A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

J.H. HUTASOIT




Nama :
J.H. HUTASOIT

Lahir :
Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 16 September 1925

Agama :
Protestan

Pendidikan :
- HIS, Tapanuli (1938)
- MULO, Tarutung (1942)
- SMA, Bogor (1947)
- Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor (1954)
- Doktor, Fakultas Kedokteran Hewan UI (1959)
- Animal Nutrition University of Florida, Gainsville, AS (1956- 1957)


Karir :
- Guru Besar IPB (1961-sekarang)
- Ketua Lembaga Afiliasi IPB (1963-1965)
- Dekan Fakultas Peternakan IPB (1963-1967)
- Ketua Presidium IPB (1966)
- Penjabat Rektor IPB (1967-1971)
- Ketua Konsorsium Ilmu Pertanian IPB (1968-1971)
- Dirjen Peternakan (1971-1982)
- Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan dan Perikanan (1983-sekarang)


Kegiatan Lain :
- Presiden Organization International Erizootic, Paris
- Ketua Komisi Produksi dan Kesehatan Ternak (APHCA), Bangkok, 1982


Alamat Rumah :
Jalan Widya Chandra 24, Perumahan Pejabat Tinggi Negara Gatot Subroto, Jakarta Pusat Telp.: 511260, 511287

Alamat Kantor :
Departemen Pertanian, Jalan Imam Bonjol 29, Jakarta Pusat Telp.: 337120

 

J.H. HUTASOIT


J.H. Hutasoit, kini Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan & Perikanan (UPPPP), kaget ketika suatu hari tahun 1959 didatangi perwira Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Ia pun bertambah kaget ketika sang perwira menyatakan bahwa ia dilarang membacakan disertasi promosi doktornya pada Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan UI, Bogor, sekitar seminggu kemudian. Mengapa?

Ternyata, dalam disertasi berjudul: Beberapa Penyelidikan mengenai Protein, Nilai Protein dan Asam Amino Esensial Berbagai Bahan Makanan Manusia dan Hewan Ternak di Indonesia itu, antara lain, disebutkan bahwa 20 kg singkong sama gizinya dengan 1/2 kg beras. Kesimpulan ilmiah Hutasoit ini rupanya kurang sesuai dengan isi kampanye penanaman singkong nasional Presiden Soekarno. Sebab, dalam tiap pidato penggalakan penanaman singkong, juru kampanye Bung Karno selalu menyatakan, jenis umbi-umbian itu mengandung nilai gizi yang tinggi.

"Saya bukan politikus, saya ilmuwan," kata Hotasoit saat itu. "Kalau hasil penelitian ilmiah ini memaksa saya harus masuk penjara, saya rela," tambahnya. Dengan penjelasan itu pembacaan disertasinya tidak jadi dilarang.

Cita-cita anak Desa Ribidang, Tapanuli Utara, ini sebenarnya ingin menjadi "dokter manusia". Tetapi, sebagai sulung dari delapan saudara, Jannes -- nama kecilnya -- tidak ingin menyusahkan orangtuanya. Akhirnya ia masuk ke Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan, Bogor. "Karena mendapat beasiswa," katanya.

Di universitas yang kemudian disebut Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pula karier Hutasoit berkembang. Sejak 1961, ia menjadi guru besar, dan kemudian penjabat rektor. Pada awal Orde Baru, ia mewakili cendekiawan Golkar di DPRD Kota Madya Bogor, lalu anggota MPRS. Bekas Dirjen Peternakan ini pernah 10 tahun, sampai 1982, menjabat Wakil Ketua Korpri Pusat sambil menjadi anggota MPR.Tahun pertama menduduki pos Menmud UPPPP, 1983, Hutasoit segera mengatasi masalah pokok pembangunan pertanian. Ia membenahi perunggasan lewat perusahaan inti rakyat (PIR) dengan dana Rp 14 milyar. Hutasoit juga melihat potensi kekayaan laut Indonesia di perairan seluas 6 juta km persegi, meliputi perairan Nusantara, teritorial, dan zone ekonomi eksklusif (ZEE). Tetapi karena kurang mampunya Indonesia di dalam modal dan teknologi, produksi perikanan kita sebelum berlakunya ZEE, baru mencapai 33,1% dari potensi lestari sumber perikanan yang ditaksir 6,1 juta ton per tahun. "Bandingkan dengan potensi Jepang yang lebih rendah, tetapi hasil tangkapannya mencapai 10,5 juta ton pada 1975," katanya.

Ahli makanan ternak yang pernah belajar di Universitas Florida, AS, ini menghasilkan sejumlah karya ilmiah. Ia juga sering menghadiri berbagai seminar dan konperensi di luar negeri. Hutasoit pernah menjadi Presiden Organization International Erizootic (OIE), yang berpusaat di Paris, dan sejak 1982 menjabat Ketua Komisi Produksi dan Kesehatan Ternak (APHCA), yang berkedudukan di Bangkok.

Asrul Sani adalah bekas teman kuliahnya. Dokter hewan yang memilih menjadi seniman itu pernah memuji lukisan Hutasoit. "Seharusnya kau kuliah di Akademi Seni Rupa," kata Asrul waktu itu. Hutasoit sendiri mengakui telah menghasilkan 70 lukisan, dan kini tinggal 20 buah saja yang masih disimpannya. "Habis diminta teman," katanya. Satu-satunya lukisan yang laku dijualnya Rp 6 juta, uangnya disumbangkan kepada Yayasan Gembala, pimpinan Nyonya Hutasoit.

Ayah lima anak ini menggemari musik klasik, terutama Mozart dan Beethoven. Keroncong? "Rasanya kurang ekspresif," kata pria yang melakukan senam, bulu tangkis, dan jalan kaki itu. Cara Hutasoit membaca buku terbilang aneh: setiap malam ia membaca sejumlah buku sekaligus -- beberapa lembar saja setiap judul -- yang kemudian dilemparkannya begitu saja. Istrinyalah -- yang juga cukup sibuk, di antaranya sebagai ketua umum Bank Mata -- yang esok paginya harus mengumpulkan dan menata kembali buku-buku itu.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


JUWONO SUDARSONO | J. SADIMAN | JACKSON ARIEF | JAILANI Naro | JAKOB OETAMA | JAKOB SUMARDJO | JAMES DANANDJAJA | JAMES T. RIADY | JAMIEN A. TAHIR | JANTO WONOSANTOSO | JAYA SUPRANA | JENNY MERCELINA LALOAN (LA ROSE) | JENNY ROSYENI RACHMAN | J.H. HUTASOIT | JIM ABIYASA SUPANGKAT SILAEN | JITZACH ALEXANDER SEREH | JOHANA SUNARTI NASUTION | JOHANNA MASDANI | JOHANNES Adriaan Arnoldus Rumeser | JOHANNES Baptista Sumarlin | JOHANNES Chrisos Tomus Simorangkir | JOHNNY WIDJAJA | JONI P. SOEBANDONO | JOSEPHUS ADISUBRATA | JUDHI KRISTIANTHO SUNARJO | JULIUS TAHIJA | JUSUF PANGLAYKIM (J.E. PANGESTU) | J. Kristiadi | J.B. Kristiadi | Jacob Nuwa Wea | Ja'far Umar Thalib | Jajang C. Noer | JAYA SUPRANA | Jim Supangkat | Joe Kamdani | Johnson Panjaitan | Joko Pinurbo | Jos Luhukay | Juan Felix Tampubolon | Jujur Prananto | Jusuf Kalla | Juwono Sudarsono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq