A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Djaduk Ferianto




Nama :
Djaduk Ferianto

Lahir :
Yogyakarta, 19 Juli 1964

Agama :
Islam

Pendidikan :
Jebolan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

Karir :
Mencipta komposisi musik sejak 1982; Karyanya antara lain:
- Unen-unen (1982)
- Gema Nusantara (1984)
- Musik untuk Sea Games (1987)
- Musik Tari ASEAN Dancers Festival, Jakarta (1989)
- Voice of Borneo (1990)
- Musik tari “Aku�, Indonesia Dance Festival, Jakarta (1992)
- Musik Drama “Pak Kanjeng�
- Musik “Mimpi di Tanah Jawa� ( Prancis)
- Musik Sinetron “Alang-alang" (Teguh Karya)
- Musik sinetron “Saur Sepuh�
- Musik Sinetron “Soero Buldog� (Slamet Rahardjo)
- Musik Opera “Rama Sinta� (N. Riantiarno)
- Musik Tari “Harkitnas�, Jakarta, (1994)
- Musik Film “Cemeng 2005, The Last Primadona� (N. Riantiarno)
- Komposisi “Kua Etnika�, RCTI Jakarta
- Musik Kenduri Nasional, di Monas
- Musik Film Dokumenter “Dongeng Kancil (Garin Nugroho), (1995)
- Musik “Bayangkara Emas� HUT Polri ke-50
- Musik Tari “Gunung Segoro & Bandawala Pati�
- SEAN Dance Festival, Musik Pembukaan PON ke-14 (1996)
- Musik Film “Daun di Atas Bantal� (Garin Nugroho)
- Musik Tari “Gandrung Blambangan� (Dedy Luthan), (1997)
- Musik Film “Telegram� (Slamet Rahardja)
- Musik “Opera Anoman� (N. Riantiarno & Adhie MS)
- Musik Monolog “Lidah (Masih) Pingsan� Butet Kartaredjasa (1998)
- Musik Teater Gandrik “Brigade Maling� di Melbourne, Australia
- Konser Musik “Ethnovaganza� (1999)
- Konser Musik “Ritus Swara"
- Musik sinetron “Borobudur� (2000)
- Musik Monolog “Ciganjur III ½�
- Ilustrasi Musik Film “Marsinah�
- Konser Musik “Unen-unen�
- Konser Musik Dangdut Alternatif di Hard Rock Cafe bersama Iis Dahlia (2001)


Penghargaan :
- Meraih Kreativitas terbaik dalam Festival Akustik se-Jawa Tengah dan DIY (1982) - Nomine Festival Sinetron 1996, sebagai penata musik terbaik “Di Balik Pusaran Awan�

Keluarga :
Ayah : Bagong Kussudiardjo Istri : Petra

Alamat Rumah :
Desa Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta HP 0811269186

 

Djaduk Ferianto


TERLAHIR dengan nama Guritno, pemberian pamannya, bungsu anak Bagong Kussudiardjo ini sakit-sakitan sampai tahun 1974. Menurut para orang tua zaman itu, si bocah keberatan nama. Maka, oleh ayahnya, digantilah namanya dengan Djaduk—yang artinya unggul—karena sang ayah kagum pada temannya bernama Djaduk Setiawan. “Setelah nama itu kusandang, sakit yang dulu sering menghinggapi tidak mampir lagi,� tutur Djaduk, komposer musik eksperimen.

Setiap kali masuk rumah sakit, ia selalu ditemani radio yang sering menyiarkan pertunjukan wayang. Tak lupa buku cerita wayang selalu ada di sampingnya. “Kemudian saya bercita-cita jadi dalang, bahkan sempat belajar mendalang,� ujarnya. Tetapi ketertarikan terhadap musik lebih besar.

Lingkungan masa kanak-kanaknya di Tedjakusuman, Yogyakarta, yang kental dengan kesenian, sangat mendukung karirnya di bidang musik, juga teater. Apalagi di tubuhnya mengalir darah seni dari ayahnya, seorang koreografer kenamaan. Bagong sendiri termasuk keturunan bangsawan kesultanan Yogyakarta, Tedjakusuma, sesepuh tari Jawa.

Mulai 1972, Djaduk mulai serius menekuni bidang kesenian. Ketika ayahnya mulai mengadakan repertoar-repertoar, pada 1970-an, “Saya sering mengikutinya, baik sebagai penari maupun sebagai penabuh gendang mengiringi tarian,� tutur Djaduk. Baginya, suara kendang itu begitu menarik. Keingintahuan dan ketertarikannya semakin kuat. Di rumah pun, ia sering memainkan kendang, bereksperimen dengan alat-alat lain. Sampai-sampai ayahnya marah karena mengganggu tidurnya. “Sering saya dilempari sandal oleh bapak,� kenangnya.

Suatu ketika, adik kandung 'raja monolog' Butet Kartaredjasa ini dipercaya ayahnya mengiringi pergelaran tari. Dan, dipercaya pula membuat musiknya. Pada 1976, ia bereksperimen lewat musik dan ikut mendirikan kelompok Rheze, yang kemudian mendapat juara I Lomba Musik Humor tingkat nasional. Ikut dalam proses pembuatan musik untuk Festival Film Indonesia 1984 dan Pekan Tari Muda VI Dewan Kesenian Jakarta.

Ia banyak belajar soal musik dan film dengan Teguh Karya dan Arifin C. Noer. Adapun olah pernapasan dalam memainkan alat musik tiup, ia pelajari di Jepang. Kemudian ia belajar musik di New York. Walau belum tercapai cita-citanya jadi dalang, Djaduk merasa menjadi dalang di dunia nyata. “Saya ingin memberi sumbangsih kesenian yang layak diterima rakyat dan bangsa Indonesia,� ungkap pendiri Yogya Heritage. Ini organisasi yang menaruh kepedulian terhadap Yogya, baik kesenian maupun masalah sosial, politik, dan ekonomi masyarakatnya.

Djaduk banyak mencipta musik, untuk ilustrasi musik film dan sinetron, jingle iklan, untuk teater, atau sejumlah event olahraga. Ia banyak mengikuti pementasan keliling, termasuk Jerman, Denmark, Swedia, Belanda, dan Turki.

Hobinya jalan-jalan ke pasar loak. “Ke mana pun saya pergi, saya selalu menanyakan di mana letak pasar loak,� kata Djaduk. Di pasar loak ia pernah mendapatkan terompet yang masih bagus dengan harga yang murah. Ketika di Amerika pun, “Saya membeli oleh-oleh di pasar loak,� ujar seniman berkumis berambut panjang ini.

Ia bertemu dengan perempuan, yang kini jadi istrinya, Petra, pada saat menjadi kontingen Indonesia di Olimpiade Seoul, Korea Selatan, 1988. Saat itu Djaduk memegang musik untuk pertunjukan kontingen Indonesia, dan Petra menjadi penyanyi. Setelah dari Seoul, Djaduk bekerja di Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari Jerman, Djaduk menikahi Petra. “Saya termasuk ayah yang demokratis. Saya tidak ingin memaksakan agama saya untuk anak,� kata Djaduk, yang istrinya beragama Kristen ini.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


Da'i Bachtiar | DALI SANTUN NAGA | DALI SOFARI | DANARSIH HADI SANTOSO | DANARTO | DANIEL ARIEF BUDIMAN | DAOED JOESOEF | DARMANTO JATMAN | DAVID NAPITUPULU | DEDE ERI SUPRIA | DELIAR Noer | DELMA JUZAR | DEMIN SHEN | DENNY BASKAR BESTARET | DEWI MOTIK PRAMONO | DHANNY IRAWAN RONODIPURO | DIAH KOMALAWATI ISKANDAR | DIAH PRAMANA RACHMAWATI SOEKARNO | DIANA WUISAN | DICK GELAEL | DICK HARTOKO | DIDIH WIDJAJAKUSUMAH | DJALI AHIMSA | DJAROT DJOJOKUSUMO | DJAUHAR ZAHRSYAH FACHRUDIN ROESLI (HARRY ROESLI) | DJOENAEDI JOESOEF (Joe Djioe Liang) | DJUHRI MASDJAN (DJODJON) | DJUKARDI ODANG | DJUNAEDI HADISUMARTO | DODDY AKHDIAT TISNAAMIDJAJA | DOMPY PIETER GEDOAN | DONALD DJATUNAS PANDIANGAN | DORODJATUN KUNTJORO-JAKTI | Dadang Hawari | Dady P. Rachmananta | Da'i Bachtiar | Daoed Joesoef | Darmanto Jatman | Dawam Rahardjo | Deddy Corbuzier | Dendy Sugono | Dewi Lestari/Dee | Diah Nurwitasari | Dian Nitami | Dian Sastrowardoyo | Didik J. Rachbini | Dimyati Hartono | Dwi Koen | Dorothea Rosa Herliany | Dorodjatun | Djoko Pekik | Djisman Simandjuntak | Djaduk Ferianto | Dita Indah Sari


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq