A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Dadang Hawari




Nama :
Dadang Hawari

Lahir :
Pekalongan, Jawa Tengah, 16 Juni 1940

Agama :
Islam

Pendidikan :
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (dokter umum, 1965)
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (dokter ahli jiwa/psikiater, 1969)
- Fakultas Pascasarjana UI (doktor, 1990)


Karir :
- Dosen FK UI (1969-sekarang)
- Kepala Kesehatan Jiwa DKK-DKI (1972-1975)
- Kepala Proyek Integrasi Kesehatan Jiwa di Puskesmas DKI (1973-1975)
- Direksi Rumah Sakit Islam Jakarta (1972-1978)
- Pembantu Dekan III FKUI (1977-1979)
- Pembantu Rektor III UI (1979-1982)
- Guru Besar Tetap FKUI (1993-sekarang)
- Staf Ahli Bidang Narkotika BAKOLAK INPRES 6/71 (1993-2000)
- Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional Depkes RI (1994-1997)
- Tim Ahli DPR RI Komisi VI-VII-VIII (1995-1998)
- Drug Expert Colombo Plan (1995-sekarang)
- Staf Ahli Badan Koordinasi Narkotika Nasional (2000-sekarang)


Kegiatan Lain :
- Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (1966-1969)
- Ketua Bidang Pendidikan Ikatan Dokter Indonesia (1977-1980)
- Ketua Umum Perhimpunan Neurologi, Psikiatri, dan Neuro-Chirurgi Pusat (1980-1984)
- Ketua Umum Ikatan Dokter Ahli Jiwa Pusat (1988-1992, 1992-1997)
- Presiden ASEAN Federation for Psychiatry and Mental Health (1993-1995)
- Anggota Pleno MUI Pusat (1995-2000)


Karya :
Buku :
- Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif (1991)
- Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa Indonesia Menyonsong Hari Esok (1993)
- Konsep Islam Memerangi AIDS dan NAZA (1995)
- Doa dan Zikir sebagai Pelengkap Terapi Medis (2001)
- Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia (2001)
- Manajemen Stres, Cemas dan Depresi (2001)
- Konsep Agama Islam Menanggulagi NAZA (2001)


Penghargaan :
- Medika Award (majalah Kedokteran dan Farmasi 1979) - M.H. Thamrin International Hospital Award 2001 - Bakti Ekatama Award dari PKBI 2002

Keluarga :
Ayah : Letkol (Purn) K.H. Iskandar Idries (almarhum) Ibu : Hj. St. Aisyah Istri : Hj. Ernie Hawari Anak : 1. Hanief Hawari 2. Irawati Hawari 3. Ivonny Hawari

Alamat Rumah :
Tebet Mas Indah E-5, Jalan Tebet Barat I, Jakarta 12810 Telepon 8298885, 8299857

 

Dadang Hawari


Ketika melakukan terapi dan pelayanan kesehatan jiwa kepada pasien, Dadang Hawari tidak hanya memberikan resep, tapi juga doa. Dalam ceramah-ceramahnya pun, penulis buku Doa dan Zikir sebagai Pelengkap Terapi Medis ini kerap memasukkan satu dua ayat Alquran. Karena itu Dadang Hawari mendapat julukan ustad psikiater. Bahkan juga ada yang memanggilnya kiai, namun guru besar Fakultas Kedokteran UI ini menerimanya dengan agak sungkan. €œPanggil saja dokter Dadang. Karena, saya merasa belum apa-apa, dan bukan keluaran pesantren,€ ujarnya.

Perpaduan psikiatri dan agama, menurut Dadang, sudah menjadi tren di dunia. Di Asosiasi Psikiater Amerika ada sesi khusus, religion in psychiatry, yang pembahasannya melibatkan seluruh agama. €œSehingga psikiater itu perlu memahami semua agama, karena pasien dari berbagai agama,€ ujarnya. Menurut Dadang, penelitian di Amerika menunjukkan hampir 80 persen pasien minta bantuan doa dari dokter.

Cuma di sini, metode Dadang kadang dianggap aneh. Dalam bukunya Doa dan Zikir sebagai Pelengkap Terapi Medis, ia memasukkan aspek kejiwaan secara umum dan detail, dan merujuknya berdasarkan Alquran dan hadist. Lalu ada yang mempertanyakannya. €œMalah ada yang menyurati bahwa saya tidak berwenang menggunakan ayat-ayat Alquran, dan menyuruh agar buku itu ditarik,€ kata lelaki kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, itu. Padahal buku ini sudah mengalami 11 kali cetak ulang.

Lahir sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, ia dibesarkan dalam keluarga dai. Ayahnya, Iskandar Idries, bekerja sebagai mubalig di Pekalongan, setelah ia pensiun dari dinas ketentaraan dengan pangkat terakhir letnan kolonel (1955).

Sempat bercita-cita jadi pilot dan sering membuat kapal terbang dari pelepah pisang, tapi ia kemudian ingin menjadi dokter. Itu karena saran ayahnya yang memberikan dua alternatif: insinyur atau dokter. Dari pengalamannya mengungsi secara berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain semasa perang, ia melihat banyak orang sakit dan mereka memerlukan dokter. €œSetelah itu saya giat belajar agar dapat memenuhi cita-cita tersebut,€ ujar Dadang.

Lulus SMA di Jakarta, Dadang diterima sebagai mahasiswa ikatan dinas di Fakultas Kedokteran UI. €œSaya dapat ikatan dinas sebesar Rp 500 sebulan dan buku gratis. Dari situ saya bisa menghidupi diri saya,€ tutur mantan aktivis mahasiswa ini. Lulus sebagai dokter umum, 1965, ia mengambil spesialisasi psikiater dan meneruskan studi lanjutan di bidang psikiatri sosial selama satu tahun lewat Rencana Colombo.

Selesai studi lanjutan itu, ia sering turun ke masyarakat dan mulai tertarik pada narkotika. Untuk S3 ia mengambil bidang tersebut. Lewat disertasinya yang berjudul Pendekatan Psikiatris Klinis pada Penyalahgunaan Zat, ia meraih gelar doktor dengan predikat cum laude, 1990. Jadilah ia orang pertama bergelar dokter bidang narkotika.

Disertasinya itu sempat menimbulkan heboh. Di sana ia menulis bahwa pengguna narkotika meningkat 17 kali lipat antara 1975 dan 1985. Begitu esoknya jadi headline surat kabar, kenangnya, €œSaya ditegur dan diinterogasi oleh pihak yang terkait.€ Tapi setelah ia jelaskan dengan data-data akurat, Dadang malah dijadikan staf ahli di Badan Koordinasi Narkotika Nasional. Sejak 1993, ia guru besar tetap pada almamaternya.

Sebagai dokter yang lama berkecimpung dengan pengobatan korban narkoba, ia berpendapat bahwa moral bangsa sudah dihancurkan oleh narkoba, judi, dan korupsi. Cara pencegahannya: €œBerobat dan bertobat. Berobat mematikan racun yang masuk, bertobat membetulkan mental dan perilaku,€ katanya.

Menikah dengan Ernie Hawari, pada 14 Februari 1965, dan dirayakan pada 30 September 1965, Dadang dikaruniai empat anak. Sekarang selain praktik di rumahnya di daerah Tebet Barat, Jakarta Selatan, ia masih menyempatkan diri menulis buku, menghadiri seminar-seminar tentang narkoba, AIDS, dan kesehatan jiwa, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia juga mengisi acara televisi. Hobinya jalan-jalan untuk cuci mata bersama keluarga.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


Da'i Bachtiar | DALI SANTUN NAGA | DALI SOFARI | DANARSIH HADI SANTOSO | DANARTO | DANIEL ARIEF BUDIMAN | DAOED JOESOEF | DARMANTO JATMAN | DAVID NAPITUPULU | DEDE ERI SUPRIA | DELIAR Noer | DELMA JUZAR | DEMIN SHEN | DENNY BASKAR BESTARET | DEWI MOTIK PRAMONO | DHANNY IRAWAN RONODIPURO | DIAH KOMALAWATI ISKANDAR | DIAH PRAMANA RACHMAWATI SOEKARNO | DIANA WUISAN | DICK GELAEL | DICK HARTOKO | DIDIH WIDJAJAKUSUMAH | DJALI AHIMSA | DJAROT DJOJOKUSUMO | DJAUHAR ZAHRSYAH FACHRUDIN ROESLI (HARRY ROESLI) | DJOENAEDI JOESOEF (Joe Djioe Liang) | DJUHRI MASDJAN (DJODJON) | DJUKARDI ODANG | DJUNAEDI HADISUMARTO | DODDY AKHDIAT TISNAAMIDJAJA | DOMPY PIETER GEDOAN | DONALD DJATUNAS PANDIANGAN | DORODJATUN KUNTJORO-JAKTI | Dadang Hawari | Dady P. Rachmananta | Da'i Bachtiar | Daoed Joesoef | Darmanto Jatman | Dawam Rahardjo | Deddy Corbuzier | Dendy Sugono | Dewi Lestari/Dee | Diah Nurwitasari | Dian Nitami | Dian Sastrowardoyo | Didik J. Rachbini | Dimyati Hartono | Dwi Koen | Dorothea Rosa Herliany | Dorodjatun | Djoko Pekik | Djisman Simandjuntak | Djaduk Ferianto | Dita Indah Sari


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq