A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Daoed Joesoef




Nama :
Daoed Joesoef

Lahir :
Medan, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926

Agama :
Islam

Pendidikan :
- Fakultas Ekonomi UI (1959)
- Doctorat de l'Universite (doktor untuk ilmu hubungan internasional dan keuangan internasional) dan Doctorat d'Etat (doktor untuk ilmu ekonomi) di Universite Pluri-disciplinaire de Paris I, Pantheon-Sorbonne (1972)


Karir :
- Bergabung dengan TNI sebagai Letnan Muda Divisi IV Sumatera Timur (1946)
- Letnan Muda di Komando Militer Kota Besar Jakarta Raya (1950-1952)
- Staf akademis Fakultas Ekonomi UI (1954-1963)
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983)
- Anggota DPA (1983-1988)
- Ketua Dewan Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS; 1972-1998)


Kegiatan Lain :
Ketua Seniman Indonesia Muda (1946-1947)

Karya :
Negara Antah Berantah

Penghargaan :
- Bintang Satya Lencana Gwidya Sistha dari TNI-AL (1981) - Bintang Mahaputra Adi Pradana (1982) - Penghargaan dari Rumah Sakit Umum Pusat dr Sardjito (1990)

Keluarga :
Ayah : Moehammad Joesoef Ibu : Siti Jasiah Istri : Sri Sulastri Anak : Sri Sulaksmi Damayanti

Alamat Rumah :
Jalan Bangka VII Dalam No.14, Jakarta Selatan

 

Daoed Joesoef


Buta huruf Latin, pasangan Moehammad Joesoef dan Siti Jasiah hanya bisa baca-tulis Arab. Namun orangtua Daoed Joesoef ini sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Masuk sekolah dasar Melayu lima tahun di kota kelahirannya, Medan, Daoed selanjutnya mengikuti sekolah dasar peralihan yang dibuka oleh Kesultanan Deli. Sehingga, anak keempat dari lima bersaudara itu bisa masuk ke HIS‚€”sekolah dasar Belanda untuk pribumi. Ini memungkinkannya melanjutkan ke MULO.

Di masa revolusi fisik, pemerintah Indonesia membuka SMA. Tapi ia memilih kelas petang, karena di pagi hari ia harus membantu di kantor pemerintah. ‚€œNah, saya akhirnya memilih masuk militer, akademi militer,‚€Ě ujarnya. Terpilih sebagai sepuluh terbaik di akademi militer itu, Daoed dikirim ke Jawa, dan SMA-nya tidak diteruskan. Sampai di Yogyakarta, ia terpengaruh oleh suasana intelektual di Kota Pelajar itu. Ini mendorongnya melanjutkan SMA-nya yang terbengkalai ‚€“ sekalipun dengan biaya sendiri. Ternyata Markas Besar TNI mengizinkannya.

Untuk membiayai hidupnya, Daoed sepulang sekolah bekerja sebagai tukang kapur toko-toko di Jalan Malioboro. Minatnya membaca buku sudah berkobar sejak itu. Tapi ia tak punya uang yang cukup untuk membelinya. Apa akal? Sebelum ke dan sekembali dari sekolah, ia mampir dulu ke sebuah toko buku bekas. Ia menyapu dan membersihkan Toko Buku Nasution itu setiap pagi dan malam, dan sebagai imbalannya ia dibolehkan membaca sembarang buku dengan cuma-cuma. ‚€œDari situ saya dapat banyak pengetahuan,‚€Ě tutur si kutu buku.

Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, Daoed mempunyai cara perlawanannya sendiri. Ia membuat poster penolakan uang NICA (1948) dan tertangkap tangan. Ditahan di sebuah rumah dekat kantor pos, malamnya ia disuruh naik truk untuk dibawa pergi entah ke mana. ‚€œInsting saya mengatakan malam itu pasti saya akan ditembak mati,‚€Ě paparnya. Daripada mati konyol, saat mobil membelok di tikungan, Daoed membuka terpal penutup mobil dan melompat. Ia lalu masuk hutan dan selamat, kemudian menyelusup ke Jakarta. ‚€œKerjaan saya di Jakarta jadi ilustrator di (penerbit) Pustaka Rakyat milik Sutan Takdir Alisjahbana,‚€Ě kenangnya.

Namun semangat belajar Daoed tak pernah surut. Masih di Jakarta, ia masuk Fakultas Ekonomi UI. Selesai 1959, ia menjadi dosen di almamaternya. Dengan beasiswa dari Ford Foundation, Daoed studi ke Paris, Prancis, untuk menggondol gelar Doctorat de l'Universite (doktor untuk ilmu hubungan internasional dan keuangan internasional) dan Doctorat d'Etat (doktor untuk ilmu ekonomi) di Universite Pluri-disciplinaire de Paris I, Pantheon-Sorbonne (1972).

Sewaktu di Prancis itulah, pria yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis ini kerap mengadakan diskusi tentang ekonomi dan politik Tanah Air. Pulang dari Prancis, 1971, klub diskusi dilembagakan menjadi Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan Daoed diangkat sebagai ketua dewan direksi. Di lembaga itu, ia mendapat banyak hal berkesan, seperti bisa saling membagi pengetahuan di antara sesama anggota CSIS.

Sambil memimpin CSIS, pada 1978 Daoed menerima penugasan dari Presiden Soeharto sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat inilah ia mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus‚€”kebijakan yang melarang mahasiswa berpolitik praktis‚€”yang paling banyak menimbulkan perdebatan.

Menikah pada 1958 dengan Sri Sulastri‚€”bekas teman SMA di Yogyakarta‚€”Daoed ayah satu anak, Sri Sulaksmi Damayanti. Sri kini doktor bidang mikrobiologi.

Di hari tuanya kini, ia suka mengantar dan menjemput cucunya ke dan dari sekolah. Selain itu, katanya, ‚€œSaya juga melukis, berkebun, dan membereskan yang belum tertata.‚€Ě Walau begitu, ia masih sempat mengikuti perkembangan politik nasional dan masih sering ikut seminar. Di rumahnya yang asri di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, yang penuh pohon rindang dan beraneka bunga, ada perpustakaan khusus buat anak, istri, dan Daoed Joesoef sendiri.

Daoed pengidap sakit jantung karoner. Maka demi kesehatannya, sesuai dengan anjuran dokter, ia selalu minum segelas air putih di pagi hari sebelum sarapan, dan tak lupa jalan kaki. Meneladani kebiasaan baik Bung Hatta ‚€“tokoh yang dikaguminya-- penggemar sayur daun singkong ini tidak merokok. ‚€œDia tidak merokok dan saya ikuti jalan hidup dia,‚€Ě katanya.

Daoed pernah menulis novel berjudul Negara Antah Berantah. Namun ada satu obsesinya yang belum terwujud: menulis buku kenangan tentang sosok ibunya, yang akan dijuduli Emak.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


Da'i Bachtiar | DALI SANTUN NAGA | DALI SOFARI | DANARSIH HADI SANTOSO | DANARTO | DANIEL ARIEF BUDIMAN | DAOED JOESOEF | DARMANTO JATMAN | DAVID NAPITUPULU | DEDE ERI SUPRIA | DELIAR Noer | DELMA JUZAR | DEMIN SHEN | DENNY BASKAR BESTARET | DEWI MOTIK PRAMONO | DHANNY IRAWAN RONODIPURO | DIAH KOMALAWATI ISKANDAR | DIAH PRAMANA RACHMAWATI SOEKARNO | DIANA WUISAN | DICK GELAEL | DICK HARTOKO | DIDIH WIDJAJAKUSUMAH | DJALI AHIMSA | DJAROT DJOJOKUSUMO | DJAUHAR ZAHRSYAH FACHRUDIN ROESLI (HARRY ROESLI) | DJOENAEDI JOESOEF (Joe Djioe Liang) | DJUHRI MASDJAN (DJODJON) | DJUKARDI ODANG | DJUNAEDI HADISUMARTO | DODDY AKHDIAT TISNAAMIDJAJA | DOMPY PIETER GEDOAN | DONALD DJATUNAS PANDIANGAN | DORODJATUN KUNTJORO-JAKTI | Dadang Hawari | Dady P. Rachmananta | Da'i Bachtiar | Daoed Joesoef | Darmanto Jatman | Dawam Rahardjo | Deddy Corbuzier | Dendy Sugono | Dewi Lestari/Dee | Diah Nurwitasari | Dian Nitami | Dian Sastrowardoyo | Didik J. Rachbini | Dimyati Hartono | Dwi Koen | Dorothea Rosa Herliany | Dorodjatun | Djoko Pekik | Djisman Simandjuntak | Djaduk Ferianto | Dita Indah Sari


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq