
Nama : TEGUH KARYA
Lahir : Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937
Agama : Protestan
Pendidikan : -Akademi Seni Drama & Film Yogyakarta (1954-1957)
-ATNI (1957-1961)
-Art Directing East West Centre Honolulu, Hawaii (1962)
Karir : -Pemain sandiwara (akhir 1955)
-Praktek di PFN dalam pembuatan fim cerita dan dokumenter skenario (1958)
-Pendiri Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (1962)
-Dosen ATNI (1964)
-State Manager Hotel Indonesia (1962-1972)
-Mendirikan Teater Populer (1968)
-Anggota DKJ (1968-1974)
-Pemain dan penata artistik Film Jendral Kancil (1958)
-Terjun pertama kali ke dalam film sebagai sutradara untuk film Wajah Seorang Laki-Laki (1971)
-Dalam kariernya sebagai sutradara, ia pernah meraih gelar sebagai -sutradara terbaik dalam FFI 1971 (Cinta Pertama)
-FFI 1974 (Ranjang Pengantin) FFI 1979 (November 1828) FFI 1983 (Di Balik Kelambu)
Alamat Rumah : Kebon Pala I/295, Tanah Abang, Jakarta Pusat Telp: 333041
|
|
TEGUH KARYA
Mengikutkan film Doea Tanda Mata dalam Festival Film (FFI) 1985 di Bandung, Teguh Karya memang gagal meraih gelar Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Tetapi, film yang sama melahirkan Piala Citra bagi Pemeran Utama Alex Komang, Penata Kamera George Kamarullah, Penata Artistik Satari S.K., dan Penata Musik Idris Sardi.
Ia memang "pencetak" Piala Citra. Mulai menyutradarai film lewat Wajah Seorang Laki-Laki, 1971, Piala Citra pertama diraihnya melalui film Cinta Pertama. Film ini bukan saja memberinya predikat Sutradara Terbaik, tetapi juga Piala Citra pertama untuk Christine Hakim yang meraih gelar Aktris Terbaik. Film Teguh berikutnya, Ranjang Pengantin, merebut Piala Citra sebagai Film Terbaik 1975. Lalu film Badai Pasti Berlalu yang melahirkan empat Piala Citra pada FFI 1978. Dua filmnya yang lain, November 1828 dan Di Balik Kelambu masing-masing mencetak enam Piala Citra di FFI 1979 dan FFI 1983.
Walaupun lahir dengan nama Liem Tjoan Hok, ia lebih merasa sebagai orang Banten. Di sana, ia bukan saja memiliki seorang nenek "pribumi" kelahiran Bekasi yang bernama Saodah, tetapi juga seorang sahabat, Mang Dulapa, sais delman yang membawanya pulang pergi ketika masih duduk di SD Pandeglang.
Pindah ke Jakarta ketika masuk SMP, Teguh menumpang di rumah Engku Dek, demikian ia memanggil pamannya. Dari sang pamanlah anak pertama dari lima bersaudara pedagang kelontong itu mewarisi kegemaran membaca. Walaupun ia mendapat nilai jelek untuk aljabar dan ilmu ukur, dalam pelajaran sejarah, menggambar, dan bahasa Teguh unggul.Teguh mengaku tidak pernah mendapat pendidikan sinematografi secara penuh dan utuh. Kecuali, tentunya, dari Akademi Seni Drama & Film (Asdrafi) Yogyakarta, 1954-1957, dan pada Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) selama empat tahun berikutnya. Pada 1962, ia pergi ke Honolulu, Hawaii, AS, untuk mendalami art directing pada East West Centre. Namun, yang diakuinya paling mempengaruhinya adalah para tokoh teater dan film: Usmar Ismail, Asrul Sani, dan D. Djajakusuma.
Pulang dari Hawaii, ia bekerja sebagai manajer panggung Hotel Indonesia. Saat itulah Teguh -- yang sejak pertengahan 1950-an kerap bermain sandiwara dan dikenal dengan nama Steve Liem -- mendirikan Teater Populer. Mendirikan sanggar di Kebon Kacang, Jakarta, pria yang tetap membujang itu mulanya memang dikenal sebagai orang teater. Di antara pementasannya yang mendapat sambutan adalah Pernikahan Darah, 1971, Kopral Woyzeck, 1973, dan Perempuan Pilihan Dewa, 1974.
Lewat Teater Populer juga, Teguh mencetak kader teater dan film. Dengan kesungguhan dan penerapan disiplin yang ketat, dari sanggar yang kini bermarkas di rumah tua di Kebon Pala, yang konon dibeli pada 1982 dengan harga ratusan juta rupiah, lahirlah sebarisan pekerja film yang berprestasi. Slamet Rahardjo, misalnya, yang pernah meraih Piala Citra sebagai Aktor Terbaik, pada FFI 1985 merebut gelar Sutradara Terbaik lewat film Kembang Kertas, Christine Hakim pada festival yang sama meraih Piala Citra kelima selaku pemeran utama film Kerikil-Kerikil Tajam. Terakhir, Alex Komang.
Anggota Dewan Film Nasional, yang pada 1969 menerima Anugerah Seni dari Departemen P & K, ini juga suka menulis di media massa. Teguh memilih belum menikah, konon, karena di dalam dirinya ada "kamar-kamar" untuk kreativitas, sahabat, negeri, dan kamar untuk lain-lain. "Bicara soal perkawinan, urutan kamarnya belum tentu sama untuk setiap orang," katanya. Sewaktu di SMA, ia mengaku pernah beberapa kali berpacaran, tetapi sang pacar selalu tidak tahan karena acap ditinggal menghadiri ceramah dan kegiatan kesenian lainnya.
|