
Nama : Tamrin Amal Tomagola
Lahir : Galela, Halmahera Utara, 17 April 1947
Agama : Islam
Pendidikan : 1. SD Galela (1959)
2. SMP Ternate (1962)
3. SMA Ternate (1965)
4. Jurusan Sosiologi FISIP UI (1974)
5. Canbera, Australia (M.A. bidang demografi sosial, 1982)
6. University of Esex UK (Ph.D. bidang sosiologi media, 1990)
7. Kursus metodologi penelitian sosial dan statistik sosial Universitas Leiden, Belanda (1977-1978)
Karir : 1. Dosen FISIP UI; Asisten Menteri Kependudukan Urusan Pengembangan (1993-1998)
2. Deputi Menegristek Bidang Dinamika Masyarakat (2000)
Kegiatan Lain : 1. Koordinator Lerai (sejak 1999 €“ sekarang)
2. Sekretaris Umum Ikatan Sosiolog Indonesia (1993-1998)
Penghargaan : Dosen Teladan Fisip UI 1982
Keluarga : Ayah : Ali Amal
Ibu : Afiah Amal
Istri : Siti Hidayati, M.A.
Anak : Fathia Aigate, S.H.
Alamat Rumah : Perumahan Permata Arcadia Blok L1/2 Sukatani, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
Alamat Kantor : Gedung II BPPT Lantai 5, Jl. M.H. Thamrin 8, Jakarta 10340. Tel. (021) 316 9218
|
|
Tamrin Amal Tomagola
Senang pada pelajaran sejarah sejak sekolah dasar, setelah tamat SMA Tamrin Amal Tomagola memilih jurusan sosial. Padahal Ali Amal, ayahnya yang guru dan aktivis Muhammadiyah, menginginkan anak sulung dari sepuluh bersaudara ini mengambil jurusan ilmu pasti dan menjadi dokter. Tamrin sendiri ingin jadi guru. €œSaya menentang anjuran ayah, karena saya senang ilmu sosial,€ tutur Tamrin.
Lulus SMA, ia nyaris gagal melanjutkan ke universitas karena tak ada biaya. €œAkhirnya, saya pulang ke Galela untuk cari uang dengan mengajar di SMP Galela,€ ujarnya. Gajinya mengajar Rp 29 ribu, satu karung penuh. Tapi, karena ada pemotongan uang, paparnya, €œUang sebanyak itu tidak ada nilainya.€
Dengan tabungan uang selama mengajar, Tamrin pergi ke Jakarta, untuk melanjutkan sekolah. Tapi malang, uang habis di perjalanan. Untunglah ia ditolong oleh seorang keturunan Arab, Al Habsy. Ia menumpang kapal carteran pedagang Arab yang penuh kopra untuk sampai ke Jawa.
Mendarat di Jakarta, kantongnya kemps. €œSaya mau tes UI, tapi tidak punya uang,€ kenangnya. Beruntung ia dipinjamkan uang oleh seorang familinya, sehingga Tamrin dapat mengikuti tes di jurusan sosiologi FISIP UI dan diterima. €œSebenarnya, saya memilih sosiologi karena banyak biaya survei, walau sosiologi dianggap jurusan kering,€ ujarnya. Tapi, pilihannya ini masih ditentang oleh keluarga di kampungnya. Bahkan, seorang pamannya yang jaksa, menyuruhnya pulang untuk mengurus kebun kelapa.
Selama di Jakarta, ia tinggal dalam satu keluarga dengan Ahmad Sulaeman, anggota DPR dari Masyumi, di daerah Kramatjati, Jakarta Timur. Untuk sampai kampus Salemba, Tamrin pernah jalan kaki. Jadi, modal dengkul waktu tingkat satu, tuturnya. Di tingkat dua, ia punya uang saku dengan cara mencetak diktat kuliah pembangunan sosial dan menjualnya ke teman-temannya. €œDari situ setiap minggu saya punya uang saku. Cukuplah untuk naik angkot dari Kramatjati sampai Salemba dan makan siang,€ kenangnya.
Suatu ketika, jualan diktat itu dilaporkan kepada dosennya, Soerjono Wirjodiatmodjo. Bukannya marah, sang dosen malah mengangkat Tamrin menjadi asistennya. Dengan begitu, ia mendapat honor Rp 25 per bulan. Selain itu, Tamrin juga bekerja sambilan di perpustakaan. Keuangan semakin membaik, ketika pembantu dekan II turut menguruskannya menjadi pegawai negeri golongan 2B (1970). Saat itu Tamrin baru sarjana muda. Lulus S1 dengan spesialisasi sosiologi umum pada 1974, lalu ia menjadi pengajar di almamaternya.
Dengan beasiswa, Tamrin ke Australia untuk menempuh pendidikan S2 dengan spesialisasi sosial demografi, selesai 1982. Tesisnya berjudul: Educational Defferences in West Java and West Sumatera: Sosio-historical Perspektives. Saat sudah terikat kontrak dengan LP3ES untuk sebuah penelitian di Semarang, saat itu pula ia memperoleh kabar bahwa ia mendapat beasiswa untuk studi S3 di Inggris. €œAnak saya langsung bilang ke Inggris,€ tuturnya. Akhirnya, Tamrin memilih ke Inggris dan melepaskan tugas penelitian setelah ada yang menggantikannya. Meraih gelar Ph.D. pada 1990 dengan disertasinya berjudul Indonesian Woman Magazines as an Ideological Medium. Sebelum itu, Tamrin sempat mengikuti kursus ilmu statistik di Belanda.
Ia mencoba membandingkan pengalamannya belajar di tiga negara. €œYang paling enak itu di Belanda,€ katanya. €œOrang Inggris dingin, tidak sehangat orang Belanda. Kalau di Belanda, teman-teman berebut weekend dengan saya,€ tuturnya. Di Belanda, setiap akhir minggu ia berlibur dengan nenek-nenek. Soalnya, mereka masih punya kenangan tentang Indonesia, dan Tamrin pun sering ditraktir makan.
Walau sudah menjadi akademisi, Tamrin turut dalam gerakan penurunan Presiden Soeharto. Waktu Soeharto pulang dari Mesir, ia ikut demo di UI. Ia membuat pengumuman mogok kuliah sampai Soeharto berhenti jadi presiden. €œItu tindakan pertama saya yang paling nekat,€ ujarnya. €œSejak itu saya makin mantap; tidak hanya mengajar tapi juga diimbangi dengan kegiatan praksis.€
Sebagai orang Maluku, Tamrin tak melupakan asal-usulnya yang sampai sekarang dilanda konflik. Ia aktif di LSM Lerai, yang punya misi memperjuangkan perdamaian di Maluku. €œSaya (aman) di sini, tetapi saudara saya mati di sana,€ tuturnya. €œTeman-teman saya Kristen dan Islam, yang sangat akrab ketika kecil, sekarang bunuh-bunuhan,€ tambahnya. Teman-temannya waktu kanak-kanak banyak yang mati dan bayangan itu terus menghantui dan membuatnya sering menangis. Karena aktivitas LSM-nya, Tamrin sering diancam lewat telepon. Bahkan, pernah diintimidasi oleh suruhan elite lokal di Ternate.
Saat ini, selain mengajar di UI, Tamrin adalah Deputi Menristek untuk Didang Dinamika Masyarakat. Ia menyandangnya sejak 2000.
Menikah dengan Siti Hidayati, seorang dosen (1972), Tamrin ayah satu anak. Kisah perkenalannya dengan Siti ketika ikut survei untuk mendapat biaya kuliah. €œDapat biaya kuliah, juga dapat istri,€ katanya, yang menyenangi sifat Siti yang lugu dan sederhana. Dalam mendidik, ia lebih memberi alternatif. Ia selalu mengajak omong anak tunggalnya tentang apa pun, termasuk pendidikan seks. Pengagum Hamka ini suka membaca karya sastra.
|