
Nama : Salim Said
Lahir : Parepare, Sulawesi Selatan, 10 November 1943
Agama : Islam
Pendidikan : - Jurusan Sosiologi FISIP (S1) Universitas Indonesia, Jakarta (1976)
- Ohio University, Athens, Ohio, Amerika Serikat (MA bidang hubungan internasional, 1980)
- Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat (MA bidang ilmu politik, 1983)
- Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat (PhD bidang ilmu politik, 1985)
Karir : - Koresponden luar negeri dan kritik film untuk majalah TEMPO (1971-1979)
- Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1990-1998)
- Dosen di Sekolah Ilmu Sosial Jakarta (1987-1990)
- Dosen FISIP Universitas Indonesia (1994)
- Dosen tamu di Universiti Malaya, Kuala Lumpur (1997)
- Dosen Tamu di Tammasat University, Bangkok, Thailand (1999)
- Profesor Tamu di Ohio University, Athens, Ohio, Amerika Serikat (2001-2002)
- Anggota MPR (1998-1999)
Karya : - Profil Dunia Film Indonesia (1982)
- Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics, 1945-49 (1991)
- Shadows on the Silver Screen: A Social History of Indonesian Film (1991)
- Dari Festival ke Festival (1995)
- Militer Indonesia dalam Politik (2001)
- Wawancara Tentang Tentara dan Politik (2001)
Keluarga : Ayah : Haji Said
Ibu : Hajjah Salmah
Istri : Herawaty
Anak : Amparita
Alamat Rumah : Jalan Redaksi J. 149, Kompleks PWI, Cipinang Muara, Jakarta Timur
Telepon (021) 8196757
Alamat Kantor : Banking Reform and Reconstruction Corporation, Manggala Wana Bakti, Blok IV, Lantai 8, Wing B, Jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat
|
|
Salim Said
Orang mengenalnya sebagai pengamat militer. Padahal, secuil pun ilmu dari akademi militer tak pernah ia cicipi. Salim Said jadi pengamat militer memang lantaran ia mendalami dan mengkaji masalah militer ketika mengambil gelar doktornya di Ohio University. Desertasi doktornya di sebuah perguruan Amerika itu bertema €œSejarah dan Politik Tentara Indonesia€. Sejak itu, kata lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, ini, €œSaya dianggap sebagai orang yang tahu banyak soal militer.€
Jauh sebelum itu, Salim malah lebih dikenal sebagai kritikus film. Bahkan, mantan wartawan TEMPO ini pernah menulis buku tentang film. €œSudah tiga buku saya tulis tentang film, di antaranya Sejarah Sosial Film Indonesia,€ ujar Salim yang di zaman Orde Baru ini pernah menjadi komentator film di televisi.
Penulisan seputar film dimulainya sejak ia ditugasi mengisi salah satu rubrik di majalah TEMPO. €œHasilnya, sembilan tahun kemudian, saya menulis skripsi tentang film,€ tutur Salim, yang kala itu masih belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia.
Kegiatan tulis menulis telah diakrabinya sejak kecil. €œKetika saya mulai suka mengarang dan dimuat di media, ayah saya sangat bangga,€ kenang Salim. Sebab ayahnya sendiri gemar menulis, tetapi tulisannya tidak pernah dimuat di satu media pun.
Intelektualitas dan prestasi Salim tampaknya tak terlepas dari peran sang ayah yang selalu diingatnya. €œSuatu ketika, saya minta dibelikan bola,€ papar pengamat bersuara lantang ini. €œTapi Ayah menolaknya. Tetapi kalau saya minta buku, di manapun akan dia cari,€ cerita Salim. Ayahnya sendiri gemar membaca, yang secara rutin mencari majalah dan surat kabar terbitan Jawa dan Sumatera. Soalnya, waktu itu, tempat tinggal tinggal mereka di Parepare terbilang langka bacaan bermutu.
Beranjak remaja, bakat menulis Salim kian terbentuk siap terjun ke dunia yang hiruk-pikuk itu. Peluang terjun ke dunia jurnalistik datang pada awal 1965, dimulai dengan menjadi wartawan di harian Angkatan Bersenjata. €œWaktu itu, semua media telah dikuasai PKI dan underbouw-nya. Bagi saya, bekerja di Angkatan Bersenjata adalah setengah untuk cari makan dan setengah perjuangan,€ kata Salim, yang menggunakan sebagian penghasilannya untuk membiayai pendidikannya.
Perjuangan yang digeluti Salim dan banyak orang saat itu adalah bagaimana menggempur dominasi komunis. €œWaktu itu, saya masih sangat muda, sekitar 21 tahun. Tidak terlalu banyak yang saya tahu. Saya hanya khawatir kalau komunis berkuasa, negeri kita seperti Uni Soviet maupun Cina,€ tutur Salim. Setelah perjuangan merontokkan PKI berhasil pada 1966, tahun 1970 termasuk dalam kelompok wartawan muda, bersama Goenawan Mohamad, Fikri Jufri dan lain-lain mendirikan TEMPO, majalah berita mingguan. Bahkan selama menyelesaikan pendidikannya di Ohio, ia tetap membantu menjadi koresponden majalah itu di Amerika.
€œKami semua yang di TEMPO waktu itu pendukung Orde Baru. Kita juga mendukung Golkar, karena awalnya kita semua mempunyai harapan adanya perubahan,€ tukas Salim. Setelah Peristiwa Malari, arah politik mulai menyimpang dari cita-cita semula dan mereka pun menarik dukungan terhadap orde pimpinan Soeharto itu.
Sekembali ke Tanah Air, Salim kembali bekerja penuh di TEMPO. Tapi hanya bertahan setahun, dan keluar pada 1987. Kenapa? €œPanjang ceritanya. Dan saya tidak mau mengungkit-ungkit lagi. Bagi saya itu luka lama, mungkin karena saya tidak cocok saja. Waktu itu juga terjadi eksodus sejumlah wartawan TEMPO ke majalah Editor.€ Meskipun tadinya orang mengira termasuk kelombok yang €œkabur€ ke Editor, tambahnya, €œNamun saya bukan bagian dari eksodus itu.€
Sekeluar dari TEMPO, Salim dan teman-temannya pernah mencoba menerbitkan media baru. Namun tak pernah berhasil. €œKami tidak mau terima dana dari orang-orang yang dekat dengan Orde Baru,€ katanya mengungkapkan alasan. Sejak itulah ia memulai kariernya sebagai ilmuwan politik. €œItu yang saya lakukan sampai sekarang,€ ucap Salim.
Istrinya, Herawaty, diakuinya banyak berperan bagi pengembangan kariernya. Selain sebagai ibu rumah tangga, istrinya juga menjadi kepala perpustakaan merangkap asisten peneliti. Tak heran, jika ke mana pun Salim pergi, Nyonya Herawaty selalu menyertainya. €œKegiatan kami bisa lebih lancar karena hanya memiliki seorang anak,€ kata Salim. Mengapa hanya memiliki satu anak, karena ia ingin menjamin keberhasilan pendidikan si anak tunggal.
Tampaknya Salim dan ayahnya sama, amat peduli pada pendidikan keturunan mereka. Ia jadi teringat ketika ayahnya mengajaknya ke kantor pos untuk menabung. €œAyah mengatakan, tabungan ini untuk membiayai pendidikan saya di masa depan. Sebab, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasibmu,€ kisah Salim, yang pernah menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di mancanegara.
|