1952-1954)
-Anggota DPRGR (1954)
-Dosen Agama Islam di berbagai perguruan tinggi
-Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), 1972-1985
-Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Swasta Wilayah III
-Ketua Umum Majelis Ulama Jawa Barat (1972-1985)
Alamat Rumah : Jalan Adipati Kertabumi 15, Bandung
|
|
ENGKIN ZAINAL MUTTAQIEN
Masyarakat selalu "kejam" kepada pemimpinnya. Demikian E.Z. Muttaqien dalam petuah tertulis kepada 10 anak dan cucu-cucunya pada hari ulang tahun perkawinannya ke-35, 1982. "Papih betul- betul kehabisan waktu, betul-betul menjadi batang 'lilin'. Ia sinari masyarakat sekelilingnya, tetapi dirinya terbakar sendiri," tulisnya pada petuah setebal 27 halaman kuarto itu.
Lilin besar itu akhirnya padam jua. Terbaring tidak sadarkan diri selama 16 hari setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan raya Nagreg, Cicalengka, Bandung, dinihari Jumat 12 April 1985, ulama besar itu meninggal pada usia 60 tahun. Saat itu ia baru pulang dari memberikan ceramah di Ciamis. Puluhan ribu orang -- termasuk Pangab Jenderal L.B. Moerdani dan Ketua DPR/MPR Amirmachmud -- yang melayat dan mengantarkannya ke pemakaman di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, menandakan bahwa lilin penerang yang puluhan tahun dinyalakan Muttaqien tetap marak di hati umat.
Kiai Haji Engkin Zainal Muttaqien memang mempunyai banyak pengikut dan penggemar. "Khotbah dan ceramahnya memberi kesejukan di hati beribu-ribu pendengarnya," kata Miftah Faridl, Sekretaris Majelis Ulama Jawa Barat. "Ia sangat toleran, mau mendengarkan pendapat orang lain," tambah K.H. Hasan Basri, Ketua Majelis Ulama Indonesia. Gaya bicaranya, di televisi dan langsung di depan umum, dinilai tidak pernah menimbulkan konflik, apalagi gejolak.Tetapi ada juga yang menilainya "terlalu kompromistis", "kurang tegas", dan sangat "intim" dengan pemerintah. Sehingga, ia sempat menerima surat kaleng yang mencela sikapnya itu. Ini disadarinya. "Namun ingat, Nabi pun banyak lawannya, apalagi saya," ujar Almarhum suatu kali.
Namun, pada masalah paling prinsip Muttaqien telah menunjukkan sikap yang tegas. Bekas anggota parlemen dari partai Masyumi (1955) ini pernah secara blak-blakan menentang masuknya PKI dalam Kabinet, seperti yang direncanakan Bung Karno. Akibatnya, ia ditahan selama empat tahun, dan baru bebas setelah G-30-S gagal.
Engkin dilahirkan di Linggawangi, sebuah desa di Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat ayahnya, K.H. Abdullah Siradj, menjadi guru mengaji. Ketika duduk di Madrasah Menengah Atas, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini sudah mampu membantu ayahnya mengajar di kelas yang lebih bawah. Ia kemudian melanjutkan pelajaran di Perguruan Pesantren Tinggi di Sukabumi. Kariernya bermula sebagai guru agama di SMP Jalan Ambon, Bandung.
Menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Institut Ilmu Quran, 1982, sempat pula menjadi "beban" baginya. "Saya bahkan ragu-ragu, apakah saya sudah waktunya mendapat penghargaan itu," ujarnya sesudah membacakan pidato pengukuhan.
Almarhum meninggalkan sekitar 20 karya tulis. Di samping itu, bekas Ketua Majelis Ulama Indonesia itu juga mewariskan Universitas Islam Bandung (Unisba) dengan 11 fakultas dan lebih dari 4.000 mahasiswa, yang dipimpinnya sejak 1972.
|