A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Djoko Pekik




Nama :
Djoko Pekik

Lahir :
Grobogan, Purwadadi, Jawa Tengah, 2 Januari 1937

Agama :
Islam

Pendidikan :
-Sekolah Rakyat di Purwodadi, Jawa Tengah (hanya sampai kelas tiga)
-Akademi Seni Rupa Indonesia (1962)


Karir :
Pelukis, berpameran di dalam dan luar negeri

Keluarga :
Ayah : Kartodikromo Gariman Ibu : Sinem Istri : C.H. Tini Purwaningsih Anak : 1. Gogor Bangsa 2. Loko Nusa 3. Lugut Lateng 4. Nihil Pakuril 5. Ri Kemarung 6. Sengat Cantang 7. Layung Sore 8. Parang Wungu

Alamat Rumah :
Jalan R.E. Martadinata 38, Yogyakarta 517723, Dusun Sembungan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, DIY

 

Djoko Pekik


DJOKO Pekik mendapat julukan pelukis satu miliar. Itu karena lukisannya, Indonesia 1998 Berburu Celeng , terjual seharga Rp 1 miliar dalam satu pameran di Yogyakarta, 1999. Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan trilogi. Di antara 300 lukisan karya perupa kerempeng itu, trilogi ini paling berkesan baginya.

Lalu makmurkah sang pelukis beraliran realis-ekspresionis? Sebelum trilogi Celeng, Djoko sudah terbilang kaya, ketimbang tahun-tahun sebelumnya -- yang penuh penderitaan, baik dalam masa tahanan maupun selepas dari penjara Orde Baru. Kini ia menempati rumah yang ‚€œmenyatu‚€Ě dengan alam, dengan tiga bangunan bertingkat yang besar, lengkap dengan ruang gamelan pribadi dan umum, ruang keluarga, galeri, dan studio.

Dengan demikian, cita-citanya waktu kecil -- ingin jadi lurah kaya dan punya gamelan -- sudah setengah terkabul. Walau tak jadi lurah, ia sudah dapat membeli dua perangkat gamelan. Namun penampilannya sendiri sederhana, senang menggunakan kaus putih dan celana komprang, dan buntut rambut yang dikepang rapi.

Djoko Pekik‚€”yang artinya pemuda tampan‚€”sebenarnya tak mewarisi darah seni dari orangtuanya. Senang melukis sejak kecil, ia sendiri menyebut dirinya berbakat kesasar. Ayah dan ibunya petani, yang buta huruf dan tinggal di tengah hutan jati di daerah Purwodadi, Jawa Tengah.

Djoko kecil juga senang bermain sandiwara. Ketika memerankan tokoh Kelenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut, ia menggambar sendiri pakaian tokoh yang dimainkannya. Tak lulus SD dan pendidikan menengah, bungsu dari 12 bersaudara ini‚€”sembilan saudaranya buta huruf‚€”melanjutkan sekolah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962. ‚€œKematangan saya dalam seni lukis bukan di ASRI tapi di Sanggar Bumi Tarung. Karena di ASRI saya anggap hanya belajar teknik melukis,‚€Ě ujarnya.

Sanggar Bumi Tarung (diutak-atik dari kata buruh dan tani) merupakan sanggar seniman yang anggota-anggotanya berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonsia (PKI). ‚€œSaya banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan ketika di Sanggar Bumi Tarung,‚€Ě tutur Djoko yang kini hidup hanya dari melukis itu.

‚€œTahun 1964, saya sudah menjadi pelukis terkenal,‚€Ě kata Djoko. Peristiwa G30S 1965, yang membuat PKI tertuding sebagai pelakunya, mengakibatkan banyak kader PKI dan ormas-ormasnya, termasuk Lekra, ditangkap dan dipenjarakan. Djoko sendiri ditahan dari 8 November 1965 sampai 1972 di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. ‚€œSelama di penjara, saya vakum melukis,‚€Ě katanya. Ia merasa masih beruntung tidak mati karena kelaparan dan siksaan, sampai kupingnya agak budek karena sering dipukul dengan popor senjata. Selepas dari penjara, bahkan sampai 1990, ia masih dikucilkan oleh saudara, tetangga, dan sesama seniman yang berhaluan lain.

Menikah dengan C.H. Tini Purwaningsih pada 1970, saat masih berstatus tahanan kota, kini Djoko ayah delapan anak. Dengan istrinya, ia terpaut usia 14 tahun. Mereka bertemu di Kampus ASRI, karena Tini tetangga kampus yang sering bertandang ke ASRI. Setelah menikah, 1970-1987, untuk menyambung hidup, Djoko menjadi tukang jahit, membuat kemeja, jas, celana panjang. Tapi profesi ini tak membuat kehidupan ekonomi keluarganya mantap. ‚€œTidak setiap hari saya mendapat orderan, hanya kadang-kadang,‚€Ě ujarnya.

Nasib baik akhirnya datang juga. Karya-karya suatu ketika dijadikan bahan penelitian untuk disertasi pelukis Astari Rasyid, yang kemudian dibaca oleh kenalan-kenalannya dari luar negeri. Pada 1989, Djoko diikutkan berpameran di Amerika, yang diprotes banyak seniman Indonesia -- karena status tahanan politiknya. Beritanya masuk koran dan majalah, hal itu justru membuatnya makin terkenal. ‚€œOrang-orang baru menyadari ternyata ada pelukis yang namanya Djoko Pekik,‚€Ě tuturnya.

Sejak itulah para kolektor memburu lukisannya. Sampai suatu ketika ia tak mau menjualnya lagi, karena tamu-tamunya dapat setiap saat melihat dan mengaguminya. ‚€œKalau enggak ada karya, berarti saya miskin. Itulah sebabnya mengapa karya-karya ini saya tahan, tidak dijual,‚€Ě katanya.

Lukisannya oleh banyak kalangan pengamat dinilai berbeda antara satu dan lainnya. Padahal, ia sendiri mengaku bahwa teknik lukisnya dari dulu sampai sekarang, ya, begitu-begitu saja. ‚€œSaya ini orang yang ketinggalan, orang yang bodoh, orang yang tidak bisa memiliki teknik melukis yang luar biasa,‚€Ě katanya merendah. ‚€œJadi, saya tidak berbangga dari yang lain.‚€Ě

Karena kepahitan yang pernah dialaminya sebagai pelukis, Djoko tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi pelukis. Selain itu, ia merasa kalau seorang ayah pelukis, bila anak-anaknya juga jadi pelukis, mereka tak akan mampu melebihi sang ayah.

Djoko gemar membenahi sendiri rumah, taman dan binatang peliharaannya.


Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


Da'i Bachtiar | DALI SANTUN NAGA | DALI SOFARI | DANARSIH HADI SANTOSO | DANARTO | DANIEL ARIEF BUDIMAN | DAOED JOESOEF | DARMANTO JATMAN | DAVID NAPITUPULU | DEDE ERI SUPRIA | DELIAR Noer | DELMA JUZAR | DEMIN SHEN | DENNY BASKAR BESTARET | DEWI MOTIK PRAMONO | DHANNY IRAWAN RONODIPURO | DIAH KOMALAWATI ISKANDAR | DIAH PRAMANA RACHMAWATI SOEKARNO | DIANA WUISAN | DICK GELAEL | DICK HARTOKO | DIDIH WIDJAJAKUSUMAH | DJALI AHIMSA | DJAROT DJOJOKUSUMO | DJAUHAR ZAHRSYAH FACHRUDIN ROESLI (HARRY ROESLI) | DJOENAEDI JOESOEF (Joe Djioe Liang) | DJUHRI MASDJAN (DJODJON) | DJUKARDI ODANG | DJUNAEDI HADISUMARTO | DODDY AKHDIAT TISNAAMIDJAJA | DOMPY PIETER GEDOAN | DONALD DJATUNAS PANDIANGAN | DORODJATUN KUNTJORO-JAKTI | Dadang Hawari | Dady P. Rachmananta | Da'i Bachtiar | Daoed Joesoef | Darmanto Jatman | Dawam Rahardjo | Deddy Corbuzier | Dendy Sugono | Dewi Lestari/Dee | Diah Nurwitasari | Dian Nitami | Dian Sastrowardoyo | Didik J. Rachbini | Dimyati Hartono | Dwi Koen | Dorothea Rosa Herliany | Dorodjatun | Djoko Pekik | Djisman Simandjuntak | Djaduk Ferianto | Dita Indah Sari


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq