A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Teuku Jacob




Nama :
Teuku Jacob

Lahir :
Peureulak, Aceh Timur, 6 Desember 1929

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD, Langsa (1943)
- SMP, Banda Aceh (1946)
- SMA, Bandaaceh (1949)
- Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta (1956)
- University of Arizona Graduate College , Tucson AZ (antropologi; 1957)
- Howard University Graduate School, Washington DC; antropologi ragawi, M.D.; 1958)
- Universitas Amerika, Washington DC, AS (1960)
- Providence Hospital, Washington, DC (rotating internship), ECFMG (M.D.; 1960)
- Rijkuniversiteit, Utrecht, Belanda (paleoantropologi, doctor; 1966-1968 )


Karir :
Asisten (antropologi) Fakultas Kedokteran UGM (1954-1956)
- Asisten ahli (1956)
- Lektor Muda (1962)
- Lektor (1963)
- Lektor Kepala (1965)
- Visiting Professor di San Diego State College (1968)
- Professor emeritus (1971)
- Sekretaris Fakultas Kedokteran UGM (1973)
- Dekan Fakultas Kedokteran UGM (1975)
- Rektor UGM (1981-1986)
- Anggota Majelis Permusyawatan Rakyat (1982)
- Professor invitee Museum d'Histoire Naturelle (1991-1999-2000-
2001)
- Professor entrenger College de France (1992).

Kegiatan Lain :
- Redaksi Berkala Ilmu Pengetahuan (1969-€)
- American Association for the Advandcement of Science
- New York Academic of Sciences
- Association d'Antropologie de Paris
- Association for Political and Life Science
- Ikatan Dokter Indonesia; Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia
- Asosiasi Antropologi Indonesia
- Himpunan Bioantropologi dan Paleoantropologi Indonesia Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
- Society for Medical Antropology; International Unionn for antropologcal and Ethnologic al Science
- International Association of Human Biologists
- Ikatan ahli Arkeologi Indonesia; Association Internationale pour l'Etitude de la Paleontologie Humaine; Himpunan Palomologi Indonesia; Institut d'Antropologie
- Longgupo Institute of Paleoantropology
- Pusat Studi Keamanan


Karya :
1. The Racial History of the Indonesian Region
2. Kedokteran Komunitas
3. Pendidikan Kedokteran
4. Antropologi Kedokteran
5. Polemologi : Bacaan tentang Perang dan Damai,
6. Masa Depan: Mempelajari, Menyongsong dan Mengubahnya,
7. Manusia, Ilmu dan Teknologi,
8. Menuju Teknologi Berperikemanusiaan,
9. Seba-serbi Manusia Purba,
10. Antropologi Biologis,
11. Tahun-Tahun yang Sulit,
12. Dari Hiroshima ke Hari Ibu,
13. Beginilah Kondisi Manusia,
14. Semangat Kecendekiawan Menggalang Perdamaian Dunia


Penghargaan :
- Plaket 25 Tahun dalam Antropologi, Fakultas Kedokteran UGM (1979) - Satyalencana Karyasatya Kelas I, Republik Indonesia (1980) - Medali Paul Broca, CNRS (1980) - Hadiah Ilmu Pengetahuan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) - Piagam Penghargaan Fakultas Kedokteran UGM (1982) - Medali Kesetiaan 30 Tahun, UGM (1984) - Hadiah Ilmu Pengetahuan bidang Penelitian, Ikatan Dokter Indonesia (1984) - D. Sc. Open International University for Complementary Medicine, Colombo , Srilanka (1992) - Medali Emas, Indian Board of Alternative Medicines, Calcutta (1993) - Anugrah Hamengku Buwono IX, UGM (1997) - Bintang Mahaputra Nararya (2002)

Alamat Rumah :
Sekip M4, Yogyakarta 55281. Telepon 587697. Faksimile : 274-587697

Alamat Kantor :
Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Jalan Medika, Sekip, Yogyakarta, 55281. Telepon : 62-274-902546

 

Teuku Jacob


Hampir semua negara di belahan bumi ini pernah dikunjungi oleh Prof. Teuku Jacob €“ dan acapkali dengan membawa beberapa koper, termasuk yang besar dan berat. Pakaian semuakah? Ternyata ada di antaranya berisi tulang belulang manusia dan binatang. Kegiatan ini terkait dengan profesinya selaku €œpemburu manusia purba€ -- yang terbilang langka di Indonesia.

Menjadi antropolog ragawi tampaknya bukan cita-cita masa kecil lelaki kelahiran Peureulak, Aceh Timur, ini. Anak-anak Aceh biasanya diarahkan menjadi pedagang -- kalau bukan meneruskan tradisi mayoritas warganya yang petani dan nelayan. €œSaya sekolah di sekolah rendah, sekolah untuk anak-anak pribumi atau Hindia Belanda. Namun tidak sembarangan orang masuk ke sana. Beruntunglah saya karena Ayah termasuk pejabat sehingga saya bisa sekolah,€ kata Jacob, putra seorang bangsawan yang menjadi pegawai swapraja di zaman penjajahan Belanda.

Kemudian Jacob melanjutkan ke Sekolah Menengah Tinggi (SMT) yang letaknya di Kutaradja (sekarang Banda Aceh). Sekolah gabungan SMP dan SMA ini ia jalaninya selama lima tahun. Setamatnya dari SMT, bersama 10 teman, ia meninggalkan Aceh dengan menggunakan pesawat Dakota menuju Yogyakarta pada 1950.

Di Kota Pelajar itu ia lalu melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada UGM). €œPilihan yang ada pada waktu itu cuma dua: sastra dan kedokteran. Sebenarnya saya lebih tertarik pada jurusan Tehnik Kimia, tapi belum ada jurusannya, €œ kisah Jacob. Ia lalu menetapkan putusan: fakultas kedokteran.

Semasa kuliah, Jacob aktif di berbagai kegiatan mahasiswa. Ia memimpin majalah Gadjah Mada dan mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Semasa di Aceh, ia pernah menjadi juru bicara Resimen II Tentara Pelajar, setiap malam ia mengudara lewat corong RRI. Mereka menyerukan perebutan Yogya dari tangan Belanda.

Lulus FK-UGM (1956), ia mempelajari anatomi di Howard University, Washington, DC, AS. Gelar doktor ia peroleh tujuh tahun kemudian di Rijkuniversiteit Utrecht, Belanda.

Mengapa ia memilih antropologi ragawi yang 'tidak bermasa depan' itu? €œSaat itu, Indonesia belum memiliki seorang antropolog ragawi, sedangkan di Indonesia banyak sekali peninggalan-peninggalan manusia purba,€ Prof. Teuku Jacob menjelaskan awal ketertarikannya tersebut. Lagi pula, lanjutnya, sejarah kehidupan manusia purba di Indonesia terkait erat dengan sejarah manusia di dunia.

Cuma belakangan, ia sangat sedih atas kondisi Bangsa Indonesia. Jacob yang pernah juga ikut berjuang di masa revolusi ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri begitu banyak mayat bergelimpangan dalam mempertahankan Indonesia. €Saat ini saya melihat manusia-manusia biadab yang membunuh saudaranya sendiri untuk sebuah keserakahan. Manusia sekarang kekejamannya melebihi binatang. Orang mengira manusia purba itu buas dan senang memangsa sesamanya dan berbagai kelakuan buruk lainnya, nyatanya tidak. Manusia sekaranglah yang lebih buas,€ ujar suami Nuraini yang memberinya seorang anak perempuan.

Manusia purba, sambung Jacob, tidak mungkin saling memangsa, saling mengintai, maupun saling membunuh. Sebab, €œJika dilakukan ikatan kelompok mereka bakal bubar. Memangsa sesama hanya mungkin dilakukan oleh orang modern, bukanlah oleh manusia purba,€ tutur Jacob.

Selain mahir berceritera seputar manusia purba, Jacob juga tangkas mengeluarkan opini tentang pemerintah saat ini. €œSemua pelaksana negara saat ini orang brengsek. Mereka hanya mementingkan urusan perut sendiri tanpa memikirkan urusan perut rakyat. Kalau tidak bisa memimpin turun sajalah. Masih banyak yang mampu kok,€ ujar penyantang Bintang Mahaputra Nararya (2002) itu.

Dalam pengembaraannya mencari dan meneliti situs-situs baru, penemu Homo Neanderthal di Sangiran, Solo, Jawa Tengah, itu berkesempatan mencicipi makanan negara-negara yang ia kunjungi. Kadang-kadang ia mencoba merasakan makanan yang tidak umum dikonsumsi masyarakat. €œSaya pernah mencicipi daging gajah, leopard, singa, harimau, jerapah, bison. Sepertinya hampir semua binatang yang ada di Gurun Afrika pernah saya makan, kecuali kuda nil. Lihat bentuknya saja sudah menggelikan, apalagi memakannya,€ papar Jacob.

Kalau gajah, kata Jacob yang berusaha mengurangi makanan bersantan dan pedas, €Dagingnya keras dan a lot.€ Lelaki yang gemar renang dan tai chi ini sebetulnya lebih menyukai masakan Aceh dan India. Karena, menurut Jacob, €œBumbu dan bahan makanan tidak disatukan langsung. Tetapi saya juga suka makanan khas Yogja seperti rawon.€

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


TRY SUTRISNO | TINO SIDIN | TADJUL ARIFIN | TAHI BONAR SIMATUPANG | TAHIR DJIDE | TANRI ABENG | TAPI OMAS IHROMI | TAUFIK ABDULLAH | TAUFIQ ISMAIL | TAUFIQ RUSJDI TJOKROAMINOTO | TEGUH | TEGUH KARYA | TEUKU JACOB | TEUKU MOHAMMAD RADHIE | THE NING KING | THEE KIAN WIE | Tamrin Amal Tomagola | Tantowi Yahya | Taufiq Ismail | Teten Masduki | Teuku Jacob | Theo F. Toemion | Todung Mulya Lubis | Toeti Heraty Noerhadi Roosseno | Tomy Winata | Tracy Trinita | Trimedya Panjaitan


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq