A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Chand Parwez Servia




Nama :
Chand Parwez Servia

Lahir :
Tasikmalaya, Jawa Barat, 18 Februari 1959

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD Negeri Galunggung III Tasikmalaya (1971)
- SMP Negeri II Tasikmalaya (1974)
- SMA Negeri II Tasikmalaya (1977)
- Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (1982)


Karir :
Pengusaha bioskop, distributor film, produser film dan sinetron, Dirut PT Starvision

Kegiatan Lain :
- Asisten dosen di Institut Pertanian Bogor (1981)
- Staf pengajar di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, (1982-1988)
- Ketua I Dewan Pengurus Daerah Jawa Barat Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI; 1985 €“ sekarang)
- Pendiri dan Ketua Pertama Forum Film Bandung


Keluarga :
Ayah : H. Abdul Wahid (almarhum) Ibu : Hj. Aisha Sadiqa (almarhum) Istri : Santhy Purnamasari Anak : Asha Servia, Reza Servia, Dido Servia, Raza Servia, Razwa Servia

Alamat Rumah :
Jalan Cempaka Putih Timur XXIV/54, Jakarta Pusat Telepon 4244192

Alamat Kantor :
Jalan Cempaka Putih Raya 116 A-B, Jakarta Pusat

 

Chand Parwez Servia


Anak kedelapan dari sepuluh bersaudara ini asli keturunan Pakistan. Orangtuanya€”keduanya sudah meninggal€”datang ke Indonesia pada tahun 1936, dan menetap di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sang ayah berdagang minyak serai, kemudian terjun ke industri batik. Sejak kecil, Parwez sudah terlatih hidup mandiri dan membantu orangtua. Untuk mendapatkan uang, ia menjual ternak piaraannya, merpati, atau membantu kakaknya yang pengusaha bioskop dengan membagi-bagikan pamflet.

Ibunya menginginkan Parwez jadi dokter, sedangkan ayahnya ingin si anak jadi insinyur teknik. €œSaya sendiri bingung ingin menjadi apa,€ paparnya.

Karirnya di bidang perbioskopan dimulai sejak kelas satu SMP, dengan memimpin satu bioskop. Sepulang sekolah, siang ia membantu menjaga toko orangtuanya, malam di bioskop. €œWaktu SMA, saya sudah memimpin beberapa bioskop di Tasikmalaya,€ tutur Parwez.

Kuliahnya di Institut Pertanian Bogor memberi manfaat lain. Karena jarak ke pusat industri dekat, ia belajar bagaimana para produser bernegosiasi. €œSaya memasukkan ide-ide saya kepada beberapa produser,€ ujar Direktur Utama PT Starvision ini. Sewaktu kuliah pula, ia bolak-balik Cirebon-Bogor. Oleh kakaknya, Parwez dipercaya memegang bioskop di Cirebon, yang kala itu peredaran film di sana sangat kacau karena diganggu oleh para preman.

Dari Cirebon, ia merambah ke Bandung dan menghadapi banyak kendala. €œAkhirnya kami membuka kantor di Bandung dan saya yang bertugas di sana,€ katanya. Di ibu kota Jawa Barat tersebut, ia turut mendirikan Forum Film Bandung. Di Kota Kembang itu pula, bersama sejumlah budayawan Bandung, Parwez pernah diperiksa polisi atas tuduhan membuat selebaran cerita lucu. Setelah kejadian tersebut, Parwez membuat Festival Film Bandung, tapi dilarang oleh pemerintah. Acara tersebut baru diberi izin setelah diubah menjadi Forum Film Bandung.

Ketika ada imbauan dari Mendagri dan Menpen Orde Baru agar daerah tingkat satu membuat film daerah, Parwez membuat film Si Kabayan Saba Kota. Pada 1995, Parwez mendirikan Starvision. Rumah produksi ini telah memproduksi banyak sinetron dan acara televisi lainnya, misalnya komedi Spontan.

€œKalau mau sukses, kita harus konsentrasi terhadap apa yang kita kerjakan.€ demikian ia menjabarkan moto hidupnya. Walau demikian, ia belum menyatakan diri sebagai orang yang sukses. €œSaya merasa kinerja saya belum maksimum.€

Di sela-sela kesibukannya, sebagai produser sejumlah sinetron, Parwez menyalurkan hobinya: joging dan berenang. €œSaya biasanya joging 12 sampai 16 kilometer, dan berenang antara 500 meter sampai satu kilometer,€ kata Parwez. Membaca skenario adalah bagian dari tugasnya. Di luar itu, ia suka membaca buku-buku psikologi, filsafat, dan agama.

Parwez pernah menikah sewaktu mahasiswa, tapi akhirnya gagal. €œSekarang saya sudah berkeluarga lagi dan saya bisa mempertahankannya sampai sekarang,€ kata ayah lima anak ini. €œSaya selalu mengadakan komunikasi terbuka dengan anak-anak,€ katanya tentang pendidikan kepada anak-anaknya. Khawatir terhadap penyalahgunaan narkoba, sesekali ia memeriksa kamar tidur anak-anaknya, agar tahu apa yang dilakukan mereka. €œAlhamdullilah, sejauh ini saya tidak melihat ke arah sana.€

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


CONNY RIOWSKINA SEMIAWAN (CONNY STAMBOEL) | COSMAS BATUBARA | CORNELIS J. RANTUNG | CHRISTINE HAKIM (HERLINA CHRISTINE) | CIPUTRA | CHRISTIANTO WIBISONO | CHRISTIAN HADINATA | CHRISMANSYAH RAHADI (CHRISYE) | CHEPOT HANNY WIANO | CHEHAB RUKNI HILMY | CHARLES ONG | CARLOS FILIPE XIMENES BELO | CARLA TEDJASUKMANA | Candra Wijaya | Chairul Tanjung | Chand Parwez Servia | Christine Hakim | Chrys Kelana | Ciputra | Cornelia Agatha


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq