A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Bre Redana




Nama :
Bre Redana

Lahir :
Salatiga, Jawa Tengah

Pendidikan :
- SD Kanisius Salatiga (1970)
- SMP Negeri II Salatiga (1973)
- STM Kristen Klaten (1976)
- Sastra Inggris Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (1981)
- Program Diploma di Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Syah Kuala Banda Aceh (1985-1986)
- Media Studies di Darlington College of Tehnology di Inggris (1990-1991)


Karir :
Kolumnis Kompas Nonberita Minggu, Cerpenis

Karya :
Buku :
- Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002)


Alamat Rumah :
Jalan Pisok V/27, Bintaro Jaya 5, Tangerang, Banten

Alamat Kantor :
Jalan Palmerah Selatan No. 26, Slipi, Jakarta Barat Telepon (021) 53477710 ext. 5608

 

Bre Redana


€œAyah saya kader PKI di Salatiga,€ ungkap kolomnis dan cerpenis Bre Redana, dengan mata berkaca-kaca. Saat masih kelas satu SD di usia delapan tahun, akibat Peristiwa G30S, sang ayah diambil dan sejak saat itu ia tidak pernah bertemu dengan ayahnya yang bernama Gondo Waluyo. €œAyah saya seorang yang terpelajar dan intelektual,€ ujarnya lagi. Adapun ibunya, Yutinem, walau hanya lulusan SD zaman Belanda, gemar membaca, antara lain Prisma, Horison, dan lain-lain. Sang ibu juga berlangganan majalah pendidikan MIDI, yang diterbitkan oleh kelompok Kompas. Anak ketiga dari empat bersaudara ini pun akhirnya turut menggemari majalah yang redakturnya J.B. Kristanto tersebut€”yang kini jadi seniornya.

Walau ayahnya tiada, dan ibunya terpaksa harus kerja keras untuk menghidupi keluarga, sekolah Bre tetap lancar. Sekolah dasar dan SMP ia tempuh di kota kelahirannya, Salatiga. Kemudian, ia melanjutkan ke STM Kristen Klaten. Tamat STM, Bre kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Waktu kuliah itulah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dengan aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. Terakhir ia menjadi pemimpin redaksinya.

Tulisan pertamanya dimuat majalah Detektif & Romantika, pada rubrik cinta pertama, saat masih kelas dua SMA. Tapi, yang dia tulis bukan cerita sungguhan, padahal di rubrik itu biasanya ditampilkan kisah sejati tentang cinta pertama. Saat mahasiswa, ia pun sudah sering mengirimkan tulisan ke Kompas, tapi tidak pernah dimuat. Sementara itu, tulisan-tulisannya banyak dimuat di Sinar Harapan dan Suara Merdeka. €œSaya memang senang menulis dan bisa menikmati honornya saat itu,€ tuturnya. Tentu saja, ia juga menulis untuk pers mahasiswa yang ia kelola.

Mengawali karir sebagai wartawan betulan setelah lulus dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dengan masuk Kompas, 1982. Pertama kali ia bekerja di desk Iptek. Setelah itu, ia merasakan bertugas di desk kota, olahraga, dan luar negeri, €œKemudian saya merasa sreg di desk budaya,€ ujarnya. Karena sejak kecil ia sudah akrab dengan kesenian tradisional di kotanya, Bre kemudian tertarik pada kesenian rakyat seperti ketoprak, tarling, tayub, dan sebagainya. €œIbaratnya, kalau saya menonton atau menulis hal itu lagi, saya seperti merasa kembali ke mata air saya lagi,€ tuturnya. Untuk itu, Bre pernah ikut dengan suatu rombongan kesenian rakyat dan keliling Jawa Timur. Ia tidak hanya meliput apa yang ada di panggung, tapi juga di balik panggung. €œDi balik tayub itu ada sebuah struktur sosial yang menarik untuk diamati, dinamika sosialnya,€ katanya.

Tapi, sepulang dari Inggris dalam rangka kuliah kajian media di Darlington College of Tehnology, 1990-1991, €œAgak tidak mungkin untuk mengulangi apa-apa yang sudah saya lakukan ketika saya belum berangkat ke Inggris. Tidak bakal bisa menulis lagi tentang ketoprak, ludruk atau apa lagi, karena saat itu benar-benar sudah tumpas,€ tuturnya. Lalu, ia mencoba menulis praktik kehidupan masyarakat Jakarta, dan membuat laporan kerja jurnalistik yang bisa dibaca masyarakat dengan nyaman. Soal Mark & Spencer, body shop, dansa jadi bahan tulisan, sampai tentang gosip seputar artis yang dikomersialkan.

Baginya, pekerjaan jurnalistik bukan sekadar sumber pendapatan, tapi juga merupakan vocatio, panggilan. Karena itulah, katanya, €œSaya menghayati pekerjaan jurnalistik. Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.€ Ketika pada 1980-an ia dianggap 'tidak bersih lingkungan', ia merasa terpukul. Tapi tidak terus menjadi putus asa. Ia mencari strategi lain untuk tetap menulis.

Sebagai orang yang menghayati profesi kewartawanan, di mana pun ia berada, ia bisa masuk sedalam-dalamnya, tapi tetap bisa mengambil jarak. €œKarena dengan berjarak, kita bisa tetap kritis,€ ujarnya. Ia mencontohkan, pernah selama tiga hari ke Yogyakarta, ia naik becak ke mana-mana. €œMeskipun masalah tukang becak sudah ditulis dalam bentuk ribuan tulisan, kita akan bisa membuat suatu tulisan yang unik bila kita bisa meresapi dunia kewartawanan kita,€ katanya. Selain itu, yang juga penting, adalah menjaga empati terhadap masyarakat. Membiasakan diri menerima segala hal berdasarkan apa adanya: €œMisalnya, kita berhadapan pelaku kriminal atau pelacur, kita menerima mereka sebagaimana adanya, tidak perlu kita tempatkan dalam sebuah tataran moral menurut tataran kita.€

Selama jadi wartawan, anekdot pun pernah ia alami. Kalau pertama kali bertugas di pengadilan, ia termasuk yang paling rajin: mencatat semua percakapan dari awal persidangan sampai akhir. Akhirnya ia baru tahu bahwa wartawan yang meliput di pengadilan itu datang belakangan setelah keputusan diputus dan mereka tanya langsung ke panitera atau ke sesama wartawan yang meliput di sana. Suatu saat setelah Lebaran, ia datang ke pengadilan, yang saat itu tidak ada sidang. Seorang wartawan lain datang dan langsung bertanya kepada Bre tentang kasus, pelaku, dan sebagainya. €œKemudian saya diktekan wartawan itu, padahal saya mengarang saja dan membuat cerpen untuk dia, he.€he€,€ tuturnya.

Bre hobi olahraga silat, yang sudah ia lakukan selama lebih dari lima belas tahun. €œSampai sekarang masih saya lakukan,€ tuturnya. Adapun membaca sudah menjadi kebiasaan, termasuk membaca novel. Setiap pagi, ketika pikiran sedang segar, ia biasa membaca buku yang agak serius, bukan membaca koran. Tokoh yang dia kagumi: Umber Echo. €œDia sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan,€ ujarnya.

Soal penampilan, misalnya berpakaian, baginya itu tidak penting. €œYang penting adalah bagaimana tidak membuat orang risih,€ katanya.

€œSaya ingin menulis novel,€ katanya tentang keinginan yang hendak ia capai. Karena itulah, ia merindukan punya waktu khusus. Kerja jurnalistik yang sangat sibuk, menurut dia, membuat wilayah-wilayah kreatif menjadi mandek.

Di usia yang hampir 45, Bre masih melajang.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


BINTORO TJOKROAMIDJOJO | BINTARI RUKMONO | BENYAMIN SUEB | BENNY MOELJONO | BENJAMIN SOENARKO | BENJAMIN ARMAN SURIADJAYA | BASUKI ABDULLAH (RADEN BASOEKI ABDULLAH) | BANA GOERBANA KARTASASMITA | BAMBANG ISMAWAN | BAMBANG HIDAYAT | BAMBANG HERMANTO ALIAS HERMAN CITROKUSUMO | BAKIR HASAN | BAHARUDDIN LOPA | BAGONG KUSSUDIARDJO | BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE | BUSTANIL ARIFIN | BUDI SANTOSO | BUDI DARMA | BUDI BRASALI (LIE TOAN HONG) | BUBY CHEN | B.R.A. MOORYATI SOEDIBYO HADININGRAT | BOY MARDJONO REKSODIPUTRO | BONDAN WINARNO | BOEDIHARDJO Sastrohadiwirjo | BOEDI SIDI DARMA | BOB SADINO | BOB RUSLI EFENDI NASUTION | BOB HASAN | BISUK SIAHAAN | BISMAR SIREGAR | Bakdi Soemanto | Bambang Kesowo | Bambang W. Soeharto | Bambang Widjojanto | Benjamin Mangkoedilaga | Bernard Kent Sondakh | Bima Sakti | Bimantoro | Bing Rahardja | Biyan Wanaatmadja | Blasius Sudarsono | Bob Tutupoly | Boyke Dian Nugraha | Bre Redana | Budi P. Ramli | Budiman Sudjatmiko | Butet Kartaredjasa | Bambang Harymurti | Boediono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq