
Nama : Elvyn G. Masassya
Lahir : Medan, Sumatera Utara, 18 Juni 1967
Agama : Islam
Pendidikan : S2
Karir : Analis perbankan
Penghargaan : Termasuk 40 Eksekutif Muda Indonesia 2002
Keluarga : Ayah : A. Gani Masassya
Ibu : Siti Khadijah
Istri : Riana Lusinta
Anak : Rengga
Alamat Rumah : Jalan Mandar IV, Blok DC 3/3, Sektor 3A, Bintaro Jaya, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Ampera Raya 1, Jakarta Selatan
|
|
Elvyn G. Masassya
MAUNYA jadi pemusik jazz, tapi karena dilarang ayahnya akhirnya lelaki penyuka mie Aceh ini memilih ekonom sebagai profesi. Kini dikenal sebagai analis perbankan, Elvyn G. Masassya melihat bahwa dalam membenahi perbankan, pemerintah pasca-Soeharto sampai Kabinet Megawati Soekarno Putri tidak memiliki konsep. Akibatnya, pembenahan perbankan tidak beres-beres juga.
Lahir di Medan, dari ayah berasal Aceh dan ibu berdarah campuran, masa kecilnya dihabiskan di antara desa dan kota, akunya. Setelah tinggal bersama kakek dan neneknya di sebuah desa di Aceh, ia kemudian berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri.
Sejak kecil, Elvyn menyukai musik. Ikut berlatih di suatu lembaga pendidikan musik selama di SMP, di SMA ia menjadi pemain keyboard pada band yang didirikannya -- sampai ikut festival segala dan menjadi juara. (Kini, ia punya studio musik di rumahnya.) Cuma ayahnya, yang orang eksakta, tidak setuju ia meneruskan karir musiknya. Meskipun orangtuanya tidak mengharuskan Elvyn menjadi apa, kata anak kedua dari empat bersaudara itu, €œTapi ayah saya bilang saya jangan jadi pemusik€ € Padahal setelah SMA ia bercita-cita masuk ke sekolah musik di Yogja. €œBoleh kamu masuk sekolah musik, tapi bayar sendiri,€ tambah sang ayah.
Pernah bercita-cita menjadi insinyur, Elvyn melamar di ITB, tapi tidak diterima. Ia kemudian mendengar cerita pamannya tentang kehebatan ekonom ternama Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Ia pun menaruh kekagumam, €œWah, ekonom ini dahsyat banget.€ Inilah yang membawanya belajar ekonomi di Universitas Jayabaya, Jakarta. Dari sini, ia kemudian meneruskan ke Institut Bankir Indonesia (IBI), juga di Jakarta, dan seterusnya mengambil S2 (master) di Filipina. €œTerakhir saya ke ITB untuk pasca sarjananya. Ya, akhirnya cita-cita saya kesampaian juga untuk masuk ke situ (ITB), untuk mengambil magister keuangan,€ katanya, tertawa.
Sejak masih mahasiswa Jayabaya, mantan aktivis HMI ini sudah biasa menulis. Keterampilan ini kian terasah, setelah di IBI, saat ia mulai terfokus ke bidang perbankan. Baru menjalani kuliah dua tahun, ia sempat bekerja di salah satu bank swasta, lalu beralih ke sebuah lembaga keuangan milik asing (Korea Selatan) untuk menjadi analis kredit. Namun Elvyn berpikir, "Kalau saya terus kerja di sini dengan bos saya orang Korea, bagaimana saya bisa berkarir?" Lalu, setelah menerima gaji pertamanya, ia tak pernah masuk kantor lagi.
Ia pun bergiat menjadi menulis. Tapi pacarnya mengingatkan, "Kamu mau hidup dari menulis terus?" Soalnya pada 1989-1990 itu, honor penulis masih rendah sekali.
Setelah menyelesaikan sekolahnya, lelaki workaholick ini akhirnya melamar pekerjaan ke berbagai bank €“ dan di diterima di lima bank sekaligus. Memilih salah satu di antaranya, ia memantapkan dirinya tekadnya sebagai analis perbankan.
€œDia melakukan analisa terhadap perbankan, apa yang terjadi di dunia perbankan, bagaimana kondisinya?€ papar Elvyn tentang peran analis perbankan. Hasil analisa ini bisa menjadi masukan bagi perusahaan maupun umum. Tanggung jawab publik yang diembannya membuat Elvyn tertarik.
Menurut salah satu €œ40 Eksekutif Muda Indonesia€ 2000 ini, perbankan adalah lokomotif perekonomian, yang sangat vital dan strategis. Sayangnya, pembenahan perbankan di Indonesia hanya secara "gunting tempel" -- tidak membenahi fondasinya. €œMenurut saya, perbankan sekarang minim dalam tiga hal. Minim dalam sumber daya kompeten, minim dalam sumber daya yang berpengalaman, dan minim dalam sumber daya manusia,€ katanya.
Itu terjadi karena dahulu lahirnya perbankan terlalu mudah, tidak melalui seleksi yang alamiah. Yang dilakukan pemerintah sekarang dinilainya tidak adil, yang seharusnya masuk kubur tapi justru dibantu. Yang diperlukan sekarang adalah radical treatment, jangan dibiarkan lagi ada kanker pada satu tubuh bank mana pun. €œPotong tangannya. Jangan memberi kesempatan kepada bankir-bankir nakal.€
Menikah dengan Riana Lusinta, 1994, ia dikaruniai satu anak lelaki bernama Rengga. Meskipun orangtuanya bersikap keras padanya, Elvyn ingin bersikap €œmembebaskan€ dalam mendidik anaknya. €œSaya mencoba mendidik dia dengan memberi tantangan-tantangan. Anak sekarang kan berbeda dengan zamannya saya dulu,€ kata lelaki penggemar traveling ini.
Pria yang suka membaca buku-buku sastra dan filsafat ini memiliki motto "Mengalir Saja" seperti yang ia lihat pada kehidupan ini. Elvyn pengagum aktor Al Pacino dan penggemar grup jazz Micheal Frank Chick Corea.
|