A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Benjamin Mangkoedilaga




Nama :
Benjamin Mangkoedilaga

Lahir :
Garut, Jawa Barat, 30 September 1937

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD Kanisius
- SMP
- SMA
- Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1966)


Karir :
- Hakim Agung (2001‚€“sekarang)
- Anggota Komnas HAM (1998‚€“sekarang)
- Hakim Tinggi PTTUN Jakarta (1998)
- Hakim pada PTTUN Medan (1995)
- Ketua PTUN Jakarta (1994)
- Ketua PTUN Surabaya
- Hakim PN Cianjur, Jawa Barat
- Hakim PN Lebak, Banten


Karya :
Buku :
- Lembaga PTUN: Suatu Orientasi Pengenalan
- Kompetensi Relatif dan Absolut dalam Lembaga PTUN


Keluarga :
Istri: Roosliana Anak: 1. Mada Dewi Yustika 2. Mada Dies Natalia

Alamat Rumah :
Jalan Kavling POLRI F/36 H, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Alamat Kantor :
Kantor Komnas HAM, Jalan Latuharrary No. 4, Menteng, Jakarta Pusat

 

Benjamin Mangkoedilaga
-

‚€œSAYA pernah dikasih kangkung satu becak,‚€Ě kenang sang hakim agung Benjamin Mangkoedilaga. Sayur yang bisa bikin kantuk itu bukan hadiah ulang tahun -- tapi tak jelas untuk apa. Kalau dimaksudkan sebagai 'sogokan' agar ia memenangkan pihak tertentu dalam perkara yang sedang ia tangani, pemberian kangkung satu truk pun tak akan mempengaruhi keputusan akhirnya. Soalnya, ia menerimanya setelah vonis ia jatuhkan.

Apa pun, bagi Benjamin, profesi hakim sangat mulia. Tidak boleh dinodai dengan tindakan penyuapan, katanya.

Namanya mendadak sangat terkenal seantero negeri, bahkan di seluruh dunia, setelah kasus pembredelan Majalah Berita Mingguan Tempo yang ditanganinya diliput pers dalam dan luar negeri. Tatkala itu, Ben‚€”panggilan akrab Benjamin‚€”memenangkan gugatan Tempo terhadap pembredelan yang dilakukan Departemen Penerangan RI, setelah melewati 19 kali sidang.

Peristiwa pada Mei 1995 itu sangat monumental. Hampir semua perguruan tinggi hukum menjadikannya referensi. Betapa tidak. Di kala penguasa Orde Baru demikian represif terhadap pers nasional, Benjamin sebagai Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara berhasil menancapkan sebuah tonggak yang cukup menentukan bagi kebebasan pers dan penegakan hukum.

‚€œSaya hanya berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya,‚€Ě kata Ben merendah. ‚€œMengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah.‚€Ě Untuk bersikap ‚€œbenar‚€Ě itu, ia harus salat tahajud berkali-kali.

Prinsip itu pula yang dia pegang tatkala menjatuhkan vonis mati kepada Lince, yang berselingkuh, lalu membunuh suami dan anaknya pada 1986. Di mata warga Cimacan, Jawa Barat, yang tanahnya terkena penggusuran, Ben mungkin dianggap ‚€œhakim jahat‚€Ě -- lantaran mengalahkan mereka. Tapi, itulah risiko bagi penegak hukum yang mencoba berpihak pada kebenaran hukum.

Di luar dunia peradilan, pengalamannya cukup berwarna. Selepas SMA, anak ketujuh dari 13 bersaudara ini gagal masuk Akademi Militer Nasional gara-gara matanya tidak bisa melihat jauh. Padahal ketika mahasiswa, Ben sempat jadi Danyon Menwa FH-UI dan atlet lari yang pernah memperkuat kontingen PON Jakarta. Salah satu pendiri kelompok marching band Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi agen majalah waktu bertugas di PN Lebak, Jawa Barat.

Anggota Komnas HAM ini tetap berpenampilan sederhana -- walau menjadi pejabat tinggi negara. Ketika mengurus paspor, misalnya, Ben tetap memilih prosedur yang lazim, dan ikut antre seperti yang lain. ‚€œAh, biar saja. Saya kan juga rakyat,‚€Ě ucapnya.

Benjamin sangat prihatin dengan proses rekrutmen penegak hukum yang berjalan sekarang. Banyak mahasiswa hukum yang tak memenuhi persyaratan dan banyak pula pengajar hukum yang tidak layak memberi kuliah hukum. Akibatnya, ‚€œAda hakim yang tidak tahu arti kata adagium.‚€Ě

Tapi, sebagai manusia, dalam kehidupan pribadinya Ben juga bisa mengalami kegamangan. Sejak 1965 ia menjadi tidak tega merayakan ulang tahun kelahirannya, yang jatuh 30 September -- tanggal pecahnya peristiwa Gerakan 30 September/PKI pada 1965.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


BINTORO TJOKROAMIDJOJO | BINTARI RUKMONO | BENYAMIN SUEB | BENNY MOELJONO | BENJAMIN SOENARKO | BENJAMIN ARMAN SURIADJAYA | BASUKI ABDULLAH (RADEN BASOEKI ABDULLAH) | BANA GOERBANA KARTASASMITA | BAMBANG ISMAWAN | BAMBANG HIDAYAT | BAMBANG HERMANTO ALIAS HERMAN CITROKUSUMO | BAKIR HASAN | BAHARUDDIN LOPA | BAGONG KUSSUDIARDJO | BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE | BUSTANIL ARIFIN | BUDI SANTOSO | BUDI DARMA | BUDI BRASALI (LIE TOAN HONG) | BUBY CHEN | B.R.A. MOORYATI SOEDIBYO HADININGRAT | BOY MARDJONO REKSODIPUTRO | BONDAN WINARNO | BOEDIHARDJO Sastrohadiwirjo | BOEDI SIDI DARMA | BOB SADINO | BOB RUSLI EFENDI NASUTION | BOB HASAN | BISUK SIAHAAN | BISMAR SIREGAR | Bakdi Soemanto | Bambang Kesowo | Bambang W. Soeharto | Bambang Widjojanto | Benjamin Mangkoedilaga | Bernard Kent Sondakh | Bima Sakti | Bimantoro | Bing Rahardja | Biyan Wanaatmadja | Blasius Sudarsono | Bob Tutupoly | Boyke Dian Nugraha | Bre Redana | Budi P. Ramli | Budiman Sudjatmiko | Butet Kartaredjasa | Bambang Harymurti | Boediono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq