
Nama : ENDANG ADI NUSANTARA SAIFUDDIN ANSHARI
Lahir : Bandung, 28 Oktober 1938
Agama : Islam
Pendidikan : -Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Mualimin Pesantren Persatuan Islam, Bandung (1949-1955)
-SD Parki, Bandung (1952)
-SMP Muslimin, Bandung (1955)
-SMA Negeri I, Bandung (1958)
-Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Unpad, Bandung (tidak selesai, 1961)
-Universitas McGill, Montreal, Kanada (M.A., 1976)
Karir : -Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Jawa Barat (1960-1962)
-Ketua Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pengurus Besar PII (1962-1964)
-Ketua Umum Majelis Dakwah PII (1964-1966)
-Ketua KAPPI Jawa Barat (1966)
-Anggota Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam HMI (1966-1969)
-Kepala Sekretariat Jenderal International Islamic Federation of Students Association (1976-1977)
-Ketua Lembaga Studi Islam (1976 -- sekarang
Kegiatan Lain : Ketua Dewan Pengurus Yayasan Iqra (1981-1982)
Alamat Rumah : Jalan Pangarang 33/17B, Bandung 40261
|
|
ENDANG ADI NUSANTARA SAIFUDDIN ANSHARI
Akrab dipanggil "Mang Endang", atau "Ama", sebagai mubalig, retorikanya menggebu, tetapi selalu diselingi humor. Terkadang menyindir, blak-blakan, tanpa kesan formal. Ia mengacu pada gaya pidato Kiai Abdul Gaffar Ismail -- ayah Penyair Taufiq Ismail. Dan pada masa kecilnya, ia juga sering melihat dan mendengarkan pidato Bung Karno.
Anak sulung dari lima bersaudara ini rupanya mengikuti jejak ayahnya, K.H.M. Isa Anshary. Sejak zaman Belanda sampai 1968, sang ayah dikenal aktif dalam pergerakan politik, dan menduduki jabatan penting lebih dari 30 organisasi. Misalnya, pernah menjabat Ketua Umum Partai Masyumi Ja-Bar (1950-1954). Juga dikenal sebagai mubalig piawai, orator yang bisa mengimbangi gurunya sendiri, Bung Karno.
Sewaktu SMA di Bandung, 1959, Ama aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Setahun menjabat pengurus seksi kesenian, Ama diangkat menjadi Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Ja-Bar. "Jelek-jelek begini, Ama ini Angkatan '66," katanya. Ia juga menjabat Ketua Pendiri KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) Ja-Bar. Dengan jaket loreng, Ama sering tampil di podium: menentang rezim Orla, dan mendukung Orba. Ia pun pernah berkecimpung di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)."Padahal, waktu kecil saya ingin menjadi penyair," ujarnya. Ia menulis puisi sejak 1955, juga mempuitisasikan terjemahan Quran yang diberi judul Cahaya di Atas Cahaya, diterbitkan Corps Muballigh Bandung, 1973. Ia termasuk "pecandu" wayang golek, juga tekun menonton film -- terutama drama kemanusiaan dan kepahlawanan dari Kitab Suci.
Meskipun terputus kuliahnya di FH Unpad, Ama bisa menggondol gelar Master of Arts di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, Kanada. Tesisnya yang membicarakan Piagam Jakarta, selain diterbitkan di Kuala Lumpur, juga diperbanyak di Indonesia.
Sebagai penulis buku, Ama sudah menyelesaikan lebih dari 15 judul. Kritiknya terhadap pemahaman sekuler Dr. Nurcholis Madjid juga dijadikan buku dengan judul Kritik atas Faham dan Gerakan "Pembaharuan".
Menikah dengan Mas Ayu Romlah, ia ayah enam anak.
|