
Nama : Todung Mulya Lubis
Lahir : Muara Botung, Tapanuli Selatan, 4 Juli 1949
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Negeri XIV Jambi (1962)
- SMP Negeri IV Pekanbaru (1965)
- SMA Negeri VII Medan (1968)
- Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI, SI; 1974)
- Law School, University of California, Berkeley, USA (L.L.M.; 1978)
- Peserta Visiting Scholar pada Law School, Universitas California,
Berkeley, AS (1978-1979)
- Harvard Law School, Cambridge, Massachusetts, AS (L.L.M.; 1988)
- Law School, University of California, Berkeley, AS (Ph.D; 1990)
Karir : - Staf Divisi Hak Asasi Manusia (HAM) pada LBH Jakarta (1971-1976)
- Dosen FHUI (1976-1986)
- Wakil Direktur LBH Jakarta (1979-1980)
- Editor pada Majalah Hukum & Pembangunan, FHUI (1979-1983)
- Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1979-1984)
- Staf Pusat Studi Hukum dan Ekonomi, FHUI (1979-1986)
- Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta (1980-1983)
- Dosen Pascasarjana Universitas Padjadajaran, Bandung (1981-1985)
- Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI; 1983-1987)
- Senior Patner pada Law Office Lubis, Santosa & Maulana (1985-sekarang)
- Dosen Luar Biasa FHUI, Jakarta (1996-sekarang)
Keluarga : Istri : Damiyati Soendoro
Anak : 1. Tondi Nikita Lubis
2. Oriza Sativa Lubis
Alamat Rumah : Jl. Maribaya Blok G1 No. 3, Puri Cinere, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Lubis, Santosa & Maulana Law Offices, Gedung Wisma Bank Dharmala Lt. 5, Jl. Jenderal Sudirman Kavling 28, Jakarta 12920
Telepon (021) 5211931
Fax (021) 5211930
|
|
Todung Mulya Lubis
Bukan lantaran berdarah Batak, Todung Mulya Lubis kemudian memilih profesi pengacara €“ terkenal lagi. Sebagaimana stereotipe di negeri kita selama ini, mayoritas kaum pengacara -- secara kebetulan -- berasal dari suku Batak. Yang jelas, menurut Todung, pilihan profesinya itu tak ada sangkut pautnya dengan kesukuan.
Itu semua bermula dari dirinya yang masuk daftar cegah-tangkal (cekal) dan daftar hitam di era pemerintahan Soeharto, saat Todung bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Bahkan ia sempat dijadikan musuh publik nomor satu. Akibatnya, Todung dilarang tampil di berbagai forum. Entah diskusi, seminar, atau menulis di media massa. €œSelama sekitar dua tahun saya tidak menulis, tidak mengajar, dan tidak ceramah,€ ungkap lelaki kelahiran Muara Botung, Tapanuli Selatan, ini.
Walau begitu, tukasnya, €œSaya tidak dendam, karena saya tahu pemerintah waktu itu sangat otoriter. Saya akhirnya memilih menjadi advokat, konsultan, dan aktivis sosial. Dan saya selalu mengatakan, inilah tempat saya yang paling pas: berada di pinggir lapangan,€ tambah Todung, yang waktu remaja bercita-cita dan sangat terobsesi menjadi sastrawan.
Todung menghabiskan masa kecil dan remaja di pulau Sumatera. Selulus sekolah dasar di Jambi, ia melanjutkannya ke sekolah menengah pertama (SMP) di Pekanbaru, Riau, dan sekolah menengah atas (SMA) di Medan. Hijrah ke Jakarta, ia ingin masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Karena gagal, pria yang gemar traveling ini lalu mengambil studi hukum di universitas yang sama.
Selama menjadi mahasiswa, Todung aktif di sejumlah organisasi. Salah satunya adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Di lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini ia diajar mengasah kepekaan hati nurani. Kalau kemudian ia membuka kantor sendiri, itu karena ia melihat aktivitas LSM tidak bisa menghidupinya. €œSaya kira, selama saya mempunyai hati nurani dan komitmen, ya tak ada salahnya saya membuka kantor,€ kilahnya. €œMenjadi kaya juga tak haram selama tidak melawan hukum dan bukan hasil korupsi.€
Lebih jauh, tambah Todung, kantor pengacaranya berbeda dengan kantor tertentu yang lain. Di kantornya, ia mengharamkan praktik korupsi, seperti menerima sogokan dalam bentuk apa pun dan dari siapa pun. Memang harga yang harus dibayar lumayan mahal, karena banyak klien kelas kakap yang enggan berurusan dengan kantornya. €œMereka biasanya menghalalkan segala cara untuk memenangkan tender, misalnya. Itu saya sangat tidak mau,€ ujarnya.
Kini, setelah sekian lama berkecimpung di dunia kepengacaraan, mata dan hati Todung pun kian terbuka. €œSaya semakin tahu, ternyata terlalu banyak orang munafik. Terlalu banyak orang serakah yang diperbudak oleh keserakahannya sendiri,€ katanya. €œSaya selalu bilang kepada teman-teman, kita tak akan kelaparan sebagai pengacara. Tapi kita juga tak akan menjadi super kaya karenanya.€
Pengacara kondang ini tak menuntut dua anaknya mengikuti jejaknya sebagai pendekar hukum. Sedang bagi dirinya sendiri, Todung berencana mewujudkan keinginannya yang lama terpendam: menulis novel. €œSaya merasa banyak pengalaman saya bisa dijadikan bahan untuk menulis novel,€ tutur pengagum karya-karya John Grisham ini.
Kapan itu bisa terwujud, Bang Todung? €œSaya belum bisa bilang,€ tukasnya. €œSaya cuma berniat kalau menginjak usia 60 tahun, saya akan berhenti bekerja di kantor dan mulai menulis. Tapi itu kan baru rencana€€.
|