
Nama : Sangkot Marzuki Batubara
Lahir : Medan, 2 Maret 1944
Agama : Islam
Pendidikan : - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (dr, 1968)
- Mahidol University (M.Sc., 1971); Monash University (Ph.D., 1975)
- Monash University (D.Sc./higher doctorate, 1998)
Karir : - Peneliti tamu Jichi Medical School, Jepang (1981)
- Pendamping peneliti senior Centre for Molecular Biology and Medicine, Monash University, Australia (1984-1991)
- Profesor tamu Melbourne University, Australia (1988)
- Pendamping peneliti senior pada St. Vincent's Institute for Medical Research, Merlbourne, Australia (1984-1991)
- Profesor pendamping biokimia, Monash University, Australia (1984-1992)
- Ilmuwan senior, BPP Teknologi (1992-1999)
- Asisten profesor biologi selular dan molekuler, Queensland University, Brisbane, Australia (1997-sekarang)
- Guru besar luar biasa dalam ilmu kedokteran, Universitas Indonesia (1996-sekarang)
- Profesor ilmu kedokteran, Monash University, Australia (1995-sekarang)
- Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (1992-sekarang)
Kegiatan Lain : - Wakil Ketua Panitia Nasional Pengembangan Bioteknologi (1992-1995)
- Wakil Presiden Asia-Pacific Society of Bioscientists (1996-1998)
- Penasihat PT Bio Farma (1999-sekarang)
- Ketua Asia Pacific Network of Human and Medical Geneticist (1995-sekarang)
- Ketua Organisasi Human Genom Indonesia (1999-sekarang)
- Anggota Dewan Riset Nasional (1994-sekarang)
Penghargaan : - Exchange Fellow – Australian Academy of Sciences 1981
- ASEAN Achievement Award (Science-Biology) 1992
- Penghargaan M. Kodijat – Ikatan Dokter Indonesia 1994
- Outstanding Science Alumnus Award – Mahidol University, Thailand 1999
- Eijkman Medal, University of Utrecht, Netherlands 2001
Keluarga : Ayah: Amier Hasan Batubara
Ibu: Butir Chairani
Istri: Wilani Marzuki
Alamat Kantor : Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jalan Diponegoro 69, Jakarta Pusat
Telepon : 3148695
Faksimile : 3147982
|
|
Sangkot Marzuki
Idealisme dan patriotisme membuat Sangkot Marzuki rela meninggalkan kehidupan mapan di negeri orang. Dua dasawarsa lebih berada di Australia, pada awal 1992 ia diajak pulang oleh (waktu itu) Menteri Negara Riset dan Teknologi, B.J. Habibie. Dan Sangkot menerimanya, karena persamaan visi antara dia dan ahli konstruksi pesawat terbang lulusan Jerman itu. “Ingin melestarikan tradisi ilmiah dan menghapus ketertinggalan Indonesia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi -- terutama di bidang bioteknologi," tuturnya tentang ambisinya bersama Habibie.
Bermodal idealisme itu, pada Juli 1992, Sangkot bersama 20 peneliti lainnya berusaha menghidupkan kembali Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang telah berdiri sejak sebelum Perang Dunia II. Karena ketiadaan perhatian (dan dana khusus) dari pemerintah, lembaga tersebut sempat mati suri. Kemudian, sejak April 1993, penelitian di Lembaga Eijkman resmi dimulai.
Tugas yang diemban Sangkot dan rekan-rekannya tidak terbilang mudah. Amat minimnya dana dan literatur, serta langkanya peneliti biologi molekuler di Indonesia, diakui Sangkot sebagai kendala pengembangan Lembaga Eijkman. Menurut dia, mutu lulusan pendidikan biolgi sel dan molekul di perguruan tinggi Indonesia masih terbilang rendah; tak punya kemampuan teknis dan budaya meneliti. Parahnya lagi, banyak doktor di sini tidak meneliti, melainkan menjadi tenaga administrasi.
Memang, tutur Sangkot, pekerjaan penelitian sebaiknya harus dilakukan karena hobi atau kecintaan, bukan dari bagus-tidaknya penghasilan. Ia mencontohkan Albert Einstein, empu relativitas dan ilmuwan dunia, yang menjadi meneliti karena rasa cinta pada sasaran penelitiannya. Jadi, seorang peneliti memang harus siap bergelut di "lahan kering". Menurut ayah dua anak itu, perlu perjalanan panjang bagi seorang peneliti untuk menjadi kaya. Itu pun bila menemukan sesuatu penemuan yang berharga, lalu membuka perusahaan dan memasarkannya. Ia menunjuk Bill Gates dengan Microsoft-nya.
Sangkot menjalani masa kecil hingga bangku sekolah menengah atas di kota kelahirannya, Medan. Masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1962, gelar dokter diraihnya pada 1968. Lelaki yang selalu tampil necis itu kemudian mendapat beasiswa dari pemerintah Thailand untuk belajar di Universitas Mahidol. Pada 1971, ia melanjutkan studi di Universitas Monash, Australia, sampai menggondol gelar doktor empat tahun kemudian.
Kini, peneliti senior Lembaga Eijkman ini selalu disibukkan kegiatan penelitian. Sangkot punya obsesi menjadikan lembaga yang dipimpinnya itu sebagi institusi penelitian paling terpandang di Indonesia – yang pamornya pernah memudar karena invasi Jepang (1942-1945) dan kemudian ditutup karena kemelut politik 1965-1966.
|