A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Trimedya Panjaitan




Nama :
Trimedya Panjaitan

Lahir :
Medan, Sumatera Utara, 6 Juni 1966

Pendidikan :
Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Pancasila

Karir :
- Asisten Pembela Umum Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (1992€“1993)
- Aktif menulis artikel hukum pada harian Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia (1993-sekarang)
- Staf Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), (1993-1995)
- Pimpinan pada lembaga bantuan hukum Trimediya Panjaitan & Associates (1996-sekarang)
- Anggota Badan Pendiri Perhimpuanan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), (1996)
- Kepala Divisi Pelayanan Hukum PBHI (1996-1998)
- Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), (1996-sekarang)
- Ketua III Gabungan Artis Seni Aksi Indonesia (GASA), (1998-sekarang)
- Pengasuh Acara Klinik Hukum SCTV (1998)
- Menulis catatan hukum di harian Berita Buana setiap hari Senin (1998)
- Ketua Seksi Hukum dan Advokat PAPPU Pusat PDI Perjuangan (1998-sekarang)


Keluarga :
Ayah: GW Panjaitan Ibu: PO Marpaung Isteri: Jovita Eva Sasanti Siswi Anak : 1. Dang Perkasa Panjaitan 2. Paulinan Adis Devitri Panjaitan

Alamat Kantor :
Jalan Hayam Wuruk No. 1 RU, Jakarta Pusat Telepon 3511501

 

Trimedya Panjaitan


Berwajah mirip orang India membuat Trimedya Panjaitan dipanggil €œBombay€. Dia adalah salah satu satu penggagas lahirnya Pijar, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang mengurusi pelanggaran hak asasi manusia.

Ketertarikannya menjadi pengacara dimulai sejak duduk di kelas dua SMP di Medan, karena seringnya ia membaca berita mengenai hukum kemasyarakatan. Tapi saat duduk di bangku SMA ia mulai memikirkan pilihan karir masa depannya: pengacara atau dokter.

Masa kecilnya penuh dengan kerja keras. Maklum ayahnya meninggal sejak ia berusia lima tahun, dan meninggalkan sembilan orang anak. €œSejak saat itu hidup kami pas-pasan,€ tutur anak kedelapan dari sembilan bersaudara pasangan GW Panjaitan dan PO Marpaung ini. Jadilah ia €œanak terminal bus€ yang kerjanya menunggu bemo yang membutuhkan jasa pencucian.

Sejak SMP, Tri memiliki hobi membaca, tapi nyaris tak tersalurkan karena tak memiliki duit untuk membeli koran atau buku. Untunglah tetangganya, seorang Aceh pemilik warung kopi, bermurah hati meminjamkan koran. Sepulang sekolah ia membantu tetangganya itu. €œSetelah baca koran, saya bantuin mencuci gelas kotor di warung kopi itu. Saya malahan dapat makan siang dan kadang-kadang menerima uang seratus atau dua ratus rupiah,€ kenangnya.

Pada 1980-an, setiap ada kompetisi sepak bola Piala Marah Halim, keisengan mencari uang jajan itu ia alihkan ke tempat parkir Stadion Teladan, Medan. Pekerjaan itu tak selalu mulus, sebab ia harus berebut lahan parkir dengan geng yang tinggal di belakang stadion. €œMelihat pergaulan saya, keluarga akhirnya berembuk memindahkan saya ke Jakarta bila lulus SMA nantinya,€ papar Trimedya. Ada rasa waswas memang dalam keluarga melihat masa depannya. Maklum daerah dekat stadion itu, kata orang Medan, dikenal sebagai €œKawasan Bronx€ (preman).

Melanjutkan SMA di Jakarta, saat kelas dua ia mulai menyimpulkan mustahil baginya kuliah di fakultas kedokteran bila bukan di universitas negeri. Untuk kantongnya yang pas-pasan, hanya fakultas hukum swasta yang sanggup ia jangkau. Nah, sebelum mengikuti ujian Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa baru) untuk universitas negeri, Tri mendaftar di fakultas hukum Universitas Krisnadwipayana dan Universitas Pancasila. €œUntuk Sipenmaru saya memilih kedokteran dan hukum di UI (Universitas Indonesia) dan Unpad (Universitas Padjadjaran), tetapi semuanya tidak lulus,€ kenangnya. Akhirnya sejak 1985 ia resmi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

Tapi Trimedia tak ingin terpaku di bangku kuliah saja. Ia menyelinginya dengan berbagai kegiatan organisasi. Di awal semester, ia bergabung dengan Forum Diskusi Ilmiah (Fodim). Melalui kelompok diskusi ini, ia meraih popularitas di kalangan Senat, lantaran anggotanya sedikit. Ia juga sempat membentuk Teater Neraca, yang kerap mentas di acara kampus. Keberadaan kampusnya yang di Jalan Borobudur itu memungkinkannya sering main ke Lembaga Bantuan Hukum, dan mengenal akrab para anggotanya. Tapi, katanya, €œKarena merasa akrab, tawaran untuk magang di LBH saya tolak.€

Tahun ketiga kuliahnya menjadi momentum persentuhannya dengan dunia luar €“ terutama saat mengikuti diklat jurnalistik di Universitas Nasional, Jakarta. Perkenalan dengan para aktivis kampus dalam kesempatan itu membuahkan Yayasan Pijar pada 1988 €“ 1989. Yayasan yang didirikannya bersama Nuku Sulaiman, Yeni Rosa Damayanti, dan Amir itu sering berurusan dengan aparat. Kasusnya lumayan berat, dari penghinaan presiden hingga tuduhan subversif. €œNuku terkenal dengan (pemelesetan kepanjangan) SDSB menjadi Suharto Dalang Segala Bencana. Sedangkan Yeni terkenal dengan KMPTP atau Komite Mahasiswa Penurunan Tarif Listrik,€ tutur ayah dua anak itu.

Masalah kemungkinan ditangkap atau digebuki aparat, baginya itu urusan belakang. Toh ada kawan-kawannya di LBH yang selalu siap mendampingi. Ketika ia aktif di LBH, beberapa aparat keamanan yang berkantor di Kramat V, Jakarta Pusat, yang sering menangkapnya hanya bisa bilang, €œElu ganti baju doang nih Tri!€

Setamat kuliah pada 1996, ia melamar menjadi hakim. Sayang ia harus menelan ludah lantaran kecewa dan membuang ludah karena jijik. €œSaya tak sanggup membayar sogokan Rp 10 juta sampai 15 juta,€ tuturnya. Itulah yang mendorongnya membuka kantor pengacara Trimediya Panjaitan & Associates di bilangan Klender, Jakarta Timur, yang menurutnya masih ecek-ecek alias kecil-kecilan. Pada tahun itu pula ia membentuk Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI).

Pengalamannya €œduel€ di pengadilan dengan pengacara senior Adnan Buyung Nasutian menjadi kenangan yang tak terlupakan baginya. Ceritanya, ia harus menangani kasus Tri Agus Sutanto, Ketua Pijar sekaligus pemimpin redaksi Kabar Dari Pijar €“ sebuah koran sore yang terbit setelah Tempo dibredel. Soalnya, pernyataan Buyung yang menyebut negara ini rusak karena Soeharto dikutip Tri Agus bulat-bulat. Itulah yang membuatnya berhadapan dengan seniornya itu, karena Buyung menampik bahwa ia pernah mengatakan demikian. €œDi ruang sidang, Bang Buyung yang biasanya menggocek-gocek gantian kita gocek walau kita yuniornya,€ kenang lelaki yang punya €œhobi€ mengikuti ceramah dan seminar di dalam dan luar negeri ini.

Tri menyadari stempel buruk kerap melekat di jidat para pengacara. Untuk menyiasatinya, ia pun memilih kasus-kasus yang hukumnya jelas. Ia sering mengatakan kepada sesama pengacara, tak mungkin menjadi malaikat tetapi jangan menjadi iblis. Sebab, iblis sudah terlalu banyak, sedangkan pendeta atau kiai belum tentu malaikat.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


TRY SUTRISNO | TINO SIDIN | TADJUL ARIFIN | TAHI BONAR SIMATUPANG | TAHIR DJIDE | TANRI ABENG | TAPI OMAS IHROMI | TAUFIK ABDULLAH | TAUFIQ ISMAIL | TAUFIQ RUSJDI TJOKROAMINOTO | TEGUH | TEGUH KARYA | TEUKU JACOB | TEUKU MOHAMMAD RADHIE | THE NING KING | THEE KIAN WIE | Tamrin Amal Tomagola | Tantowi Yahya | Taufiq Ismail | Teten Masduki | Teuku Jacob | Theo F. Toemion | Todung Mulya Lubis | Toeti Heraty Noerhadi Roosseno | Tomy Winata | Tracy Trinita | Trimedya Panjaitan


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq