
Nama : TANRI ABENG
Lahir : Selayar, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1942
Agama : Islam
Pendidikan : -SD, Ujungpandang (1955)
-SLP, Ujungpandang (1958)
-SLA, Ujungpandang dan New York (1961/1962)
-FE Unhas, di Ujungpandang (tingkat V)
-M.B.A. dari State University of New York, Buffalo, New York, AS (1968)
Karir : -Management Trainee Union Carbide Corp. AS (1968-1969)
-Office manager & chief accountant PT Union Carbide Indonesia (1969-1971)
-Secretary and Treasurer (Direktur Keuangan) merangkap Anggota Dewan Direktur dari PT Union Carbide Indonesia, PT Agrocarb, PT Karmi Arafura Fisheries (1971-1976)
-Marketing Operations Manager Union Carbide Singapore Pte. Ltd., Singapura
-Direktur PT Perusahaan Limun Indonesia
-Presdir PT Multi Bintang Indonesia (sekarang)
Kegiatan Lain : -Direktur AFS International, New York, AS (1978- 1981)
-Pendiri/Ketua Ikatan Financial Executives Indonesia (1975- 1977)
-Ketua Umum Persatuan Manajemen Indonesia (Permanin)
-Wakil Ketua PPIRA/AFS Indonesia
-Dana Mitra Lingkungan Anggota International Council "Asia Society", NY, AS.
Alamat Rumah : Kapling 3 A Simpruk, Jakarta Selatan Telp: 714449
Alamat Kantor : PT Multi Bintang Indonesia Jalan Wahid Hasyim 84w86, Jakarta Pusat Telp: 330219
330327
330095
330126
|
|
TANRI ABENG
Semula, Tanri bercita-cita menjadi guru. "Kekayaan jangan dijadikan satu-satunya dorongan untuk berbuat sesuatu," katanya. Belakangan, setelah memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA), dari State University of New York, 1968, ia ternyata malah jadi manajer perusahaan multinasional Union Carbide Corp. Dan, pada paruh pertama tahun 1980-an, Tanri seorang di antara manajer termahal di Indonesia. Setelah pindah dari perusahaan terdahulu, ia (sejak April 1980) Presiden Direktur PT Multi Bintang -- penghasil bir dan beberapa jenis minuman lain yang, berdasarkan pembukuan 31 Desember 1984, mencatat laba bersih Rp 6,021 milyar.
Tetapi, pandangan hidupnya tetap. "Saya tidak usah harus menjadi kaya, memiliki banyak saham, banyak rumah, dan lain- lain," katanya. "Yang penting, saya puas. Pengembangan manajemen merupakan prioritas yang memberi kepuasan kepada hidup saya," katanya.
Satu dari sekian gebrakannya membenahi manajemen adalah membiasakan rapat para manajer senior setiap Senin. Dalam rapat, yang oleh Tanri dinamakan manager committee meeting, itu "Terjadilah management process, yaitu decision making process," katanya. "Cara ini, tempat saya melontarkan pemikiran, saya sebut direct training. Mereka bisa mengembangkannya ke anak buah masing-masing."
Di PT Multi Bintang Indonesia (MBI), pada awal kepemimpinannya, Tanri menciutkan jaringan distributor, dari 118 menjadi 12. Belum setahun di situ, ia mengambil alih lisensi pembuatan bir hitam dari PT Guinness Indonesia, dan pada awal 1981 membeli semua kekayaan dan usaha PT Brasseries de L'Indonesie di Medan. Sementara itu, MBI sendiri, setelah 15% sahamnya dijual ke masyarakat, pada 1981 beromset Rp 36 milyar, dengan laba Rp 4 milyar. Pada 1983 keuntungannya menjadi Rp 7 milyar, padahal ekonomi dunia tengah dilanda resesi. Tahun itu pula Tanri mengeluarkan minuman baru Green Sand Shandy.Menjelang Tanri masuk, kondisi perusahaan bir itu sedang tidak cerah. "Mereka bilang keadaannya runyam," tutur Tanri di kemudian hari. Dua bulan di situ, ia ditawari untuk ditatar lebih dulu selama 5 bulan di Negeri Belanda. "Tapi saya tolak," katanya. "Untuk apa dikirim ke Belanda, padahal pekerjaan menumpuk di sini?" Ketika ditanya oleh pihak perusahaan, apakah mampu langsung jadi chief executive, jawab Tanri, "Akan saya coba."
Farida Nasution, bekas teman sekampus yang kemudian dinikahi Tanri pada 1968, dan kini ibu dua anak, mengatakan, "Yang sangat menarik saya adalah kemauannya yang keras, pantang menyerah, sebelum berhasil mendapatkan yang diinginkannya."
Tanri, tinggi 155 cm dan berat 60-an kg, sudah yatim piatu sejak masih belia: orangtuanya, pasangan Palehe dan Kmiriati, petani di Selayar, Sulawesi Selatan, telah lama meninggal. Untuk bersekolah di SD -- dan seterusnya -- anak bungsu dari lima bersaudara ini harus hijrah ke Ujungpandang, tempat saudara sepupunya tinggal, lantaran saudaranya ini yang membiayai Tanri. Untuk tambahan biaya, di SMEA ia berjualan diktat mata pelajaran.
Pada 1960-an ia aktif sebagai bendahara PII (Pelajar Islam Indonesia) di Ujungpandang, sebelum akhirnya bergiat pula dalam HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Universitas Hasanudin. Di kelas III SMEA ia mengikuti program pertukaran siswa AFS, dan tinggal selama setahun di AS, di keluarga Gibson. Lewat Pak Gibson inilah ia, setelah mencapai tingkat V Fakultas Ekonomi Unhas, memasuki Graduate School of Business Administration.
Tidak gemar minum bir, kecuali, "Hanya segelas saban malam, demi kesehatan," katanya, Tanri juga tidak senang bergadang. Nonton juga bukan hobinya. "Sebab, nonton malah membuat saya tegang." Ia lebih senang main tenis, dua kali seminggu, biasanya di Hotel Hilton, Jakarta.
|