A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Chrys Kelana




Nama :
Chrysanthus Kelana Putrajaya

Lahir :
Yogyakarta, 28 Oktober 1950

Agama :
Katolik

Pendidikan :
- SD, SMP Katolik di Muntilan, SMA di Yogyakarta; Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta

Karir :
- Staf administrasi harian Kompas (1971-1973);
- Wartawan Kompas (1973-1989);
- News Director RCTI (1989-1999);
- Managing Director Lativi (sekarang)


Kegiatan Lain :
- PWI
- Golkar


Keluarga :
Ayah : Prof. Ir. Supardi Soeryo Putranto Ibu : Maria Magdalena Sapardilah Istri : Anastasia Ratna Hawun Meiarti Anak : 1. Clara H. Anindita 2. Carla H. Arditi

Alamat Rumah :
Jalan Pulomas VIII/10, Jakarta Timur

Alamat Kantor :
Lativi, Pulogadung, Jakarta Timur

 

Chrys Kelana


Suka baca cerita silat saat SMP, Chrys Kelana merasakan perubahan pada dirinya. Dari sebelumnya penurut dan penakut, ia lalu berubah jadi bandel dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-temannya. ‚€œBandel saya, tidak ekstrem, saya enggak bandel cewek,‚€Ě aku Chrys. Tapi justru karena kebandelan itulah jalan hidupnya berubah.

Sekali, ia membikin pesta dansa di rumahnya di Yogyakarta; waktu jalan-jalan dengan mobil ayahnya, anak ke-8 dari 12 bersaudara ini menabrakkannya. ‚€œSaya pulangin mobil itu, terus lari ke Jakarta, ke rumah kakak saya yang tertua,‚€Ě kenangnya. Saking bandelnya, sekalian saja Chrys‚€”yang kala itu sudah SMA‚€”dititipkan oleh ayahnya, Prof. Ir. Supardi Soeryo Putranto, di rumah kakak tertua Chrys di Jakarta. Oleh sang kakak, Chrys benar-benar digembleng, diajari bahwa hidup itu harus bekerja keras dan mandiri.

Sambil kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta, Chrys mencari pekerjaan ke sana kemari. ‚€œMenurut cerita silat, kita itu harus selalu melakukan pengorbanan. Dan pengorbanan saya itu luar biasa, karena cari kerja saja saya enggak pernah minta tolong,‚€Ě tuturnya. ‚€œSaya cari kerja sampai dua celana saya jebol.‚€Ě

Setelah mati-matian cari kerja, pada 1971 ia akhirnya menuruti nasihat seorang kenalan agar mendatangi P.K. Ojong, Pemimpin Redaksi Kompas saat itu. Dengan ‚€œmenjual‚€Ě nama kakaknya yang tokoh Katolik dari Golkar, paparnya, ‚€œPak Ojong menerima saya dan memberi pekerjaan.‚€Ě Chrys lalu bekerja di bagian administrasi. Beberapa tahun kemudian, ia tertarik menjadi wartawan, dan oleh P.K. Ojong dimutasikan jadi wartawan kota.

Sangat menikmati profesi tersebut ditambah kelebihannya sejak kecil‚€”yang pandai melobi sehingga banyak teman‚€”menguntungkan dalam berkarir sebagai wartawan. ‚€œSaya menjadi wartawan ranking, ngetop dan bisa membuat berita apa pun. Dan karena saya sudah biasa meliput apa pun, saya tidak pernah lama berada di satu tempat (desk),‚€Ě katanya. Pernah ditempatkan di desk olahraga sebentar, kriminal, di Timor Timur, Istana.

Yang cukup berkesan saat meliput kawin kontrak antara seorang pekerja Korea dan warga suku Dayak di Kalimantan selama tiga bulan untuk dibuat features. Itu juga dalam rangka mengejar calon istri, yang memang asli Kalimantan. Ia ingin menunjukkan bahwa Chrys adalah wartawan andal.

