A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

CARLOS FILIPE XIMENES BELO




Nama :
CARLOS FILIPE XIMENES BELO

Lahir :
Baucau, Timor Timur, 3 Februari 1948

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD Escola Masculina di Baucau (1962)
-Seminari Menengah di Dili (1965)
-SMA Seminari Menengah Dili (1968)
-Superior Institute Lisbon di Lisbon (1974)
-Universiade Catolica Portuguesa Lisboa di Portugal (Doktor, 1981)
-Sekolah Ilmu Teologi di Roma (1981)


Karir :
-Direktur Sekolah Teknik Fatumaca (1982)
-Administrator Apostolik (Uskup) Dili (sekarang)


Alamat Rumah :
Wisma Uskup Lecidere, Dili Telp: 2331

Alamat Kantor :
Camara Eclesiastica Jalan Alves Aldeia 25, Dili Telp: 2665

 

CARLOS FILIPE XIMENES BELO


Sebelum memasuki Escola Primaria Masculina (SD Lelaki) di Baucau, "Selama tiga tahun saya menjadi gembala kerbau di daerah suku ayah saya," tutur Carlos Filipe, anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya, Domingos Vaz Filipe, terakhir bekerja sebagai guru, berasal dari Kelicai, Timor Timur. Di belakang hari, Carlos -- sejak awal 1980-an, setelah mudik dari Roma -- ganti menggembala umat Katolik di provinsi ke-27 RI itu. Jabatan resminya: Administratur Apostolik (Uskup) Dili.

"Sejak kecil saya ingin menjadi imam," katanya. "Sebab itu, semua tahun studi diarahkan ke sana." Lulus ujian 4.a Classe (setingkat SD) Portugis, Carlos langsung memasuki Seminari Menengah di Dili, dilanjutkan ke Superior Institute di Lisbon dan lulus 1974. Gelar doktor ia dapatkan pada 1981, dari Universita' Pontificia Salesiana Roma, Italia, dengan disertasi A Espiritualidade Missionaria nos Documentos Missionarios de Paulo VI. Praktis, ia memulai karier sebagai imam pada usia belum genap 35 tahun.Pada awal 1984, sebuah surat pribadinya kepada Monsinyur da Costa Lopes, uskup yang ia gantikan, sempat bocor ke berbagai koran luar negeri. Surat berbahasa Portugis yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris itu, konon, mengungkapkan keadaan Timor Timur yang "memburuk". Keruan saja Carlos disorot banyak pihak: sewaktu datang ke Jakarta tahun itu juga, dalam rangka menghadiri peringatan 450 tahun lahirnya Gereja Katolik di Indonesia, ia dirubung banyak wartawan Barat.

Suatu sore, 20 Agustus 1984, sesudah acara misa di pelataran yang rindang di Desa Wailili (Kabupaten Baucau), Carlos bicara pada lima orang wartawan Indonesia dari Jakarta. "Orang di sini ingin hidup tenang. Selama ini, masih banyak yang berjaga- jaga, patroli-patroli. Kalau itu dilakukan di hutan-hutan, bisa dimengerti. Orang yang akan ke sawah atau ke kebun, harus selalu membawa surat izin," katanya.

Sebaliknya, Carlos juga mengatakan, "Saya tidak menyukai cara-cara Fretilin yang memprovokasi pemerintah dengan menembak, membunuh, mencuri, dan membakar milik rakyat. Mereka itu salah."

Penggemar tenis meja dan basket ini, di sela-sela kesibukannya menggembala umat, tetap melaksanakan kesukaannya menikmati musik klasik abad XVII dan XVIII, misalnya dari Bach, Handel, Mozart, dan Wagner. Untuk musik modern, Carlos menyukai penyanyi Spanyol, Julio Iglesias.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


CONNY RIOWSKINA SEMIAWAN (CONNY STAMBOEL) | COSMAS BATUBARA | CORNELIS J. RANTUNG | CHRISTINE HAKIM (HERLINA CHRISTINE) | CIPUTRA | CHRISTIANTO WIBISONO | CHRISTIAN HADINATA | CHRISMANSYAH RAHADI (CHRISYE) | CHEPOT HANNY WIANO | CHEHAB RUKNI HILMY | CHARLES ONG | CARLOS FILIPE XIMENES BELO | CARLA TEDJASUKMANA | Candra Wijaya | Chairul Tanjung | Chand Parwez Servia | Christine Hakim | Chrys Kelana | Ciputra | Cornelia Agatha


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq