
Nama : SOEDIGDO Pringgoprawiro
Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 25 Maret 1924
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Jepara dan Demak (1937)
- MULO-B, Jakarta (1940)
- AMS dan Sekolah Menengah Tinggi, Jakarta (1943)
- Kursus Kemiliteran, Balong, Jawa Tengah (1948)
- Ika Daigaku-Yakugakubu, kemudian Perguruan Tinggi Farmasi, Klaten dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam UI (sekarang ITB), Bandung (1954)
- Sekolah Ilmu Siasat AURI (1955)
- Jurusan Biokimia Universitas Groningen, Negeri Belanda (Doktor, 1961)
- Intermediate Metabolism, Department of Biochemistry, Universitas Kentucky, AS (1964-1967)
- Membrane Transport, Department of Pharmacology, Universitas Kentucky (1974-1975)
Karir : - Anggota Kelompok Mahasiswa Prapatan 10 (1945-1947)
- Selaku anggota TNI/AD ikut Perjuangan Clash I (1947-1948)
- Operasi memberantas PKI-Madiun (1948)
- dan perjuangan aksi Clash II (1948-1949)
- Pindah ke TNI-AU (1951-1956)
- Guru besar ITB (1961 -- sekarang) Kegiatan lain: Ketua II Perhimpunan Biokimia Indonesia (1977- 1982)
- Anggota Pimpinan Perhimpunan Biokimia Indonesia (1982 -- sekarang)
- Anggota Tim Penasihat Himpunan Kimia Indonesia (1980 -- sekarang)
Karya : Karya tulis penting:
- Pengantar Statistika Kimia, Penerbit ITB, 1980
- Pedoman Seminar dalam Ilmu Pengetahuan Alam, Kimia ITB, 1975
Alamat Rumah : Jalan Sukahaji Baru No. 5 B, Gegerkalong, Bandung 40152 Telp: (022) 87590
Alamat Kantor : ITB Jalan Ganesha 10, Bandung
|
|
SOEDIGDO Pringgoprawiro
Ayahnya guru SD, yang pensiun sebagai pengawas sekolah se- Kabupaten Jepara. Kehidupan keluarga beranak delapan itu begitu sederhana, sehingga uang sekolah Soedigdo pernah tertunggak. "Untung, ada orang yang mau membayari," tutur si anak keempat itu.
Dalam suasana prihatin, berhasil juga Soedigdo merampungkan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Jakarta. Ia lalu melanjutkan ke Sekolah Tinggi Farmasi di Klaten, Jawa Tengah. Pada 1947, ia masuk TNI-AD, sampai berpangkat pembantu letnan dua. Ia turut menumpas pemberontakan PKI di Madiun, 1948. Pindah ke TNI-AU, pangkatnya terakhir letnan satu.
Pada saat berhenti dari TNI-AU itu, 1956, Soedigdo sudah dua tahun lulus dari Jurusan Biokimia, Fakultas Ilmu Pasti & Alam UI di Bandung. Lima tahun kemudian, ia meraih gelar doktor biokimia dari Universitas Groningen, Negeri Belanda. Disertasinya berjudul Onderzoekingen Over Arvensine een Proteolytisch Enzyme uit de Zaden van Pisum Sativum Spp- Arvensi.
Guru besar ITB ini dikenal rajin melakukan penelitian. Bahkan acap kali bersama istrinya, guru besar kimia yang juga mengajar di ITB. Pasangan ilmuwan ini terkenal secara internasional. Penelitian Soedigdo bersama Takashi Murachi dan Atsuko Kamei dari Universitas Kyoto dipublikasikan pada 1982 dengan judul Effect of Bongkretic Acid, a Product of Pesudomonas Cocovenenans, on Thiol Proteases.
Profesor yang selalu tampil sederhana ini telah menghasilkan lebih dari 100 tulisan dalam majalah ilmiah. Dua bukunya diterbitkan ITB: Pedoman Seminar dalam Ilmu Pengetahuan Alam, 1975, dan Pengantar Statistika Kimia, 1980. Pengabdian Soedigdo dan istri kepada penelitian mendorong ITB memberikan penghargaan kepada mereka berdua sebagai Peneliti Teladan.Sang istri, Prof. Dr. Soekeni Adiwikarta, juga lahir dari keluarga sederhana. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini berayahkan seorang petani kecil. Keni di masa kecilnya selalu membantu ibunya yang berjualan penganan di pinggir jalan di Cimahi, kota kelahirannya di Jawa Barat -- sambil tidak lupa membawa bacaan atau buku pelajaran. Berangkat ke sekolah ia membawa kue untuk dijajakan kepada teman-temannya. "Saya tidak merasa rendah diri," kata Soekeni tentang masa kanaknya.
Di Jurusan Kimia ITB, Keni tidak menonjol dalam penampilan. Acap bergaun lurik atau belacu, ia sempat dijuluki "Gadis Cina berkabung".
Cerdas dan rajin, wanita bertubuh mungil itu merampungkan kuliah tepat pada waktunya, 1958. Sembilan tahun kemudian, ia meraih gelar doktor dari Universitas Kentucky, AS. Disertasinya berjudul Thermal Isomerizations of Substituted Pyrroles. Di sana ia juga menghasilkan tujuh makalah ilmiah tentang penyebab kanker, yang dipublikasikan dalam berbagai majalah keilmuan.
Masih di Amerika, Prof. Keni tergoda oleh sejumlah berita yang menyebutkan minyak kelapa, oncom, tempe, malah gado-gado, sebagai penyebab kanker hati. Itulah yang diselidikinya setiba kembali di Indonesia, dengan bantuan suaminya. Dari lapukan- lapukan tempe, oncom, dan kacang-kacangan lainnya, ia berhasil menemukan aflatoksin B-1 yang bisa menyebabkan kanker. Tetapi, Soekeni ragu kalau benar demikian, bukankah semua orang Indonesia menderita kanker?
Merasa tidak puas, ilmuwan wanita penerima penghargaan Menteri Pendidikan & Kebudayaan, 1983, itu meneliti lebih dalam. Ternyata: aflatoksin B-1 tadi tidak sama dengan yang dikenal selama ini, dan tidak seganas seperti yang ditakutkan orang. "Saya yakin bahan-bahan makanan tadi tidak akan menyebabkan kanker hati," katanya.
Namun, kewaspadaan masih diperlukan. Sang suami, Januari 1985, mengingatkan tentang bahaya racun aflatoksin tersebut. Yaitu yang terdapat dalam makanan kacang-kacangan yang tidak disimpan dengan baik, sehingga berjamur. Ilmuwan yang di masa mudanya, 1943, pernah menjadi juara judo ini menyebutkan racun jenis lain, toksolavin dan asam dari tempe bongkrek, yang sifatnya kronis dan akut. Sekitar seribu orang Indonesia telah mengalami keracunan yang sifatnya gawat itu.
Ada yang menilai Digdo dan Keni mirip pasangan ilmuwan Prancis, Pierre Curie dan Madame Curie -- walaupun dalam penemuan belum setaraf. Pasangan profesor Indonesia itu memang selalu tampak bersama, terutama dalam penelitian. Penelitian pulalah kebetulan tentang bekicot, yang menggiring mereka ke pelaminan, 1963.
|