Kunci suksesnya, baginya, ‚€œYang paling penting adalah lobi banyak, karena dengan lobi kita bisa banyak tahu berita.‚€Ě Selain itu, menurut Chrys, ‚€œKita harus sopan, jangan menyakiti orang. Kita juga harus punya kenekatan dan berkualitas.‚€Ě Satu hal yang juga ditekankan: ‚€œBerjuang dulu, karena orang akan tertarik kalau dia melihat kita berjuang, dan kemudian dia akan melihat kualitas kita.‚€Ě

Kepuasan tertinggi selama menjadi wartawan adalah ketika ia menulis berita menjadi headline selama 11 hari berturut-turut. Setelah 16 tahun jadi wartawan Kompas, ia tertarik berkiprah di televisi saat RCTI mulai mengudara, 1988. Oleh Peter F. Gontha, pemilik RCTI, Chrys ditawari masuk RCTI. Klop. Chrys membuat acara berita Seputar Indonesia.

Memang, ia merasakan kultur yang berbeda antara media cetak dan elektronik. ‚€œDalam dunia televisi kultur itu adalah team work, karena kalau enggak tim berat sekali. Kalau media cetak kan lebih ke pribadi. Jadi, kalau mau kepuasan pribadi, di media cetak,‚€Ě tuturnya.

Perbedaan kebijakan dengan komisaris, Bambang Trihatmodjo‚€”yang ketika itu mulai aktif di Golkar‚€”mengenai policyisi berita, yakni tidak boleh mengkritik pemerintah, membuat Chrys mulai tidak betah. ‚€œKalau tidak boleh mengkritik Soeharto, tak apa-apa. Tapi kalau tak boleh mengkritik pemerintah, wah celaka,‚€Ě ujar Chrys. Sebab, menurut Chrys, larangan itu membuat Seputar Indonesia semakin melempem dan menghambat kreativitas dan keberanian orang.

Bahkan, ia pernah dituntut membuktikan bahwa dirinya bukan PDI kala Seputar Indonesia mengekspos Megawati di Medan sehingga jadi berita yang meledak. Padahal, pertimbangan Chrys hanya berita. Untuk pembuktian lebih lanjut, ia disuruh menjadi anggota Golkar. Akhirnya ia dituntut mundur dari RCTI. Dengan sedih, karena ikut melahirkan RCTI, Chrys akhirnya keluar. Kini Chrys Managing Director Lativi, stasiun televisi swasta milik pengusaha Abdul Latief. Ikut mendirikan Lativi dari nol adalah pengalaman yang berkesan baginya.

Menikah dengan Anastasia Ratna Hawun Meiarti, teman kuliahnya di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Chrys ayah dua anak. Seperti yang pernah ia dapatkan dari kakaknya, ia pun menanamkan pada anak-anaknya bahwa hidup itu penuh perjuangan. ‚€œKita harus selalu konsentrasi pada satu bidang dan maksimalkan, serta belajar melobi dan berani mengambil risiko,‚€Ě katanya.

Hobinya selain baca buku biografi dan menonton film-film yang dinamis, Chrys ‚€“ sesuai namanya -- suka berkelana. Musik kesukaannya klasik terutama Piano Concert No. 5 dan Simfoni No. 6. Olahraganya tenis.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


CONNY RIOWSKINA SEMIAWAN (CONNY STAMBOEL) | COSMAS BATUBARA | CORNELIS J. RANTUNG | CHRISTINE HAKIM (HERLINA CHRISTINE) | CIPUTRA | CHRISTIANTO WIBISONO | CHRISTIAN HADINATA | CHRISMANSYAH RAHADI (CHRISYE) | CHEPOT HANNY WIANO | CHEHAB RUKNI HILMY | CHARLES ONG | CARLOS FILIPE XIMENES BELO | CARLA TEDJASUKMANA | Candra Wijaya | Chairul Tanjung | Chand Parwez Servia | Christine Hakim | Chrys Kelana | Ciputra | Cornelia Agatha


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq