A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Bambang Harymurti




Nama :
Bambang Harymurti

Lahir :
Jakarta, 10 Desember 1956

Agama :
Islam

Pendidikan :
- S1 Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, 1983
- MPA JF Kennedy School of Government, Universitas Harvard, 1991


Karir :
- Reporter Majalah Berita MingguanTempo (1982-1986)
- Alfred Friendly Free Press Fellow, Majalah TIME, Biro Washington (1986)
- Kepala Biro Bandung, Majalah Berita Mingguan Tempo (1987)
- Kepala Proyek Komputerisasi Redaksi Tempo (1989-1990)
- Desk Sains dan Teknologi Majalah Berita Mingguan Tempo (1987-1989)
- Kepala Biro Jakarta, Majalah Tempo (1987-1989)
- Desk Nasional Majalah Tempo (1991-1994)
- Kepala Biro Amerika Serikat Majalah Tempo (1991-1994)
- Redaktur Media Indonesia Minggu(1994-1995)
- Redaktur Eksekutif Harian Media Indonesia (September 1995-September 1998)
- Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo (September 1998-Juni 1999)
- Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo (Juli 1999-sekarang)
- Pemimpin Redaksi Koran Tempo (April 2001 - April 2005)
- Corporate Editor PT Tempo Inti Media (2005 - sekarang)


Penghargaan :
-Finalist, Indonesian National Astronaut Program (1985) -Vernon Award, Edward S. Masson Fellow, Harvard University (1990) -Excellence in Journalism, Indonesia Observer Daily (1997) -Knight International Press award 2005 dari The International Center for Journalist.

Alamat Kantor :
Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72 Jakarta Pusat

 

Bambang Harymurti


Mengaku menjadi wartawan secara tidak sengaja. Di masa kecilnya, Bambang Harymurti malah lebih dulu bersentuhan dengan kesenian, yang diperkenalkan sejak dini oleh ibunya, Karlina Koesoemadinata. Perawakan Bambang semasa kecil yang tergolong gembul, ia kerap didaulat berperan sebagai semar dalam latihan wayang anak-anak yang diselenggarakan Perkumpulan Seni Sunda di rumah orangtuanya, di Menteng Dalam, Jakarta. Tapi, tampaknya Bambang lebih terpikat pada angan-angan untuk bisa terbang mengangkasa. Mungkin minat ini tertular dari ayahnya, Ahmad Sudarsono, seorang penerbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Sering dengan sengaja sang ayah membiarkan Bambang memegang kendali pesawat latih saat sedang mengangkasa. Bambang pun bercita-cita jadi astronot.

Perjalanan hidup kemudian memang membawanya jadi pilot. Bukan pesawat terbang ataupun pesawat luar angkasa, melainkan ‚€œpilot‚€Ě atau pemimpin redaksi bagi majalah Tempo dan Koran Tempo, serta Tempo Interaktif, dan Tempo edisi bahasa Inggris. Di dunia jurnalistik, ia memulai karirnya sebagai reporter magang di majalah Tempo pada 14 Maret 1982. Karir itu pun makin ditekuninya setelah ia lulus dari Institut Teknologi Bandung, 1983. Dan, akhirnya profesi wartawan dijalankannya secara total.

Pernah demi kepentingan menulis berita, pria kelahiran Jakarta 10 Desember 1956 ini sungguh-sungguh menjalani tes menjadi calon astronot yang terdiri atas beberapa tahapan. Hebatnya, BHM‚€”demikian panggilan akrabnya‚€”bahkan masuk dalam jajaran empat finalis yang dikirim untuk menjalani seleksi akhir di Boston, Amerika Serikat. Tanpa disengaja, BHM hampir meraih impian masa kecilnya justru di kala ia sudah melepaskannya. Hampir? Ya, karena ada semacam affirmative action bagi Pratiwi Sudharmono, finalis lain yang kebetulan perempuan. Pratiwi terpilih, namun akhirnya tak jadi berangkat akibat pesawat ulang alik Challenger yang diniatkan akan memberangkatkannya meledak dan hancur. BHM pulang ke Indonesia membawa laporan komplet untuk ditulis di majalah Tempo.

Pada 1990, mendapat beasiswa Fulbright, saat masih bekerja di Tempo, BHM studi ke Universitas Harvard, lulus pada 1991. ‚€œSetelah lulus saya menjadi Kepala Biro Tempo di Washington DC dam membuka kantor Tempo di National Press Building,‚€Ě ujar Bambang.

Ketika majalah Tempo dibredel pada Juni 1994, BHM sempat masuk ke tim Media Indonesia Minggu untuk kemudian ditarik menjadi Redaktur Eksekutif Media Indonesia.

Pada 1999, BHM sempat menjadi Foreign Affairs Fellow di School for Advanced International Studies (SAIS) di John Hopkins University. ‚€œSebagai fellow saya melakukan riset tentang kemungkinan Indonesia pecah,‚€Ě tuturnya. Hasil riset itu antara lain dimuat di Journal for Democracy edisi Oktober 2000 berjudul ‚€œIndonesia Challenge of Changes‚€Ě.

Ketika kembali ke Tanah Air sekitar Juli 1999, majalah Tempo sudah terbit kembali. Ia kemudian dipercaya untuk menggantikan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin redaksi.

Kasus gugatan pengusaha Tomy Winata terhadap pemberitaan majalah Tempo edisi 3-9 Maret 2003, telah melambungkan namanya. Pemberitaan berjudul ‚€œAda Tomy di Tenabang?‚€Ě itu sendiri berbuntut penggerudukan oleh pendukung Tomy Winata ke kantor Tempo di Jalan Proklamasi 72. Ketika membicarakan kasus ini di kantor Polres Jakarta Pusat, BHM sendiri sempat ditonjok perut dan dipukul kepalanya oleh David, salah seorang anak buah Winata.

Kasus Tomy versus Tempo akhirnya masuk ke pengadilan, dengan dakwaan pencemaran nama baik dan menyiarkan berita bohong. Hari-harinya pun sangat padat dengan seabrek aktivitas, termasuk melayani wawancara wartawan dalam dan luar negeri, dari media cetak maupun elektronik; juga menemui sejumlah tokoh penting yang menyampaikan dukungan.

Dalam persidangan 16 Agustus 2004, BHM membacakan pleidoi atau nota pembelaan berjudul "Wartawan Menggugat". Pada kesempatan itu BHM melontarkan pertanyaan apakah seorang wartawan yang menjalankan profesinya seperti diamanatkan UU yang berlaku, dan menerbitkan karyanya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik, yang ditetapkan UU, adalah seorang kriminal?

Majelis hakim PN Jakarta Pusat yang menggunakan KUHP untuk mengadilan kasus ini, pada 16 September 2004, akhirnya memvonis BHM satu tahun penjara; lebih ringan daripada tuntutan jaksa. Pihak Tempo mengajukan banding. Pada April 2005 Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan vonis PN Jakarta Pusat.

Saat ini, di kelompok PT Tempo Inti Media, BHM menjabat corporate editor selain masih memegang jabatan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Sedangkan pemimpin redaksi Koran Tempo dipegang oleh Toriq Hadad. (Feby Indirani - PDAT/Berbagai Sumber)

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


BINTORO TJOKROAMIDJOJO | BINTARI RUKMONO | BENYAMIN SUEB | BENNY MOELJONO | BENJAMIN SOENARKO | BENJAMIN ARMAN SURIADJAYA | BASUKI ABDULLAH (RADEN BASOEKI ABDULLAH) | BANA GOERBANA KARTASASMITA | BAMBANG ISMAWAN | BAMBANG HIDAYAT | BAMBANG HERMANTO ALIAS HERMAN CITROKUSUMO | BAKIR HASAN | BAHARUDDIN LOPA | BAGONG KUSSUDIARDJO | BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE | BUSTANIL ARIFIN | BUDI SANTOSO | BUDI DARMA | BUDI BRASALI (LIE TOAN HONG) | BUBY CHEN | B.R.A. MOORYATI SOEDIBYO HADININGRAT | BOY MARDJONO REKSODIPUTRO | BONDAN WINARNO | BOEDIHARDJO Sastrohadiwirjo | BOEDI SIDI DARMA | BOB SADINO | BOB RUSLI EFENDI NASUTION | BOB HASAN | BISUK SIAHAAN | BISMAR SIREGAR | Bakdi Soemanto | Bambang Kesowo | Bambang W. Soeharto | Bambang Widjojanto | Benjamin Mangkoedilaga | Bernard Kent Sondakh | Bima Sakti | Bimantoro | Bing Rahardja | Biyan Wanaatmadja | Blasius Sudarsono | Bob Tutupoly | Boyke Dian Nugraha | Bre Redana | Budi P. Ramli | Budiman Sudjatmiko | Butet Kartaredjasa | Bambang Harymurti | Boediono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq