A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Cornelia Agatha




Nama :
Cornelia Agatha

Lahir :
Jakarta, 11 Januari 1973

Agama :
Protestan

Pendidikan :
- SMP Dewi Sartika Jakarta
- SMA Dewi Sartika Jakarta
- Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta


Karir :
- Model iklan
- Membintangi sinetron antara lain: Opera Tiga Jaman, Si Doel Anak Sekolahan I sampai V, Senja Merah Hati Tua, Aku Ingin Pulang, Cintanya Cinta, Perempuan Pilihan.
- Membintangi film layar lebar: Lupus I, Elegi Buat Nana, Rini Tomboy
- Bermain teater, dalam lakon Wisanggeni Berkelebat, Bayi di Aliran Sungai, Dari Negeri Cinta, Max Havelar.


Penghargaan :
- Nomine Peran Utama Terbaik pada Festival Film Indonesia 1991 - Friends of Unicef 1997 - Delegasi Asian Film Week, 1997 - Nomine Panasonic Awards, 1997-2000 - Artis Paling Kemilau, 1999-2000 - Citra Karya Emas/Anugerah Insan Seni 2000 - Aktris Terpuji Forum Film Bandung 2002

Keluarga :
Ayah: Dave Maramis Ibu : Erry Yudha Asri

Alamat Rumah :
Sawo 78 Blok A, Cinere, Jakarta Selatan HP 08161816000

 

Cornelia Agatha


Boleh jadi, darah seni dalam diri Cornelia Agatha berasal dari ibunya, Erry Yudha Asri. Nyonya Erry adalah wanita asal Solo, Jawa Tengah, yang suka bermain teater dan melukis, selain memiliki galeri. Sedang, ayahnya, Dave Maramis, keturunan Belanda- Manado, karyawan sebuah rumah produksi dan pernah berkerja di televisi swasta. Sang ayah mengajarkan kesederhanaan tentang hidup padanya, walaupun secara materi mereka keluarga yang berkecukupan.

€œAyah cenderung mendidik saya agar jadi wanita yang kuat; kebetulan sifat saya tomboy,€ ujar Lia, yang menjadi terkenal lewal serial TV Si Doel Anak Sekolahan. Membersihkan tembok, membetulkan peralatan elektronik, berani jalan kaki, naik bus kota, ditanamkan ayahnya pada dirinya sejak kecil.

Lia kecil suka bergaya di depan kaca dan menyanyi. Walau merasa berbakat menyanyi, katanya, €œEntah kenapa saya tidak pernah mendapat kesempatan di dunia tarik suara.€ Kesempatan baginya memang lebih terbuka di dunia peran. Masih di sekolah dasar, Lia sudah main sandiwara di TVRI, lalu jadi model iklan sepatu dan tampil di cover majalah. Diajak oleh Dono Warkop, ia pun terjun ke film layar lebar, saat duduk di kelas satu SMP, membintangi Lupus I. Pada Festival Film Indonesia 1991, nama Cornelia masuk sebagai nomine Pemeran Utama Terbaik untuk film Rini Tomboy. Ini film yang paling berkesan baginya.

Si sulung dari tiga bersaudara juga pernah masuk sekolah balet Namarina Dance Academy dan Baile International Dance School. Yang agak melenceng, ia sempat menekuni atletik dan basket €“ hampir saja Lia jadi atlet. €œDi sekolah pun, saya sering ikut turnamen (olahraga),€ tuturnya. Lebih menikmati dunia seni, keinginan menjadi atlet akhirnya ia lepaskan. Ketika perfilman Indonesia mati, Lia terjun ke sinetron. Namanya pun kian berkibar berkat memerankan tokoh Sarah dalam Si Doel Anak Sekolahan.

Lia kian tenggelam dalam dunia seni -- walau harus bertentangan dengan ayahnya, yang menginginkan anak tertuanya mengambil studi hukum. Lulus SMA, ia kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengambil jurusan seni rupa/desain. €œSaya memberi pengertian pada Ayah, dan akhirnya Ayah dapat menerima bahwa ini memang pilihan hidup saya,€ katanya. Di IKJ, wawasannya tentang sinema, teater, musik, dan tari, semakin luas lewat interaksi yang intens dengan komunitas seni di lingkungan Taman Ismail Marzuki.

Tidak cukup di layar kaca, Lia sejak 1999 merambah dunia teater. Semula banyak yang meragukan kemampuannya berakting di panggung, karena tuntutannya jauh lebih besar dari beraksi di depan kamera. Ternyata, setelah beberapa kali berpentas bersama Teater Tetas, Lia membuktikan dirinya mampu berakting. €œDi teater, saya menemukan jati diri sebagai pemain, karena di situ nyaris tidak ada batas,€ ujar Lia yang pernah main teater di Kreaton Yogya khusus untuk Sri Sultan.

Namun yang paling mengesankannya saat ia ikut bermain dalam lakon Dari Negeri Cinta, juga bersama Teater Tetas. €œAda kolaborasi antara akting, tari, dan nyanyi, dan saya merasa memiliki ketiga bakat tersebut,€ ujarnya dengan yakin. Lia punya obsesi menggelar opera tingkat dunia dan mendirikan sekolah akting seperti di negeri-negeri maju, yang memberi gelar bagi lulusannya. €œSaya ingin melahirkan aktris dan aktor baru dengan kualitas bagus,€ cetusnya. Bila obsesi ini tercapai, baru Lia akan mengakhiri masa lajangnya.

Apa tanggapannya terhadap €œbangkitnya€ film nasional belakangan ini? €œKalau kita sudah memproduksi lima sampai sepuluh film layar lebar, dan ternyata sudah terlihat eksistensinya, itu berarti perfilman kita sudah bangkit,€ kata dia. Yang sekarang ia lihat, ada film yang kebetulan meledak.

Sebagai selebriti, ia menikmati popularitas -- walau kadang-kadang ada tidak enaknya kalau mempertimbangkan terganggunya privasi. Hobi Lia membaca buku dan menari, selain amat senang menonton film-film bertema horor, perang, dan mafia. Sedang olahraganya senam, beladiri, dan menembak.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


CONNY RIOWSKINA SEMIAWAN (CONNY STAMBOEL) | COSMAS BATUBARA | CORNELIS J. RANTUNG | CHRISTINE HAKIM (HERLINA CHRISTINE) | CIPUTRA | CHRISTIANTO WIBISONO | CHRISTIAN HADINATA | CHRISMANSYAH RAHADI (CHRISYE) | CHEPOT HANNY WIANO | CHEHAB RUKNI HILMY | CHARLES ONG | CARLOS FILIPE XIMENES BELO | CARLA TEDJASUKMANA | Candra Wijaya | Chairul Tanjung | Chand Parwez Servia | Christine Hakim | Chrys Kelana | Ciputra | Cornelia Agatha


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq